google-site-verification: googlec37f5abc404fa346.html MIN 1 PASURUAN

LAPORAN PENELITIAN Motivasi Penggunaan WhatsApp Status: Analisis Perilaku Digital Pengguna Dewasa

 

Peneliti: Tim Riset  
Tanggal: April 2026
Metode: Survei Kuantitatif Deskriptif
Total Responden: 78 Orang


1. RINGKASAN EKSEKUTIF

Penelitian ini menganalisis motivasi psikososial di balik penggunaan fitur WhatsApp Status. Berdasarkan polling terhadap 78 responden, ditemukan bahwa motivasi informatif (berbagi info) mendominasi dengan 41% responden, diikuti oleh kebutuhan ekspresi emosional (curhat) sebesar 14%. Temuan menarik menunjukkan bahwa meskipun media sosial sering dikaitkan dengan validasi sosial, motivasi eksplisit "ingin diamini" dan "ingin didengar" hanya mewakili porsi minoritas, mengindikasikan bahwa penggunaan Status lebih bersifat fungsional daripada narsistik pada sampel ini.


2. METODOLOGI

  • Desain Penelitian: Survei kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional
  • Teknik Pengambilan Sampel: Purposive sampling pada pengguna aktif WhatsApp
  • Instrumen: Kuesioner tertutup dengan kategori motivasi penggunaan Status
  • Analisis Data: Statistik deskriptif (frekuensi dan persentase)

3. HASIL PENELITIAN

Tabel Distribusi Motivasi Penggunaan WhatsApp Status

No

Kategori Motivasi

Frekuensi

Persentase

1

Berbagi Informasi

32

41,0%

2

Curhat (Ekspresi Emosional)

11

14,1%

3

Ingin Diamini Teman

9

11,5%

4

Konten Marketing/Promosi

8

10,3%

5

Menyindir (Komunikasi Tidak Langsung)

6

7,7%

6

Ingin Didengar

6

7,7%

7

Dakwah/Konten Religius

6

7,7%

Total

78

100%

Visualisasi Data (Representasi Tekstual)

Berbagi Info     ████████████████████████████████ 41%

Curhat           ████████████ 14%

Ingin Diamini    █████████ 12%

Marketing        ████████ 10%

Menyindir        ██████ 8%

Ingin Didengar   ██████ 8%

Dakwah           ██████ 8%


4. PEMBAHASAN DAN INTERPRETASI SENIOR RESEARCHER

4.1 Dominasi Fungsi Utilitarian (41%)

Tingginya persentase "Berbagi Info" mengonfirmasi bahwa WhatsApp Status telah berevolusi menjadi micro-broadcasting tool. Pengguna memposisikan Status sebagai kanal informasi efisien—mirip newsletter personal—untuk menyampaikan pengumuman, promo, atau konten edukatif tanpa mengganggu privasi chat langsung.

4.2 Ekspresi Emosional sebagai Katup Sosial (14,1% + 7,7% + 7,7%)

Kombinasi Curhat, Menyindir, dan Ingin Didengar (total ~30%) mencerminkan fungsi WhatsApp Status sebagai safe space untuk regulasi emosi. Fitur "hanya 24 jam" memberikan rasa aman psikologis: pengguna dapat mengekspresikan vulnerabilitas tanpa jejak digital permanen.

4.3 Validasi Sosial: Kebutuhan Tersembunyi

Meskipun hanya 11,5% yang secara eksplisit menyatakan "Ingin Diamini", kemungkinan besar kebutuhan validasi ini terdistribusi secara implisit dalam kategori Curhat dan Menyindir. Ini sesuai dengan teori Uses and Gratifications: pengguna media sosial mencari social affirmation, namun cenderung tidak mengakuinya secara sadar karena norma sosial.

4.4 Konten Religius dan Marketing: Niche yang Stabil

Porsi Dakwah (7,7%) dan Marketing (10,3%) menunjukkan segmentasi audiens yang jelas. Kedua kategori ini bersifat purpose-driven—pengguna dengan motivasi ini memiliki intent komunikasi yang terarah dan konsisten.


5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan Utama:

  1. WhatsApp Status berfungsi ganda: sebagai alat komunikasi fungsional (informasi/promosi) dan ruang ekspresi emosional.
  2. Motivasi eksplisit untuk validasi sosial lebih rendah dari perkiraan, namun kemungkinan besar termanifestasi secara implisit.
  3. Fitur ephemerality (24 jam) menjadi faktor kunci yang mendorong keberanian pengguna dalam berbagi konten personal.

Rekomendasi Praktis:

Untuk Pengguna Umum:

  • Sadari bahwa Status adalah ruang semi-publik; pertimbangkan audiens sebelum membagikan konten emosional.
  • Gunakan fitur privacy setting (My Contacts Except...) untuk mengontrol visibilitas.

Untuk Pemasar/Konten Kreator:

  • Manfaatkan momentum "Berbagi Info" dengan konten bernilai tinggi (edukatif, solutif), bukan sekadar promosi.
  • Hindari frekuensi berlebihan yang dapat memicu status fatigue.

Untuk Pendidik & Orang Tua:

  • Jadikan temuan ini bahan literasi digital: ajarkan siswa membedakan antara ekspresi sehat dan oversharing.
  • Diskusikan etika komunikasi tidak langsung (menyindir) dalam konteks hubungan sosial.

6. CATATAN METODOLOGIS (LIMITASI)

️ Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan:

  • Sampel relatif kecil (n=78) dan belum mewakili keragaman demografis nasional.
  • Kategori motivasi bersifat self-reported, berpotensi bias sosial (social desirability bias).
Tidak mengukur intensitas penggunaan atau korelasi dengan kesejahteraan psikologis

BEST PRACTICE PENGUATAN TATA KELOLA UMUM MADRASAH Menuju Madrasah Berbasis Transparansi, Akuntabilitas, dan Digitalisasi

Penyelenggara: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan

Lokasi: Omah Londo Hotel dan Resort
Tanggal: 10–11 April 2026


1. LATAR BELAKANG

Madrasah sebagai satuan pendidikan Islam di bawah pembinaan Kementerian Agama dituntut untuk memiliki tata kelola yang profesional, tertib administrasi, akuntabel, dan responsif terhadap transformasi digital. Masih terdapat variasi kapasitas pengelola madrasah dalam hal penyusunan RKAM, pelaporan SPAN, kearsipan digital, manajemen SDM, dan pengendalian internal. Kegiatan ini dirancang sebagai best practice yang mengintegrasikan peran strategis Kantor Kemenag Kabupaten dengan pelaksana teknis di MIN, MTsN, dan MAN agar tata kelola berjalan seragam, terukur, dan berorientasi pada mutu layanan pendidikan.

Dasar Hukum & Acuan:

  • UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas & UU No. 23/2014 tentang Pemda (Kewenangan Kemenag)
  • Permenag terkait Standar Pengelolaan Madrasah & RKAM
  • PMK tentang Pengelolaan Keuangan APBN di Lingkungan Kemenag
  • Perka BKN tentang Analisis Beban Kerja & Penetapan Jabatan
  • Instruksi Internal Kemenag RI tentang Transformasi Digital Madrasah & e-Office

 

2. TUJUAN & MANFAAT

Tujuan

Manfaat

1. Menyelaraskan pemahaman & praktik tata kelola administrasi, kepegawaian, dan keuangan APBN di madrasah

SOP terstandarisasi antar jenjang (MIN/MTsN/MAN)

2. Meningkatkan kompetensi Ka TU, Bendahara, Admin, & APK APBN dalam sistem digital Kemenag

Laporan tepat waktu, minim temuan audit

3. Membangun mekanisme pengendalian internal & monitoring berkala

Akuntabilitas publik & kepercayaan stakeholder

4. Mendorong kolaborasi antar madrasah & Kantor Kemenag Kab. Pasuruan

Efisiensi sumber daya & sharing praktik baik

   3. PROFIL KEGIATAN

  • Format: Workshop Interaktif, Simulasi Sistem, Studi Kasus, Penyusunan Draft SOP, Pendampingan Teknis
  • Peserta: Kepala Tata Usaha, Bendahara Madrasah, Admin TU, APK APBN (MIN, MTsN, MAN se-Kab. Pasuruan)
  • Narasumber/Pendamping:
    • Bapak H. Dr. Bahrul Ulum, S.Ag., M.Si – Kepala Sub Bagian TU (Pembina Strategis & Pengawasan Tata Kelola)
    • Ibu Hj. Prantini, S.H., M.Pd – Analisis Kepegawaian SDM Ahli Madya (Penyusunan ABK, Mutasi, Pengembangan Kompetensi)
    • Praktisi Keuangan APBN & Digitalisasi (Tim Kemenag Kab. & Instruktur Simpan/SPAN)

 

4. PILAR TATA KELOLA & PERAN AKTOR

Pilar

Fokus Penguatan

Penanggung Jawab Utama

1. Administrasi & Kearsipan

Digitalisasi surat masuk/keluar, klasifikasi arsip, e-Office, retensi dokumen

Ka TU, Admin

2. Manajemen SDM

Analisis Beban Kerja, penempatan sesuai kompetensi, usulan kenaikan pangkat, diklat teknis

Analisis SDM Ahli Madya, Ka TU

3. Keuangan APBN & RKAM

Penyusunan RKAM realistis, pelaporan SPAN, pencairan BOS/BOP, pertanggungjawaban, kepatuhan PMK

APK APBN, Bendahara

4. Pengendalian Internal & Audit

Checklist kepatuhan, rekonsiliasi data, antisipasi temuan, pelaporan triwulan

Ka Subbag TU, Tim Internal

5. Digitalisasi Layanan

Integrasi Dapodik, Simpatika, e-Kinerja, SIPLah, dashboard monitoring

Admin, Ka TU, APK APBN

 

5. LANGKAH IMPLEMENTASI (PRA–SELAMA–PASCA KEGIATAN)

🟦 Pra-Kegiatan (Maret 2026)

  • Distribusi kuesioner pemetaan kondisi tata kelola tiap madrasah
  • Pengumpulan draft SOP, struktur organisasi, dan temuan audit tahun sebelumnya
  • Penyusunan modul & skenario simulasi sistem

🟨 Selama Kegiatan (10–11 April 2026)

Hari

Agenda Inti

Output

10 April

Pembukaan, Kebijakan Tata Kelola Kemenag, Analisis SDM & ABK, Simulasi e-Office & Arsip Digital

Draft SOP TU & Kearsipan

11 April

Pengelolaan APBN/RKAM, Simulasi SPAN & Pelaporan, Pengendalian Internal, Rencana Tindak Lanjut

Matriks RKAM, Checklist Audit, Komitmen Implementasi

 

🟩 Pasca-Kegiatan (Mei–Juli 2026)

  • Pendampingan daring/luring 3x dalam 3 bulan
  • Review laporan keuangan triwulan II & kepatuhan SOP
  • Forum sharing praktik baik antar madrasah (MIN↔MTsN↔MAN)
  • Penyusunan laporan akhir & rekomendasi ke Kanwil/Kemenag Pusat

6. MATRIKS TANGGUNG JAWAB

Aktor

Tugas Pokok

Indikator Kinerja

Ka Subbag TU

Pengawasan, validasi kebijakan, koordinasi lintas madrasah

100% madrasah terverifikasi kepatuhan tata kelola

Analisis SDM

Penyiapan ABK, usulan formasi, pendampingan kompetensi

Peta jabatan & beban kerja terupdate per madrasah

Ka TU Madrasah

Eksekusi SOP, koordinasi admin & bendahara, pelaporan berkala

SOP berlaku, arsip digital 100%, surat terselesaikan ≤3 hari

Bendahara

Pengelolaan kas, verifikasi dokumen, laporan realisasi

Laporan SPAN tepat waktu, zero over/under budget tanpa justifikasi

Admin

Input data Dapodik/Simpatika, manajemen e-Office, backup data

Data akurat, tidak ada double entry, arsip cloud terstruktur

APK APBN

Penyusunan RKAM, pencairan dana, pelaporan BOS/BOP, rekonsiliasi

RKAM realistis, serapan ≥90%, audit clean opinion

 

7. INDIKATOR KEBERHASILAN & MONITORING EVALUASI

Indikator

Target

Cara Pengukuran

SOP Tata Kelola disahkan & diimplementasikan

100% madrasah

Verifikasi dokumen & observasi lapangan

Ketepatan waktu pelaporan APBN/SPAN

≥90% tepat waktu

Dashboard SPAN Kemenag

Penurunan temuan audit/internal

≥50% penurunan

Laporan Inspektorat/Kanwil

Kepuasan layanan administrasi madrasah

≥85%

Survei stakeholder (guru, orang tua, siswa)

Integrasi sistem digital

3 sistem terhubung

Uji coba Dapodik–e-Office–SPAN

Mekanisme Monev:

  • Bulanan: Checklist kepatuhan oleh Ka Subbag TU
  • Triwulan: Rapat koordinasi & review laporan keuangan/RKAM
  • Semester: Audit internal mandiri & publikasi praktik baik

 

8. REKOMENDASI STRATEGIS

  1. Komitmen Pimpinan Madrasah untuk menjadikan tata kelola sebagai prioritas mutu, bukan sekadar administratif.
  2. Alokasi Anggaran Diklat Berkelanjutan bagi TU, Bendahara, & Admin agar kompetensi sistem tetap mutakhir.
  3. Pembentukan Gugus Kerja Tata Kelola Madrasah di tingkat Kabupaten sebagai wadah sharing, peer-review, dan troubleshooting teknis.
  4. Integrasi Data Terpusat antara Simpatika, Dapodik, e-Kinerja, dan SPAN untuk menghindari silo informasi.
  5. Reward & Recognition bagi madrasah dengan tata kelola terbaik sebagai motivasi berkelanjutan.

9. PENUTUP

Penguatan tata kelola umum madrasah bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan fondasi strategis menuju madrasah yang mandiri, transparan, dan berdaya saing. Dengan kolaborasi sinergis antara Kantor Kemenag Kabupaten Pasuruan, pengelola TU, SDM, keuangan, dan digitalisasi, madrasah MIN/MTsN/MAN di wilayah Pasuruan dapat menjadi percontohan tata kelola yang akuntabel dan berorientasi pada mutu pembelajaran.

Disusun oleh:
Peserta dari MIN 1 Pasuruan

April 2026

 

 

Tuchfatul Aliyah

MEMPERKOKOH INTEGRITAS, MENGUKUR KINERJA: Kepala MIN 1 Pasuruan Turut Aktif dalam Rapat Kerja dan Penandatanganan Pakta Integritas, Perkin, serta Zona Integritas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan

 


PASURUAN, 13 April 2026 – Dalam upaya sistematis memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pasuruan menggelar Rapat Kerja sekaligus Penandatanganan Pakta Integritas, Perjanjian Kinerja (Perkin), dan Deklarasi Pembangunan Zona Integritas. Kegiatan yang berlangsung di Aula Al Ikhlas, Senin (13/4/2026) ini dihadiri secara lengkap oleh seluruh Kepala Seksi, Penyelenggara, Kepala Madrasah Negeri (MIN, MTsN, MAN), dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Pasuruan.

Sebagai bentuk komitmen pimpinan, Plt. Kepala Kemenag Kab. Pasuruan menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar ritual administratif, melainkan strategic intervention untuk mewujudkan kinerja yang terencana, terukur, dan terevaluasi. "Dengan instrumen ini, kita tidak hanya bekerja, tetapi bekerja dengan target yang jelas, akuntabilitas yang ketat, dan perbaikan berkelanjutan dari tahun ke tahun," ujarnya dalam sambutan pembuka.


Tiga Pilar Reformasi Birokrasi: Dari Komitmen Moral hingga Akuntabilitas Kinerja

Berdasarkan kajian terhadap roadmap reformasi birokrasi Kementerian Agama reformasi, ketiga instrumen yang ditandatangani hari ini merepresentasikan siklus integritas dan kinerja yang saling menguatkan:

1. Pakta Integritas: Fondasi Etika dan Pencegahan Korupsi

Pakta Integritas merupakan pernyataan resmi dan sukarela dari setiap pejabat dan ASN untuk berkomitmen mencegah praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dalam pelaksanaan tugas.

Dalam konteks pelayanan keagamaan—yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup masyarakat seperti layanan nikah, wakaf, pendidikan madrasah, dan haji—pakta ini menjadi guardian of trust. Penandatanganannya oleh seluruh kepala unit kerja menandakan internalisasi nilai anti-korupsi hingga ke level operasional terdepan.

2. Perjanjian Kinerja (Perkin): Jembatan antara Perencanaan dan Akuntabilitas

Perkin adalah turunan operasional dari Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang diatur dalam Permen PANRB No. 88 Tahun 2021. Dokumen ini menerjemahkan rencana strategis menjadi target kinerja tahunan yang spesifik, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan Perkin, setiap seksi, madrasah, dan KUA memiliki scorecard kinerja yang jelas. Hal ini memungkinkan evaluasi berbasis data (evidence-based evaluation), sehingga perbaikan di tahun berikutnya tidak lagi bersifat reaktif, melainkan hasil analisis capaian dan tantangan tahun berjalan

3. Zona Integritas (ZI): Menuju Budaya Pelayanan Prima Bebas Korupsi

Pembangunan Zona Integritas merupakan langkah proaktif menuju predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). ZI bukan sekadar sertifikasi, tetapi proses transformasi budaya kerja yang menekankan pada enam area perubahan: manajemen perubahan, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, peningkatan kualitas pelayanan publik, dan penguatan akuntabilitas kinerja

Deklarasi ZI di Kemenag Pasuruan menandai dimulainya perjalanan kolektif untuk menciptakan ekosistem kerja yang transparan, efisien, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Perspektif  : Sinergi Top-Down dan Bottom-Up dalam Reformasi Birokrasi

Acara hari ini mencerminkan pendekatan hybrid dalam implementasi reformasi birokrasi:

  • Dimensi Top-Down: Kepemimpinan Plt. Kepala Kantor memberikan political will dan kerangka kebijakan yang jelas melalui roadmap reformasi
  • Dimensi Bottom-Up: Keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk Kepala MIN 1 Pasuruan yang secara eksplisit menyatakan komitmennya meningkatkan layanan bagi siswa dan walimurid, menunjukkan bahwa reformasi diinternalisasi hingga level frontliner.

Sinergi ini krusial karena reformasi birokrasi sering gagal ketika hanya menjadi program "atas" tanpa keterlibatan dan kepemilikan (ownership) dari pelaksana di lapangan. Partisipasi Kepala Madrasah juga strategis, mengingat madrasah adalah face of service Kemenag yang paling kasat mata bagi masyarakat.

Tantangan dan Rekomendasi Ke Depan

Berdasarkan analisis, beberapa tantangan yang perlu diantisipasi:

  1. Konsistensi Implementasi: Risiko terbesar adalah dokumen hanya menjadi arsip. Diperlukan mekanisme monitoring berkala dan feedback loop yang efektif.
  2. Kapasitas SDM: Pemahaman dan kemampuan teknis dalam menyusun indikator Perkin yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) perlu terus ditingkatkan melalui pendampingan.
  3. Integrasi Sistem: Data kinerja dari Perkin harus terintegrasi dengan sistem evaluasi ZI dan pelaporan SAKIP untuk menghindari beban administratif ganda.

Penutup: Dari Pasuruan untuk Indonesia

Rapat Kerja dan penandatanganan tiga instrumen kunci ini di Kemenag Kabupaten Pasuruan bukan sekadar agenda lokal. Ini adalah mikro-kosmos dari upaya besar reformasi birokrasi nasional yang dicanangkan Kementerian Agama untuk periode 2025-2029

Ketika integritas menjadi fondasi, kinerja terukur menjadi kompas, dan zona integritas menjadi ekosistem, maka pelayanan keagamaan yang optimal dan maksimal bukan lagi sekadar jargon, melainkan realitas yang dialami setiap warga masyarakat.

Komitmen yang ditandatangani hari ini adalah janji publik. Kini, tugas bersama adalah mewujudkannya dalam setiap interaksi pelayanan, setiap keputusan kebijakan, dan setiap laporan pertanggungjawaban. Integritas dimulai dari komitmen, kinerja dibuktikan dengan hasil.

 

MIN 1 Pasuruan Gelar Kegiatan Revisi Halaman 3 DIPA: Langkah Strategis Optimalisasi Anggaran 2026

 

Kabupaten Pasuruan – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan melaksanakan kegiatan koordinasi dan revisi Halaman 3 Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2026, bertempat di ruang rapat madrasah, [tanggal kegiatan]. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Madrasah, Bendahara, Operator SAKTI, serta tim perencanaan madrasah.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan terkait optimalisasi anggaran berdampak, sebagaimana telah digalakkan dalam agenda "Bedah DIPA" tingkat kabupaten pada Februari 2026 lalu
kemenagkabpasuruan.id
. Fokus utama revisi Halaman 3 DIPA adalah penyesuaian Rencana Penarikan Dana (RPD) dengan realisasi kebutuhan operasional madrasah di lapangan, agar penyerapan anggaran lebih tepat sasaran dan akuntabel.
Dalam pelaksanaannya, tim MIN 1 Pasuruan membahas beberapa poin penting, antara lain:
  1. Evaluasi RPD Triwulan Berjalan: Meninjau kesesuaian antara rencana penarikan dana dengan realisasi belanja untuk menghindari deviasi yang dapat memengaruhi Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA).
  2. Penyesuaian Pos Anggaran: Melakukan revisi pada pos-pos kegiatan yang mengalami perubahan kebutuhan, seperti pengadaan barang, pemeliharaan, atau kegiatan kesiswaan, sesuai dengan prioritas program madrasah.
  3. Pemutakhiran Data di Aplikasi SAKTI: Memastikan seluruh perubahan telah terinput dengan benar dalam aplikasi Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) sebagai basis pelaporan keuangan negara,
Kepala MIN 1 Pasuruan, [Nama Kepala Madrasah], menyampaikan bahwa revisi anggaran ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan instrumen strategis untuk menjamin kelancaran layanan pendidikan. "Setiap rupiah yang dikelola harus memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dan peningkatan mutu madrasah. Revisi yang tepat waktu dan akurat adalah wujud tanggung jawab kami dalam tata kelola keuangan yang bersih dan transparan," ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi momentum peningkatan kapasitas tim pengelola keuangan madrasah. Operator dan bendahara mendapatkan pendampingan teknis terkait prosedur revisi Halaman 3 DIPA yang mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107 Tahun 2024 dan panduan SOP Kementerian Agama
kemenagkotapasuruan.id
. Dengan demikian, MIN 1 Pasuruan berkomitmen untuk terus mendukung transformasi birokrasi Kemenag melalui pengelolaan anggaran yang responsif, akuntabel, dan berdampak.
Diharapkan, hasil revisi ini dapat segera diproses dan disetujui oleh KPPN setempat, sehingga pelaksanaan kegiatan madrasah pada triwulan berikutnya dapat berjalan lancar sesuai rencana. MIN 1 Pasuruan juga akan terus berkoordinasi dengan Kemenag Kabupaten Pasuruan untuk memastikan seluruh tahapan revisi anggaran memenuhi ketentuan yang berlaku.

Guru MIN 1 Pasuruan Ikut Sosialisasi dan Koordinasi Proktor serta Pengawas TKA Kabupaten Pasuruan






Pasuruan, 8 April 2026 – Bapak Khamim, S.Pd.I, seorang guru berdedikasi dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan, turut serta dalam kegiatan Sosialisasi dan Koordinasi Proktor  serta Pengawas Tes Kompetensi Akademik (TKA) Kabupaten Pasuruan. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini bertempat di Aula Rumah Inovasi LP Maarif Pasuruan.

Kegiatan ini dihadiri oleh para pendidik, tenaga kependidikan, serta perwakilan dari berbagai madrasah dan sekolah se-Kabupaten Pasuruan. Tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan kapasitas para pengawas dan promotor TKA dalam rangka menjamin kelancaran dan integritas pelaksanaan tes kompetensi akademik di tingkat kabupaten.

Dalam sambutannya, perwakilan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan menekankan pentingnya peran guru dan pengawas dalam menciptakan suasana evaluasi yang adil, transparan, dan akuntabel. "TKA bukan sekadar ujian, melainkan instrumen strategis untuk memetakan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, integritas pelaksanaannya harus menjadi prioritas bersama," ujar beliau.

Bapak Khamim, S.Pd.I, yang aktif dalam berbagai pengembangan profesi guru, menyampaikan antusiasmenya mengikuti kegiatan ini. "Sosialisasi seperti ini sangat bermanfaat untuk memperbarui pemahaman kami tentang prosedur terbaru, teknik pengawasan yang efektif, serta strategi promosi yang positif terkait TKA. Harapannya, kami dapat menerapkan ilmu ini demi kemajuan peserta didik di MIN 1 Pasuruan khususnya, dan pendidikan Kabupaten Pasuruan pada umumnya," ungkapnya usai kegiatan.

Acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi teknis seputar mekanisme TKA, kode etik pengawas, pemanfaatan platform digital dalam promosi pendidikan, serta diskusi interaktif untuk menjawab berbagai pertanyaan dari peserta. Rumah Inovasi LP Maarif Pasuruan, sebagai lokasi kegiatan, dinilai strategis karena dilengkapi fasilitas pendukung yang memadai untuk kegiatan pelatihan dan koordinasi berskala kabupaten.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama dari seluruh peserta untuk mendukung suksesnya pelaksanaan TKA Kabupaten Pasuruan Tahun 2026 dengan prinsip kejujuran, profesionalisme, dan semangat kolaborasi. Diharapkan, langkah ini dapat berkontribusi pada peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan di Bumi Panji Negara.


BEST PRACTICE: TUJUAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

 





Mengklasifikasikan Bangun 2D dengan 2 Garis Sejajar atau Tegak Lurus

Nama Madrasah        : MIN 1 Pasuruan

Nama Guru                : Bu Tutik Saidah
Kelas                          : 4 D
Mata Pelajaran          : Matematika
Fase/Kurikulum         : Fase B / Kurikulum Merdeka
Topik                          : Geometri – Klasifikasi Bangun Datar

 

A. INFORMASI UMUM

Komponen

Deskripsi

Nama Guru

Bu Tutik Saidah

Kelas/Semester

4 D / Ganjil

Alokasi Waktu

2 × 35 Menit (1 Pertemuan)

Capaian Pembelajaran

Peserta didik dapat mendeskripsikan dan mengklasifikasikan bangun datar berdasarkan sifat-sifatnya, termasuk hubungan antar garis (sejajar dan tegak lurus)

www.websiteedukasi.com

Materi Pokok

Bangun Datar Segiempat: Persegi, Persegi Panjang, Jajargenjang, Trapesium

 

B. TUJUAN PEMBELAJARAN (Format ABCD)

Format ABCD digunakan untuk menulis tujuan pembelajaran secara spesifik dan terukur, terdiri dari: Audience, Behavior, Condition, Degree

🔹 Tujuan Pembelajaran Utama:

Melalui kegiatan eksplorasi menggunakan benda konkret dan lembar kerja (Condition), peserta didik kelas 4 D (Audience) dapat mengklasifikasikan bangun datar segiempat berdasarkan keberadaan 2 garis sejajar atau 2 garis tegak lurus (Behavior) dengan ketepatan minimal 80% (Degree).

🔹 Indikator Pencapaian:

  1. Peserta didik dapat mengidentifikasi pasangan garis sejajar pada bangun persegi, persegi panjang, jajargenjang, dan trapesium.
  2. Peserta didik dapat menunjukkan pasangan garis tegak lurus pada bangun persegi dan persegi panjang.
  3. Peserta didik dapat mengelompokkan bangun datar ke dalam kategori:
    • Memiliki 2 pasang garis sejajar
    • Memiliki 1 pasang garis sejajar
    • Memiliki garis tegak lurus
  4. Peserta didik dapat menjelaskan alasan pengelompokan bangun datar berdasarkan sifat garisnya dengan bahasa sendiri.

C. BEST PRACTICE STRATEGI PEMBELAJARAN

🎯 Pendekatan: Concrete-Pictorial-Abstract (CPA)

Pendekatan ini efektif untuk pembelajaran geometri di sekolah dasar karena membantu siswa membangun konsep dari pengalaman nyata

 

Tahap

Aktivitas Guru & Siswa

Media/Alat

Concrete (Konkret)

• Siswa mengamati dan memegang benda nyata berbentuk persegi/persegi panjang (buku, ubin, penggaris)
• Siswa menelusuri tepi benda untuk merasakan garis sejajar/tegak lurus

Benda konkret: buku, kotak pensil, ubin kelas

Pictorial (Gambar)

• Siswa menggambar bangun datar di kertas berpetak
• Siswa menandai garis sejajar dengan warna sama, garis tegak lurus dengan simbol

Kertas berpetak, spidol warna, penggaris

Abstract (Abstrak)

• Siswa mengerjakan LKPD mengklasifikasikan bangun tanpa bantuan gambar konkret
• Siswa berdiskusi menyimpulkan sifat-sifat bangun

LKPD, kartu gambar bangun datar

🎲 Aktivitas Pembelajaran Inovatif: "Shape Detective"

  1. Misi 1 – Cari Pasangan Sejajar: Siswa berkeliling kelas mencari 3 benda yang memiliki tepi sejajar, lalu mencatat dan menggambarnya.
  2. Misi 2 – Detektif Sudut Siku: Siswa menggunakan pojok kertas untuk mengecek sudut tegak lurus pada bangun di LKPD.
  3. Misi 3 – Klasifikasi Cepat: Dalam kelompok, siswa mengurutkan kartu bangun ke dalam 3 kolom: 2 Sejajar, 1 Sejajar, Tegak Lurus.

📊 Asesmen Formatif

Teknik

Instrumen

Kriteria Keberhasilan

Observasi

Lembar ceklis partisipasi

Siswa aktif dalam eksplorasi dan diskusi

Unjuk Kerja

LKPD Klasifikasi Bangun

Minimal 4 dari 5 bangun diklasifikasikan dengan benar

Tanya Jawab Lisan

Pertanyaan pemantik: "Mengapa jajargenjang tidak punya garis tegak lurus?"

Siswa mampu memberikan alasan logis sederhana

 

D. REFLEKSI GURU (Contoh Isian)

Apa yang berjalan baik?

- Penggunaan benda konkret membantu pemahaman konsep garis sejajar

️ Tantangan yang dihadapi:

- Beberapa siswa masih bingung membedakan jajargenjang dan trapesium

- Waktu eksplorasi perlu ditambah 10 menit

💡 Rencana perbaikan:

- Menyiapkan kartu bangun dengan warna berbeda untuk tiap jenis

- Menambahkan video animasi singkat tentang sifat garis pada bangun datar

 Apa yang berjalan baik?

- Siswa antusias saat aktivitas "Shape Detective"

- Penggunaan benda konkret membantu pemahaman konsep garis sejajar

️ Tantangan yang dihadapi:

- Beberapa siswa masih bingung membedakan jajargenjang dan trapesium

- Waktu eksplorasi perlu ditambah 10 menit

💡 Rencana perbaikan:

- Menyiapkan kartu bangun dengan warna berbeda untuk tiap jenis

- Menambahkan video animasi singkat tentang sifat garis pada bangun datar

 

Guru

 

 

Tutik Saidah, S.Pd.I