google-site-verification: googlec37f5abc404fa346.html MIN 1 PASURUAN

Transformasi Pendidikan Madrasah: Prof. Dr. Muhammad Thohir Tegaskan Digital Learning Sebagai Keniscayaan Zaman

 


PASURUAN – Era disrupsi teknologi telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai sendi kehidupan, tidak terkecuali pada sektor pendidikan. Menghadapi tantangan tersebut, transformasi digital kini menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditawar lagi dalam upaya meningkatkan mutu dan daya saing pendidikan madrasah. Penguatan kompetensi digital bagi para guru dan tenaga kependidikan harus terus dipacu secara berkelanjutan agar proses pembelajaran di kelas mampu merespons dinamika zaman tanpa mengikis akar nilai-nilai keislaman serta karakter peserta didik.

Hal mendasar tersebut ditegaskan oleh pakar pendidikan Islam, Prof. Dr. Muhammad Thohir, saat menjadi narasumber utama dalam kegiatan penguatan kompetensi pendidik yang berlangsung di Pasuruan. Dalam paparan komprehensifnya yang bertajuk "Digital Learning di Madrasah", ia menguraikan secara mendalam bagaimana paradigma pembelajaran berbasis digital harus dimaknai dan diimplementasikan secara nyata oleh para pendidik madrasah masa kini.

Redefinisikan Digital Learning: Bukan Sekadar Memindahkan Media

Di hadapan ratusan pendidik dan pengelola lembaga pendidikan madrasah, Prof. Thohir menggarisbawahi kesalahan kaprah yang kerap terjadi dalam memahami digitalisasi pendidikan. Menurutnya, digital learning sering kali disalahartikan sebatas pemindahan bahan ajar konvensional ke dalam bentuk digital, seperti sekadar mengubah buku cetak menjadi berkas PDF atau mengalihkan ceramah tatap muka menjadi tatap maya.

"Digital learning adalah sebuah keniscayaan. Guru madrasah tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi harus mampu mendesain pengalaman belajar yang kreatif, kolaboratif, bermakna, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman. Teknologi hanyalah alat, sedangkan guru tetap menjadi penggerak utama perubahan pendidikan," tegas Prof. Thohir di hadapan para peserta.

Ia menjelaskan bahwa digital learning sejatinya adalah transformasi menyeluruh yang mencakup tiga domain utama pembelajaran:

  1. Perancangan (Design): Bagaimana merumuskan skenario pembelajaran yang interaktif dan adaptif terhadap tingkat pemahaman murid.
  2. Pelaksanaan (Execution): Memanfaatkan ekosistem digital untuk menciptakan ruang belajar yang partisipatif, di mana siswa aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri.
  3. Evaluasi (Evaluation): Menggunakan instrumen berbasis data terukur (data-driven assessment) untuk memantau perkembangan belajar siswa secara real-time dan personal.

Mengoptimalkan Potensi AI, LMS, dan Keterampilan Abad ke-21

Memasuki gelombang Revolusi Industri 4.0 dan era Masyarakat 5.0, pemanfaatan teknologi canggih seperti kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan Learning Management System (LMS) menjadi sarana penting yang harus dikuasai oleh ekosistem madrasah. Prof. Thohir menuturkan bahwa integrasi platform digital dan media interaktif tidak boleh sekadar menjadi pajangan teknologi, melainkan harus memiliki orientasi pedagogical yang jelas.

Penggunaan AI dan LMS di lingkungan madrasah hendaknya diarahkan untuk mencapai tiga sasaran utama:

  • Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Menghadirkan materi ajar yang lebih kontekstual, berbasis visualisasi interaktif, serta mampu mengakomodasi ragam gaya belajar siswa (differentiated learning).
  • Penguatan Literasi Digital: Membekali siswa dengan pemahaman kritis dalam menyaring, menganalisis, dan memanfaatkan informasi secara bertanggung jawab di tengah banjir data internet.
  • Pengembangan Kompetensi 4C: Mengasah kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kreativitas (creativity), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration) yang menjadi modal utama dalam persaingan global abad ke-21.

Prof. Thohir menambahkan bahwa keberadaan platform digital harus mempermudah tugas administratif guru, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu berinteraksi secara mendalam dengan para muridnya.

Menjaga Sentuhan Kemanusiaan (Human Touch) di Era High-Tech

Meskipun akselerasi teknologi menawarkan berbagai kemudahan dan efisiensi, Prof. Thohir secara khusus mengingatkan agar proses transformasi digital tidak melupakan aspek emosional dan spiritual peserta didik. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga proses pembentukan jiwa dan karakter (transfer of values).

"Transformasi digital tidak boleh menghilangkan sentuhan kemanusiaan dalam proses pendidikan. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan pembentukan karakter peserta didik," ungkapnya.

Dalam pandangannya, kecanggihan algoritma AI atau kemewahan platform digital tidak akan pernah bisa menggantikan peran figurif seorang guru. Kehadiran guru sebagai teladan, motivator, dan pembimbing empati tetap tidak tergantikan. Pemanfaatan teknologi justru harus menjadi jembatan untuk mempererat komunikasi antara guru, murid, dan orang tua, sehingga terbangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan humanis.

Sinergi Digital Savvy dan Nilai-Nilai Keislaman

Salah satu poin paling krusial yang diangkat dalam pertemuan tersebut adalah keunggulan komparatif yang dimiliki oleh lembaga pendidikan madrasah dibandingkan sekolah umum. Madrasah memiliki pondasi tradisi keagamaan, pendidikan moral, dan pembentukan akhlak yang sangat kuat.

Oleh karena itu, transformasi digital di madrasah tidak boleh mengadopsi mentah-mentah tren teknologi tanpa melakukan penyaringan nilai. Transformasi tersebut harus berjalan secara beriringan dengan penguatan keagamaan yang moderat dan inklusif.

"Madrasah memiliki keunggulan dalam pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan. Karena itu, transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak, moderasi beragama, dan pembiasaan nilai-nilai luhur agar peserta didik tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga bijak dalam memanfaatkan teknologi," tambah Prof. Thohir.

Dalam konteks ini, konsep kearifan digital (digital wisdom) menjadi sangat relevan. Siswa madrasah tidak hanya diajarkan cara mengoperasikan perangkat teknologi (digital skills), tetapi juga dididik untuk memiliki kecerdasan etis (digital ethics) dalam berinteraksi di dunia maya. Hal ini mencakup:

  • Penerapan etika berkomunikasi di media sosial yang santun dan menjauhi ujaran kebencian (ujaran al-qawl al-ma'ruf).
  • Penanaman sikap tabayyun (verifikasi informasi) untuk menangkal maraknya berita bohong (hoax) dan disinformasi.
  • Pemanfaatan ruang digital untuk menyebarkan syiar kebaikan, perdamaian, serta pemahaman agama yang tawasuth (moderat).

Mendorong Terwujudnya Madrasah Unggul dan Berdaya Saing Global

Kegiatan penguatan kompetensi pendidik ini dirancang bukan sekadar sebagai forum diskusi teoritis, melainkan sebagai batu pijakan tindakan nyata. Melalui sesi pelatihan dan pemaparan materi ini, para guru dan tenaga kependidikan diharapkan pulang membawa wawasan baru serta keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di madrasah masing-masing.

Penguasaan terhadap pembelajaran digital yang inovatif, adaptif, dan berpusat pada peserta didik (student-centered learning) menjadi kunci utama untuk membawa madrasah naik kelas.

Akselerasi Mutu Pendidikan Madrasah

Langkah-langkah strategis yang direkomendasikan untuk mewujudkan visi madrasah berkelas dunia meliputi:

  1. Peningkatan Infrastruktur dan Aksesibilitas: Memastikan sarana dan prasarana penunjang digitalisasi dapat diakses secara merata oleh guru dan siswa.
  2. Pelatihan Berkelanjutan bagi Pendidik: Mengadakan upskilling dan reskilling berkala terkait pemanfaatan teknologi pembelajaran terkini dan penyusunan media ajar interaktif.
  3. Pengembangan Kurikulum Berbasis Digital & Karakter: Menyusun desain kurikulum yang mengawinkan literasi digital, keterampilan masa depan, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila yang Rahmatan lil 'Alamin.
  4. Kemitraan dan Kolaborasi: Membuka jaringan kerja sama antar-madrasah, perguruan tinggi, serta industri teknologi untuk mempercepat adopsi inovasi pendidikan.

Melalui langkah-langkah terintegrasi ini, madrasah optimistis mampu melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya memiliki keunggulan akademis dan literasi teknologi yang mumpuni, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, dan kecintaan pada tanah air.

Komitmen Bersama Mewujudkan Transformasi Pendidikan

Kegiatan penguatan kompetensi pendidik di Pasuruan ini menjadi bukti nyata komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong percepatan transformasi digital di lingkungan madrasah. Menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian dan perubahan yang begitu cepat, madrasah terbukti tidak tinggal diam atau sekadar menjadi penonton.

Dengan semangat inovasi yang terus dipelihara, madrasah siap membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan modern yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa pernah mencabut dirinya dari akar tradisi keagamaan, nilai keimanan, dan budaya luhur bangsa Indonesia. Digital learning bukan lagi sebuah pilihan opsional, melainkan fondasi utama bagi madrasah yang unggul, maju, bermutu, dan siap bersaing di kancah nasional maupun global.

 

Inovasi Tiada Henti: Abdul Qodir Ikuti Penguatan Madrasah Go Digital di Kanwil Kemenag Jatim


SURABAYA, KANWIL KEMENAG JATIM — Perkembangan teknologi informasi yang melaju pesat dalam beberapa tahun terakhir menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi dan bertransformasi. Tidak terkecuali bagi lembaga pendidikan keagamaan seperti madrasah di Jawa Timur. Menjawab tantangan zaman tersebut, semangat inovasi tiada henti ditunjukkan oleh Abdul Qodir, seorang praktisi dan penggerak pendidikan madrasah, yang secara aktif mengikuti kegiatan Penguatan "Madrasah Go Digital" yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Timur pada Senin, 20 Juli 2026.

Kegiatan intensif ini menghimpun para pemangku kepentingan pendidikan madrasah dari pelbagai daerah di Jawa Timur untuk menyelaraskan visi, merumuskan strategi, serta mempercepat langkah transformasi digital di lingkungan madrasah.

Pesan Kunci Kakanwil: Digitalisasi Sebagai Perangkat, Bukan Tujuan

Dalam pembukaan dan pengarahan utamanya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bakhtiar, M.Pd.I., memberikan penekanan mendasar mengenai makna hakiki dari modernisasi pendidikan berbasis teknologi. Beliau mengingatkan agar seluruh elemen madrasah tidak terjebak pada formalitas kepemilikan alat canggih semata, melainkan fokus pada substansi perubahan.

"Digitalisasi adalah sebuah perangkat, bukan tujuan. Oleh karena itu, masih perlu dukungan lain seperti SDM, Sarpras, dan Mentalitas," tegas Dr. H. Akhmad Sruji Bakhtiar, M.Pd.I. di hadapan para peserta.

Pernyataan tersebut menjadi landasan pemikiran utama dalam forum tersebut. Digitalisasi hendaknya dimaknai sebagai katalisator atau alat bantu (enabler) untuk meningkatkan mutu pembelajaran, efisiensi tata kelola, dan pembentukan karakter peserta didik. Tanpa pemanfaatan yang bijak dan terarah, infrastruktur digital yang megah sekalipun tidak akan membawa dampak bermakna bagi kemajuan pendidikan.


Tiga Penopang Utama Transformasi Digital Madrasah

Mengurai arahan Kakanwil Kemenag Jatim, percepatan program Madrasah Go Digital membutuhkan tiga penopang utama yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain:

1. Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM)

Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan hasil optimal jika tidak diimbangi oleh kapasitas manusia yang mengoperasikannya. Dalam konteks madrasah, peningkatan kualitas SDM mencakup:

  • Kompetensi Pedagogik Digital: Kemampuan guru mengintegrasikan media digital, Learning Management System (LMS), dan kecerdasan buatan (AI) secara kontekstual dalam proses belajar mengajar.
  • Literasi Digital dan Etika (Akhlak Digital): Pendidik dan tenaga kependidikan harus menjadi teladan dalam memanfaatkan internet secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.
  • Kreativitas Pembuatan Konten: Mendorong pendidik untuk menciptakan bahan ajar digital yang interaktif dan menarik bagi generasi Z dan Alpha.

2. Ketersediaan Sarana dan Prasarana (Sarpras)

Dukungan fisik dan teknis menjadi fondasi berjalannya sistem digitalisasi. Kanwil Kemenag Jatim terus berupaya mendorong pemerataan akses sarpras, yang meliputi:

  • Jaringan internet yang stabil dan merata hingga ke madrasah di wilayah pelosok.
  • Perangkat keras (hardware) yang memadai untuk kegiatan belajar mengajar dan administrasi.
  • Platform dan sistem informasi manajemen madrasah terpadu berbasis awan (cloud storage).

3. Transformasi Mentalitas dan Budaya Kerja

Poin ini menjadi sorotan utama dalam pengarahan Kakanwil. Kesiapan mental merupakan kunci keberlanjutan inovasi.

  • Menghancurkan Zona Nyaman (Growth Mindset): Mengubah pola pikir konvensional yang enggan beradaptasi menjadi mentalitas yang haus akan pembelajaran baru.
  • Kultur Kolaboratif: Mendorong terciptanya lingkungan kerja yang terbuka terhadap ide-ide kreatif dan efisiensi berbasis data.
  • Resiliensi: Ketahanan dalam menghadapi kendala teknis maupun perubahan dinamis di era digital.

Perbandingan Pendekatan Modernisasi Madrasah

Untuk memahami pergeseran paradigma dari sistem konvensional menuju era Madrasah Go Digital, berikut adalah matriks perbandingannya:

Komponen

Pendekatan Konvensional

Pendekatan Madrasah Go Digital

Fokus Utama

Pengadaan perangkat keras (hardware)

Integrasi teknologi dengan pengembangan karakter

Peran Guru

Sumber tunggal informasi (teacher-centered)

Fasilitator & mentor pembelajaran (student-centered)

Manajemen

Pencatatan berbasis kertas (paper-based)

Tata kelola berbasis data real-time (paperless)

Pendekatan SDM

Pelatihan berkala tanpa pendampingan

Pembelajaran berkelanjutan & komunitas praktisi

Mentalitas

Menganggap teknologi sebagai beban

Menganggap teknologi sebagai alat pemecah masalah

Abdul Qodir dan Komitmen "Inovasi Tiada Henti"

Kehadiran Abdul Qodir dalam kegiatan penguatan ini menjadi cermin semangat generasi pendidik madrasah yang tidak pernah berhenti belajar. Bagi Abdul Qodir, mengikuti forum seperti ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif, melainkan investasi pengetahuan untuk diterapkan secara nyata di lapangan.

Dalam sesi diskusi, Abdul Qodir menyampaikan gagasan-gagasan solutif terkait langkah konkret mengimplementasikan arahan Kakanwil Kemenag Jatim:

  • Inovasi Berbasis Kebutuhan: Mengembangkan aplikasi dan metode pembelajaran digital yang tepat guna sesuai dengan karakteristik dan kondisi riil para siswa di madrasah, bukan sekadar mengikuti tren.
  • Pendampingan Sebaya (Peer Mentoring): Mengajak para pendidik yang sudah mahir teknologi untuk mendampingi rekan-rekan guru yang masih membutuhkan bimbingan (upskilling), sehingga tidak ada SDM yang tertinggal.
  • Penanaman Nilai-Nilai Keagamaan: Memastikan bahwa setiap lompatan teknologi tetap berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan moderasi beragama, sehingga modernisasi berjalan seiring dengan penguatan akhlakul karimah.

Langkah Nyata Mengawal Integrasi Digital

Menindaklanjuti arahan dalam pertemuan di Kanwil Kemenag Jatim ini, terdapat beberapa rencana aksi strategis yang akan diturunkan ke tingkat satuan pendidikan:

A. Pemetaan Digitalisasi Terpadu

Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan madrasah, mencakup audit sarpras, pemetaan tingkat literasi digital guru, serta identifikasi hambatan utama di tingkat lokal.

B. Optimalisasi Ekosistem Digital Terintegrasi

Mendorong penggunaan satu platform terintegrasi untuk kegiatan administrasi, penilaian siswa, hingga komunikasi dengan orang tua murid. Hal ini menghemat waktu administratif sehingga pendidik dapat lebih fokus pada kualitas pembelajaran.

C. Pembentukan Komunitas Belajar Digital

Mendorong terciptanya forum-forum berbagi (sharing session) antar-guru madrasah untuk saling menukarkan praktik baik (best practices) dalam pembuatan media pembelajaran interaktif.

Menatap Masa Depan Madrasah Jawa Timur

Program "Madrasah Go Digital" yang digelorakan Kanwil Kemenag Jawa Timur pada pertengahan tahun 2026 ini membawa angin segar bagi dunia pendidikan Islam. Sinergi antara kebijakan strategis pimpinan seperti Dr. H. Akhmad Sruji Bakhtiar, M.Pd.I., dengan semangat eksekusi lapangan dari tokoh-tokoh inovatif seperti Abdul Qodir, diharapkan mampu membawa madrasah naik kelas.

Madrasah masa kini tidak lagi dipandang sebagai lembaga pendidikan pilihan kedua, melainkan menjadi garda terdepan yang melahirkan generasi cerdas secara intelektual, mahir secara digital, dan kokoh secara spiritual.

Melalui kesadaran kolektif bahwa teknologi adalah alat dan SDM serta mentalitas adalah kemudinya, langkah madrasah di Jawa Timur menuju era digital akan semakin terarah, inklusif, dan berdaya saing tinggi. Semangat inovasi tiada henti yang ditunjukkan para pendidik hari ini adalah fondasi utama bagi kejayaan pendidikan Indonesia di masa depan.

 

MIN 1 Pasuruan Gandeng Polres Pasuruan Gelar Edukasi Anti-Bullying pada MATSAMA Hari Ke-6

 



​PASURUAN – Memasuki hari keenam Masa Ta'aruf Siswa Madrasah (MATSAMA), MIN 1 Pasuruan berkomitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Bertepatan pada hari Sabtu, 18 Juli 2026, madrasah ini menggelar sosialisasi khusus mengenai Anti-Bullying (Perundungan) dengan menghadirkan narasumber langsung dari Kepolisian Resor (Polres) Pasuruan.

​Kegiatan yang berlangsung di aula utama madrasah ini diikuti oleh seluruh siswa baru dengan penuh antusias. Kehadiran personel dari Polres Pasuruan memberikan warna baru sekaligus menegaskan pentingnya pemahaman hukum dan dampak psikologis dari tindakan perundungan sejak usia dini.

​Pentingnya Edukasi Sejak Dini

​Dalam paparannya, perwakilan dari Polres Pasuruan menjelaskan secara interaktif mengenai apa itu bullying, jenis-jenisnya—mulai dari perundungan fisik, verbal, hingga cyber bullying di media sosial—serta dampak buruk yang ditimbulkan bagi korban maupun pelaku.

​"Kami ingin adik-adik di MIN 1 Pasuruan memahami bahwa mengejek, mengucilkan, atau bahkan menyakiti fisik teman itu bukan hal yang keren. Itu adalah tindakan perundungan yang bisa berhadapan dengan hukum dan merusak masa depan teman kita," ujar pemateri dari Polres Pasuruan di hadapan para siswa.

​Pihak kepolisian juga memberikan tips praktis kepada para siswa tentang apa yang harus dilakukan jika melihat atau mengalami tindakan perundungan, yaitu:

  1. ​Berani melapor kepada guru atau orang tua.
  2. ​Menolak untuk ikut-ikutan memusuhi teman.
  3. ​Menjalin pertemanan yang sehat dan saling merangkul.

​Komitmen Madrasah Ramah Anak

​Kepala MIN 1 Pasuruan menyambut baik sinergi yang terjalin dengan Polres Pasuruan. Menurutnya, materi anti-bullying ini sengaja ditaruh di rangkaian akhir MATSAMA sebagai pondasi karakter siswa sebelum memulai proses belajar mengajar secara efektif.

​"Hari keenam ini menjadi momentum penting. Dengan menggandeng Polres Pasuruan, kami ingin menanamkan secara tegas bahwa MIN 1 Pasuruan adalah Madrasah Ramah Anak. Tidak ada ruang bagi bullying di sini," tegas Kepala Madrasah.

​Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa baru MIN 1 Pasuruan dapat saling menghormati, menyayangi, dan menciptakan atmosfer belajar yang positif demi terwujudnya generasi madrasah yang cerdas, berakhlakul karimah, dan taat hukum.

Semangat Menggebu di Hari Kelima MATAMUDA MIN 1 Pasuruan: Fokus Luruskan Niat Mencari Ilmu

 






​PASURUAN — Rangkaian Masa Ta'aruf Siswa Madrasah (MATAMUDA) di MIN 1 Pasuruan resmi memasuki hari kelima pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan hari ini berlangsung dengan penuh khidmat dan religius, berfokus pada penguatan spiritual serta pembentukan karakter dasar para siswa baru.

​Sejak pagi hari, suasana serambi madrasah sudah dipenuhi oleh riuh rendah lantunan doa. Seluruh peserta didik baru tampak antusias dan khusyuk mengikuti setiap tahapan acara yang telah dirancang oleh panitia.

​Rangkaian Kegiatan Keagamaan

​Kegiatan MATAMUDA hari kelima ini diisi dengan empat agenda utama yang berjalan secara berkesinambungan:

​Pembacaan Surat Yasin

Acara diawali dengan pembacaan Surat Yasi⁸n bersama yang dipimpin oleh Ust. Khamim. Suara lantunan ayat suci yang menggema berhasil membawa suasana tenang dan damai, membuka hari dengan penuh keberkahan.

Salat Duha Beramaah

Setelah pembacaan Yasin, para siswa langsung merapatkan shaf untuk melaksanakan ibadah Salat Duha berjamaah. Pada kesempatan ini, Ust. Mujib bertindak sebagai imam, menuntun para siswa untuk membiasakan ibadah sunah sejak dini.

​Istighosah Bersama

Guna mengetuk pintu langit dan memohon kelancaran serta keselamatan selama menempuh pendidikan di MIN 1 Pasuruan, acara dilanjutkan dengan zikir Istighosah. Pembacaan doa-doa istighosah ini dipimpin langsung secara khusyuk oleh Ust. Fathur Rohman.

​Tausiyah Utama: Meluruskan Niat Mencari Ilmu

​Puncak acara hari kelima ini diisi dengan tausiyah penuh motivasi yang disampaikan oleh Ust. H. Zamroni. Dalam ceramahnya, beliau menekankan betapa pentingnya menjaga dan meluruskan niat dalam menuntut ilmu.

​"Ilmu yang berkah itu bermula dari niat yang benar. Masuk ke madrasah ini jangan hanya sekadar ikut-ikutan atau mencari nilai angka semata, tetapi niatkanlah lillahi ta'ala—untuk menghilangkan kebodohan, berbakti kepada orang tua, dan mencari rida Allah SWT," pesan Ust. H. Zamroni di hadapan ratusan siswa baru.

​Beliau juga menambahkan bahwa dengan niat yang bersih, setiap lelah yang dirasakan siswa saat belajar di kelas akan dihitung sebagai nilai pahala dan jihad di jalan Allah.

​Melalui rangkaian kegiatan keagamaan dan pembekalan rohani ini, MIN 1 Pasuruan berharap para peserta didik baru tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan berakhlakul karimah sejak hari pertama mereka melangkah di madrasah. Rangkaian MATAMUDA hari kelima pun ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah.

KEMITRAAN STRATEGIS: Hari Ke-4 MATAMUDA MIN 1 Pasuruan Hadirkan Instruktur Koramil Beji untuk Diklat LBB

 








​PASURUAN – Memasuki hari keempat rangkaian Kegiatan Masa Ta'ruf Murid Baru (MATAMUDA), MIN 1 Pasuruan menggelar latihan khusus Lomba Baris-Berbaris (LBB) dan kedisiplinan pada Kamis, 16 Juli 2026. Guna memberikan pelatihan yang profesional dan berstandar tinggi, pihak madrasah secara khusus mendatangkan pembina langsung dari Komando Rayon Militer (Koramil) Beji.

​Kegiatan yang berlangsung di lapangan utama madrasah ini diikuti dengan penuh antusias oleh seluruh siswa baru. Materi yang diberikan meliputi gerakan dasar penunjang disiplin, tata upacara, hingga pembentukan karakter mental yang tangguh.

​Bagian dari Kemitraan Strategis Madrasah

​Kepala MIN 1 Pasuruan, Bapak Abdul Qodir, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan bahwa kehadiran personel TNI dari Koramil Beji ini bukan sekadar pengisi materi, melainkan wujud nyata dari program kemitraan madrasah yang berkelanjutan.

​"Kerja sama dengan Koramil Beji ini merupakan bagian penting dari komitmen kemitraan madrasah kami. Kami ingin menanamkan rasa cinta tanah air, kedisiplinan, dan ketegasan sejak dini kepada para siswa. Melalui bimbingan langsung dari bapak-bapak TNI, anak-anak diharapkan mampu menyerap nilai-nilai luar biasa tersebut secara langsung," ujar Bapak Abdul Qodir.

​Manfaat Kegiatan bagi Siswa Baru

​Melalui latihan LBB pada hari ke-4 MATAMUDA ini, beberapa target capaian yang ingin diwujudkan antara lain:

  1. ​Peningkatan Kedisiplinan: Melatih ketepatan waktu, kepatuhan pada instruksi, dan kerapian.
  2. ​Kekompakan & Kerja Sama: Menumbuhkan rasa kebersamaan antar-siswa baru lewat gerakan yang serasi.
  3. ​Fisik dan Mental yang Kuat: Membentuk postur tubuh yang tegap serta mental yang tidak mudah menyerah.

​Pihak Koramil Beji selaku pembina mengapresiasi semangat tinggi yang ditunjukkan oleh para siswa MIN 1 Pasuruan selama latihan berlangsung. Program sinergi ini diharapkan dapat terus berjalan secara rutin demi mencetak generasi muda yang cerdas secara akademik dan berkarakter kuat secara personal.

MIN 1 Pasuruan Ambil Peran Aktif dalam Gerakan Indonesia Berkiblat 2026



PASURUAN – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan menunjukkan komitmen keagamaan dan edukasi yang luar biasa dengan terlibat aktif dalam Gerakan Indonesia Berkiblat. Di bawah motor penggerak sekaligus komando Kepala MIN 1 Pasuruan, Bapak Abdul Qodir, seluruh civitas akademika madrasah sukses menggelar pengukuran arah kiblat massal pada Rabu, 15 Juli 2026, tepat pukul 16.27 WIB.

Kegiatan ini memanfaatkan fenomena astronomis tahunan yang dikenal sebagai Rashdul Qiblah atau Istiwa A'zam. Pada momen langka tersebut, posisi matahari tepat berada di atas Ka'bah, sehingga bayangan benda tegak lurus di mana pun di wilayah Indonesia akan mengarah tepat ke kiblat.

Integrasi Sains dan Agama di Lingkungan Madrasah

Bapak Abdul Qodir selaku Kepala MIN 1 Pasuruan menegaskan bahwa keikutsertaan madrasah dalam gerakan nasional ini bukan sekadar mengikuti seremonial, melainkan bagian dari literasi dakwah dan sains bagi seluruh warga sekolah.

"Tepat pukul 16.27 WIB hari ini, kami bergerak bersama untuk memastikan akurasi arah kiblat di madrasah. Ini adalah bentuk integrasi nyata antara ilmu falak (sains) dan syariat agama. Kami ingin para guru dan staf memahami bahwa menentukan arah kiblat bisa dilakukan dengan cara yang sangat ilmiah namun sederhana," ujar Bapak Abdul Qodir di sela-sela kegiatan.

Jalannya Proses Pengukuran

  1. Bertempat di lapangan utama MIN 1 Pasuruan, proses verifikasi arah kiblat ini berlangsung dengan tertib dan penuh antusias. Mengikuti panduan resmi, tim madrasah menggunakan metode tradisional yang sangat akurat:
  2. Penyusunan Instrumen: Menggunakan Penyangga lurus yang dipasang tegak lurus di permukaan tanah datar menggunakan bantuan bandul pengukur sudut.
  3. Pengamatan Waktu: Tepat saat jarum jam menunjukkan angka 16.27 WIB, bayangan tongkat diamati secara saksama.
  4. Penandaan Arah: Garis bayangan yang terbentuk langsung ditarik ke arah sebaliknya untuk menentukan koordinat kiblat yang presisi 100%.

Melalui partisipasi aktif dalam Gerakan Indonesia Berkiblat ini, MIN 1 Pasuruan tidak hanya berhasil menyelaraskan arah kiblat di tempat ibadah madrasah, tetapi juga berhasil memberikan edukasi praktis bagi ekosistem pendidikan Islam di Pasuruan dalam merespons fenomena alam demi kesempurnaan ibadah.

Menebar Harmoni Sejak Dini: MIN 1 Pasuruan Resmikan Guru dan Siswa Jadi Duta Moderasi Beragama 2026!

 


PASURUAN, MATAMUDA – Menanamkan nilai toleransi dan saling menghargai idealnya dimulai sejak usia belia. Semangat inilah yang melatarbelakangi langkah progresif MIN 1 Pasuruan di tahun 2026 ini. Lewat sebuah seremoni khidmat, madrasah yang berlokasi di Beji, Kabupaten Pasuruan ini resmi mengukuhkan barisan Duta Moderasi Beragama. Uniknya, gerakan ini melibatkan kolaborasi erat dan simultan antara guru serta siswa.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus informasi digital, anak-anak usia dasar rentan terpapar paham yang kurang inklusif. Oleh karena itu, kehadiran figur teladan di lingkungan terdekat sekolah menjadi garda terdepan untuk menjaga kedamaian.

"Moderasi beragama bukan berarti mendangkalkan akidah, melainkan menumbuhkan sikap jalan tengah (wasathiyyah)—tidak ekstrem kanan maupun kiri. Dengan mengukuhkan guru dan siswa sekaligus, kita membangun ekosistem toleransi yang hidup secara organik, mulai dari penyusunan materi di meja guru hingga obrolan santai siswa di kantin," ungkap Kepala Madrasah saat memberikan sambutan.

Mengapa Harus Duet Guru dan Siswa?

Selama ini, program duta kedamaian sering kali hanya berfokus pada salah satu elemen saja. Namun, MIN 1 Pasuruan memilih formula sinergis:

  • Peran Guru (Kader Moderasi): Bertindak sebagai mentor, perancang metode pembelajaran yang inklusif, serta jangkar moral di lingkungan pendidik.
  • Peran Siswa (Duta Moderasi): Menjadi agen perubahan sebaya (peer influencer) yang menyebarkan virus-virus perdamaian secara kasual kepada teman-temannya tanpa kesan menggurui.

Rencana Aksi Nyata Duta Moderasi 2026

Untuk memastikan komitmen ini bukan sekadar selempang formalitas belaka, para Duta dan Kader Moderasi MIN 1 Pasuruan telah menyusun target kerja konkret yang akan dijalankan sepanjang tahun ajaran ini:

1.Injeksi Nilai dalam Kurikulum Kelas:Bulan ke-1.

Para guru kader mulai menyisipkan nilai-nilai toleransi, kerja sama, dan tasamuh (saling menghargai) ke dalam materi pembelajaran harian secara kreatif dan interaktif.

2.Kampanye Sebaya Lewat Konten Kreatif:Bulan ke-2.

Duta dari kalangan siswa mulai aktif membuat konten video pendek, poster ceria, atau sesi bercerita singkat di depan kelas saat jam istirahat mengenai indahnya berteman tanpa memandang perbedaan.

3.Aksi Sosial dan Kolaborasi Lintas Komunitas:Bulan ke-4.

Mengadakan kegiatan berbagi kebaikan dengan lingkungan sekitar madrasah untuk mengasah empati sosial langsung di dunia nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.

4.Evaluasi & Refleksi Indeks Harmoni:Setiap Akhir Semester.

Melakukan survei berkala mengenai kenyamanan lingkungan sekolah untuk memantau penurunan angka perundungan (bullying) dan memastikan iklim madrasah tetap ramah anak.

Dengan dikukuhkannya para duta baru ini, MIN 1 Pasuruan diproyeksikan menjadi contoh nyata bagi madrasah-madrasah lain di Jawa Timur dalam mencetak generasi yang cerdas secara akademik, matang secara spiritual, serta inklusif dalam bermasyarakat.

Selamat mengemban amanah untuk para Duta Moderasi MIN 1 Pasuruan! Yuk, tebarkan terus energi positif dan damai ke sekeliling kita!

Tanamkan Karakter Mulia di Mushollah Al Ikhlas MIN 1 Pasuruan


MATAMUDA – Penanaman nilai-nilai toleransi dan kedamaian sejak dini menjadi fokus utama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan. Guna membentengi generasi muda dari paham radikal dan menumbuhkan sikap saling menghargai, MIN 1 Pasuruan menggelar kegiatan sosialisasi Moderasi Beragama pada tahun 2026 ini.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dilaksanakan di Mushollah Al Ikhlas MIN 1 Pasuruan dan diikuti oleh seluruh siswa dengan antusias. Hadir sebagai pemateri utama, Ibu Shobakhul Khoir, S.Pd.I, yang menyampaikan materi dengan pendekatan yang hangat, ceria, dan mudah dipahami oleh anak-anak usia sekolah dasar.

Tanamkan Karakter Mulia di Mushollah Al Ikhlas

Dalam penyampaiannya di hadapan para siswa, Ibu Shobakhul Khoir menekankan bahwa madrasah bukan hanya tempat untuk mengejar nilai akademik, tetapi juga tempat menyemai akhlak mulia. Mushollah Al Ikhlas menjadi saksi bagaimana anak-anak diajak untuk memahami bahwa perbedaan adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan alasan untuk bermusuhan.

"Anak-anakku, berteman itu tidak boleh pilih-pilih hanya karena suku, warna kulit, atau cara beribadah yang berbeda. Islam mengajarkan kita untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil 'Alamin). Kita harus saling menyayangi," ujar Ibu Shobakhul Khoir di sela-sela materinya.

Materi Moderasi Beragama Tingkat Sekolah Dasar (SD/MI)

Memahamkan konsep "Moderasi Beragama" kepada anak-anak tingkat sekolah dasar tentu membutuhkan bahasa yang sederhana. Ibu Shobakhul Khoir mengemas materi tersebut ke dalam 4 pilar utama yang disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak:

1. Komitmen Kebangsaan (Cinta Tanah Air)

Konsep untuk Anak: Mengenalkan bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari iman. Anak-anak diajarkan untuk menghormati simbol negara seperti bendera Merah Putih, lagu Indonesia Raya, dan dasar negara Pancasila.

Penerapan: Mengikuti upacara bendera dengan tertib dan menjaga fasilitas sekolah sebagai wujud menjaga aset bangsa.

2. Toleransi (Menghargai Perbedaan)

Konsep untuk Anak: Menghormati teman yang memiliki latar belakang berbeda. Di sekolah dasar, ini berarti tidak mengejek teman yang memiliki dialek daerah yang berbeda atau cara berdoa yang berbeda.

Penerapan: Mau bermain dan berbagi bekal dengan semua teman tanpa membeda-bedakan.

3. Anti-Kekerasan (Menyayangi Sesama)

Konsep untuk Anak: Menyelesaikan masalah atau ketidaksepakatan dengan cara berbicara baik-baik, bukan dengan fisik (memukul) atau kata-kata kasar (perundungan/bullying).

Penerapan: Menolak perilaku bullying di kelas dan segera meminta bantuan guru jika melihat ada teman yang disakiti.

4. Ramah terhadap Tradisi dan Budaya Lokal

Konsep untuk Anak: Menghargai adat istiadat dan budaya yang ada di lingkungan sekitar selama tidak melanggar syariat agama.

Penerapan: Bangga mengenakan pakaian adat saat hari besar nasional dan mempelajari kesenian tradisional daerah.

Membentuk Generasi Berkarakter Sejak Dini

Melalui kegiatan di MATAMUDA ini, MIN 1 Pasuruan berharap materi yang disampaikan oleh Ibu Shobakhul Khoir, S.Pd.I tidak hanya menjadi pengetahuan di atas kertas, melainkan menjadi gaya hidup sehari-hari bagi para siswa.

Suasana interaktif yang dibangun di Mushollah Al Ikhlas terbukti efektif. Banyak siswa yang aktif bertanya dan menjawab kuis singkat seputar toleransi yang diberikan di akhir sesi. Dengan pondasi moderasi beragama yang kuat sejak tingkat dasar, siswa-siswi MIN 1 Pasuruan diharapkan tumbuh menjadi generasi cerdas, beriman, dan inklusif di masa depan.

TIM LITERASI MIN 1 PASURUAN SOSIALISASIKAN GERAKAN SEKOLAH MENULIS BUKU (GSMB) DI MUSHALLAH

 



​PASURUAN – Suasana khidmat sekaligus penuh semangat menyelimuti Mushallah MIN 1 Pasuruan pada Selasa, 14 Juli 2026. Bukan hanya dipadati oleh jemaah yang hendak beribadah, mushallah sekolah hari ini bertransformasi menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan melalui kegiatan masa ta'aruf siswa madrasah (MATAMUDA) hari kedua.

​Pada kesempatan tersebut, Tim Literasi MIN 1 Pasuruan yang diketuai oleh Ibu Maufuza, M.Pd., menggelar sosialisasi intensif mengenai Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB). Program nasional ini dihadirkan di lingkungan madrasah untuk memantik minat baca, mengasah ketajaman berpikir, serta mewadahi bakat menulis para siswa sejak usia dini.

​Meneladani Fungsi Masjid di Zaman Rasulullah

​Pemilihan Mushallah MIN 1 Pasuruan sebagai lokasi sosialisasi bukanlah tanpa alasan. Ibu Maufuza, M.Pd., dalam pemaparannya menekankan pentingnya menghidupkan kembali esensi tempat ibadah sebagaimana yang dicontohkan pada zaman Nabi Muhammad SAW.

​"Kami sengaja memilih mushallah ini untuk meneladani zaman Rasulullah. Pada masa itu, masjid bukan sekadar tempat untuk menegakkan salat ritual semata, melainkan episentrum peradaban—tempat bermusyawarah, menyusun strategi, dan yang paling utama, tempat mencari serta menyebarkan ilmu pengetahuan," ujar Ibu Maufuza di hadapan para peserta.

​Melalui filosofi ini, Tim Literasi ingin menanamkan pola pikir kepada para siswa baru bahwa kegiatan belajar dan berkarya—termasuk menulis buku—merupakan bagian dari ibadah dan manifestasi dari menuntut ilmu yang sangat mulia.

​Siap Melahirkan Penulis Muda Lewat GSMB

​Dalam sesi sosialisasi tersebut, Tim Literasi memaparkan secara detail mengenai teknis pelaksanaan GSMB, mulai dari tahapan pendampingan menulis, kurasi karya, hingga proses penerbitan buku ber-ISBN yang nantinya akan merangkum karya-karya terbaik siswa MIN 1 Pasuruan.

​Kegiatan MATAMUDA hari kedua ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Dengan dimulainya langkah awal dari mushallah ini, MIN 1 Pasuruan optimistis dapat mencetak generasi islami yang tidak hanya taat beribadah, tetapi juga literat, kritis, dan mampu mewarnai dunia lewat goresan pena mereka.

Hari Kedua MATAMUDA MIN 1 Pasuruan: Ust. Mahmud, M.Pd. Kupas Tuntas 6 Syarat Mencari Ilmu

 


​PASURUAN (14 Juli 2026) – Rangkaian kegiatan Masa Ta'ruf Siswa Madrasah Baru (MATAMUDA) di MIN 1 Pasuruan memasuki hari kedua dengan penuh khidmat. Pada hari ini, Selasa (14/7), para peserta didik baru disuguhi siraman rohani berupa tausiyah interaktif yang disampaikan oleh Ust. Mahmud, M.Pd. di aula utama madrasah.

​Dalam tausiyahnya, Ust. Mahmud membekali para siswa baru dengan fondasi spiritual dan mental yang kuat melalui materi penting: 6 Syarat Utama Mencari Ilmu. Mengutip bait syi'ir terkenal dari Kitab Alala, beliau menjelaskan secara runtut bahwa keberhasilan belajar tidak bisa diraih secara instan, melainkan harus memenuhi enam modal utama:

  1. ​Dzakun (Cerdas/Akal): Bukan berarti harus terlahir genius, melainkan mau menggunakan akal pikiran dengan maksimal untuk terus belajar dan memahami hal baru.
  2. ​Hirsun (Semangat): Rasa ingin tahu yang tinggi dan tidak mudah menyerah saat menghadapi materi pelajaran yang sulit.
  3. ​Ishtibarun (Sabar): Sabar dalam menjalani proses belajar, mendengarkan guru, serta sabar menahan diri dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi belajar.
  4. ​Bulghatun (Biaya/Bekal): Memerlukan pengorbanan materi, baik dari orang tua untuk fasilitas sekolah maupun kesiapan siswa menjaga perlengkapan belajarnya.
  5. ​Irsyadu Ustadzin (Petunjuk Guru): Pentingnya takzim (hormat) dan mengikuti arahan serta bimbingan dari Bapak/Ibu guru agar ilmu yang didapat menjadi berkah.
  6. ​Thulu Zamani (Waktu yang Lama): Mencari ilmu adalah proses panjang yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, bukan sesuatu yang bisa dikuasai dalam semalam.

​"Anak-anakku yang hebat, kalian kini sudah resmi menjadi bagian dari MIN 1 Pasuruan. Enam syarat yang disampaikan tadi adalah kunci rahasia agar kalian tidak hanya pintar, tetapi ilmu kalian juga bermanfaat dan berkah dunia akhirat," pesan Ust. Mahmud di sela-sela tausiyahnya yang disambut antusias oleh para siswa.

​Kepala MIN 1 Pasuruan menyampaikan bahwa kegiatan MATAMUDA hari kedua ini sengaja diisi dengan materi keagamaan yang aplikatif agar para siswa baru memiliki kesiapan mental yang matang sejak dini.

​Acara yang berlangsung dari pagi hingga menjelang siang ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ust. Mahmud. Melalui pembekalan ini, diharapkan para siswa baru MIN 1 Pasuruan dapat menjalani masa pendidikan mereka ke depan dengan penuh semangat, disiplin, dan akhlakul karimah. (Humas/MIN1Pasuruan)

Sambut Hangat Zoom Kanwil, Kasi Pendma Kemenag Pasuruan Apresiasi Kesiapan MIN 1 Pasuruan

 

PASURUAN – Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Pendma) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan H. BUSTANUL ARIFIN, S.Pd., M. Pd menghadiri agenda rapat koordinasi virtual via Zoom Meeting yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Jawa Timur. Uniknya, kegiatan zoom kali ini diikuti langsung dari lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan.

Kehadiran Kasi Pendma di MIN 1 Pasuruan ini disambut hangat oleh kepala madrasah beserta jajaran dewan guru. Selain untuk mengikuti arahan strategis dari Kanwil, momentum ini juga dimanfaatkan untuk meninjau langsung perkembangan program pendidikan di madrasah tersebut.

Sambut Gembira dan Berikan Apresiasi

Di sela-sela kegiatan, Kasi Pendma menyampaikan rasa gembira dan bangganya atas pelaksanaan kegiatan peninjauan serta kesiapan yang ditunjukkan oleh MIN 1 Pasuruan. Menurutnya, atmosfer pendidikan dan komitmen yang ditunjukkan oleh seluruh civitas akademika di MIN 1 Pasuruan sangat positif dalam mendukung program-program Kementerian Agama.

"Kami sangat menyambut gembira dan mengapresiasi luar biasa pelaksanaan kegiatan di MIN 1 Pasuruan ini. Semangat, sinergi, dan kesiapan infrastruktur serta SDM di sini membuktikan bahwa madrasah kita siap melompat lebih tinggi untuk prestasi mandiri dan berprestasi," ujar Kasi Pendma.

Fokus Arahan Zoom Kanwil

Rapat koordinasi bersama Kanwil Kemenag Jatim tersebut membahas sejumlah agenda krusial, antara lain:

  1. Peningkatan mutu dan digitalisasi madrasah.
  2. Evaluasi program kerja semester berjalan.
  3. Persiapan agenda strategis pendidikan madrasah di tingkat provinsi.

Dengan dilaksanakannya zoom langsung dari MIN 1 Pasuruan, diharapkan dapat memberikan motivasi tambahan bagi madrasah-madrasah lain di Kabupaten Pasuruan untuk terus berinovasi dan menjaga kualitas pelayanan pendidikan keagamaan. Kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh khidmat hingga akhir acara. (Red)