PASURUAN – Era disrupsi teknologi telah
membawa perubahan mendasar dalam berbagai sendi kehidupan, tidak terkecuali
pada sektor pendidikan. Menghadapi tantangan tersebut, transformasi digital
kini menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditawar lagi dalam upaya
meningkatkan mutu dan daya saing pendidikan madrasah. Penguatan kompetensi
digital bagi para guru dan tenaga kependidikan harus terus dipacu secara
berkelanjutan agar proses pembelajaran di kelas mampu merespons dinamika zaman
tanpa mengikis akar nilai-nilai keislaman serta karakter peserta didik.
Hal mendasar tersebut ditegaskan oleh pakar
pendidikan Islam, Prof. Dr. Muhammad Thohir, saat menjadi narasumber
utama dalam kegiatan penguatan kompetensi pendidik yang berlangsung di
Pasuruan. Dalam paparan komprehensifnya yang bertajuk "Digital Learning
di Madrasah", ia menguraikan secara mendalam bagaimana paradigma
pembelajaran berbasis digital harus dimaknai dan diimplementasikan secara nyata
oleh para pendidik madrasah masa kini.
Redefinisikan Digital Learning: Bukan
Sekadar Memindahkan Media
Di hadapan ratusan pendidik dan pengelola lembaga
pendidikan madrasah, Prof. Thohir menggarisbawahi kesalahan kaprah yang kerap
terjadi dalam memahami digitalisasi pendidikan. Menurutnya, digital learning
sering kali disalahartikan sebatas pemindahan bahan ajar konvensional ke dalam
bentuk digital, seperti sekadar mengubah buku cetak menjadi berkas PDF atau
mengalihkan ceramah tatap muka menjadi tatap maya.
"Digital learning adalah sebuah keniscayaan.
Guru madrasah tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi harus mampu
mendesain pengalaman belajar yang kreatif, kolaboratif, bermakna, dan tetap
berlandaskan nilai-nilai keislaman. Teknologi hanyalah alat, sedangkan guru
tetap menjadi penggerak utama perubahan pendidikan," tegas Prof. Thohir di
hadapan para peserta.
Ia menjelaskan bahwa digital learning
sejatinya adalah transformasi menyeluruh yang mencakup tiga domain utama
pembelajaran:
- Perancangan
(Design): Bagaimana merumuskan skenario pembelajaran yang
interaktif dan adaptif terhadap tingkat pemahaman murid.
- Pelaksanaan
(Execution): Memanfaatkan ekosistem digital untuk menciptakan
ruang belajar yang partisipatif, di mana siswa aktif mengkonstruksi
pengetahuan mereka sendiri.
- Evaluasi
(Evaluation): Menggunakan instrumen berbasis data terukur (data-driven
assessment) untuk memantau perkembangan belajar siswa secara real-time
dan personal.
Mengoptimalkan Potensi AI, LMS, dan Keterampilan
Abad ke-21
Memasuki gelombang Revolusi Industri 4.0 dan era
Masyarakat 5.0, pemanfaatan teknologi canggih seperti kecerdasan artifisial (Artificial
Intelligence/AI) dan Learning Management System (LMS) menjadi sarana
penting yang harus dikuasai oleh ekosistem madrasah. Prof. Thohir menuturkan
bahwa integrasi platform digital dan media interaktif tidak boleh sekadar
menjadi pajangan teknologi, melainkan harus memiliki orientasi pedagogical yang
jelas.
Penggunaan AI dan LMS di lingkungan madrasah
hendaknya diarahkan untuk mencapai tiga sasaran utama:
- Peningkatan
Kualitas Pembelajaran: Menghadirkan materi ajar yang lebih
kontekstual, berbasis visualisasi interaktif, serta mampu mengakomodasi
ragam gaya belajar siswa (differentiated learning).
- Penguatan
Literasi Digital: Membekali siswa dengan pemahaman kritis dalam
menyaring, menganalisis, dan memanfaatkan informasi secara bertanggung
jawab di tengah banjir data internet.
- Pengembangan
Kompetensi 4C: Mengasah kemampuan berpikir kritis (critical
thinking), kreativitas (creativity), komunikasi (communication),
dan kolaborasi (collaboration) yang menjadi modal utama dalam
persaingan global abad ke-21.
Prof. Thohir menambahkan bahwa keberadaan platform
digital harus mempermudah tugas administratif guru, sehingga guru memiliki
lebih banyak waktu berinteraksi secara mendalam dengan para muridnya.
Menjaga Sentuhan Kemanusiaan (Human Touch)
di Era High-Tech
Meskipun akselerasi teknologi menawarkan berbagai
kemudahan dan efisiensi, Prof. Thohir secara khusus mengingatkan agar proses
transformasi digital tidak melupakan aspek emosional dan spiritual peserta
didik. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan (transfer
of knowledge), melainkan juga proses pembentukan jiwa dan karakter (transfer
of values).
"Transformasi digital tidak boleh
menghilangkan sentuhan kemanusiaan dalam proses pendidikan. Sebaliknya,
teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi, kolaborasi,
kreativitas, dan pembentukan karakter peserta didik," ungkapnya.
Dalam pandangannya, kecanggihan algoritma AI atau
kemewahan platform digital tidak akan pernah bisa menggantikan peran figurif
seorang guru. Kehadiran guru sebagai teladan, motivator, dan pembimbing empati
tetap tidak tergantikan. Pemanfaatan teknologi justru harus menjadi jembatan
untuk mempererat komunikasi antara guru, murid, dan orang tua, sehingga
terbangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan humanis.
Sinergi Digital Savvy dan Nilai-Nilai
Keislaman
Salah satu poin paling krusial yang diangkat dalam
pertemuan tersebut adalah keunggulan komparatif yang dimiliki oleh lembaga
pendidikan madrasah dibandingkan sekolah umum. Madrasah memiliki pondasi
tradisi keagamaan, pendidikan moral, dan pembentukan akhlak yang sangat kuat.
Oleh karena itu, transformasi digital di madrasah
tidak boleh mengadopsi mentah-mentah tren teknologi tanpa melakukan penyaringan
nilai. Transformasi tersebut harus berjalan secara beriringan dengan penguatan
keagamaan yang moderat dan inklusif.
"Madrasah memiliki keunggulan dalam pendidikan
karakter dan nilai-nilai keagamaan. Karena itu, transformasi digital harus
berjalan seiring dengan penguatan akhlak, moderasi beragama, dan pembiasaan
nilai-nilai luhur agar peserta didik tidak hanya cakap secara digital, tetapi
juga bijak dalam memanfaatkan teknologi," tambah Prof. Thohir.
Dalam konteks ini, konsep kearifan digital (digital
wisdom) menjadi sangat relevan. Siswa madrasah tidak hanya diajarkan
cara mengoperasikan perangkat teknologi (digital skills), tetapi juga
dididik untuk memiliki kecerdasan etis (digital ethics) dalam
berinteraksi di dunia maya. Hal ini mencakup:
- Penerapan
etika berkomunikasi di media sosial yang santun dan menjauhi ujaran
kebencian (ujaran al-qawl al-ma'ruf).
- Penanaman
sikap tabayyun (verifikasi informasi) untuk menangkal maraknya berita
bohong (hoax) dan disinformasi.
- Pemanfaatan
ruang digital untuk menyebarkan syiar kebaikan, perdamaian, serta
pemahaman agama yang tawasuth (moderat).
Mendorong Terwujudnya Madrasah Unggul dan
Berdaya Saing Global
Kegiatan penguatan kompetensi pendidik ini
dirancang bukan sekadar sebagai forum diskusi teoritis, melainkan sebagai batu
pijakan tindakan nyata. Melalui sesi pelatihan dan pemaparan materi ini, para
guru dan tenaga kependidikan diharapkan pulang membawa wawasan baru serta
keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di madrasah masing-masing.
Penguasaan terhadap pembelajaran digital yang
inovatif, adaptif, dan berpusat pada peserta didik (student-centered
learning) menjadi kunci utama untuk membawa madrasah naik kelas.
Akselerasi Mutu Pendidikan Madrasah
Langkah-langkah strategis yang direkomendasikan
untuk mewujudkan visi madrasah berkelas dunia meliputi:
- Peningkatan
Infrastruktur dan Aksesibilitas: Memastikan sarana dan prasarana
penunjang digitalisasi dapat diakses secara merata oleh guru dan siswa.
- Pelatihan
Berkelanjutan bagi Pendidik: Mengadakan upskilling dan reskilling
berkala terkait pemanfaatan teknologi pembelajaran terkini dan penyusunan
media ajar interaktif.
- Pengembangan
Kurikulum Berbasis Digital & Karakter: Menyusun desain kurikulum
yang mengawinkan literasi digital, keterampilan masa depan, dan penguatan
Profil Pelajar Pancasila yang Rahmatan lil 'Alamin.
- Kemitraan
dan Kolaborasi: Membuka jaringan kerja sama antar-madrasah, perguruan
tinggi, serta industri teknologi untuk mempercepat adopsi inovasi
pendidikan.
Melalui langkah-langkah terintegrasi ini, madrasah
optimistis mampu melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya memiliki
keunggulan akademis dan literasi teknologi yang mumpuni, tetapi juga memiliki
kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, dan kecintaan pada tanah air.
Komitmen Bersama Mewujudkan Transformasi
Pendidikan
Kegiatan penguatan kompetensi pendidik di Pasuruan
ini menjadi bukti nyata komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan dalam
mendorong percepatan transformasi digital di lingkungan madrasah. Menghadapi
masa depan yang penuh ketidakpastian dan perubahan yang begitu cepat, madrasah
terbukti tidak tinggal diam atau sekadar menjadi penonton.
Dengan semangat inovasi yang terus dipelihara,
madrasah siap membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan modern yang relevan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa pernah mencabut
dirinya dari akar tradisi keagamaan, nilai keimanan, dan budaya luhur bangsa
Indonesia. Digital learning bukan lagi sebuah pilihan opsional,
melainkan fondasi utama bagi madrasah yang unggul, maju, bermutu, dan siap
bersaing di kancah nasional maupun global.
.jpeg)





















