Kakanwil Kemenag Jatim Dorong Waka Kesiswaan Menjadi
Pemimpin Kreatif, Penggerak Potensi, dan Katalisator Karakter Siswa
Dari MIN 1 Pasuruan : Ibu Eka Marginingsih,S.Pd
BATU — Wakil Kepala Madrasah (Waka) Bidang
Kesiswaan memiliki peran strategis dalam membentuk wajah madrasah melalui
pembinaan peserta didik, pengembangan potensi, penegakan kedisiplinan, hingga
penguatan karakter. Karena itu, Waka Kesiswaan dituntut tidak hanya mampu
mengelola kegiatan, tetapi juga menjadi pemimpin yang kreatif, humanis, dan
mampu membaca kebutuhan siswa.
Pesan
tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Kapasitas
Waka Kesiswaan Jenjang MI, MTs, dan MA se-Jawa Timur Tahun 2026 yang
digelar oleh Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama
Provinsi Jawa Timur, Rabu–Jumat, 16–18 September 2026, di Kusuma
Agrowisata Resort & Convention Hotel, Batu, Jawa Timur.
Mengusung
tema “Waka Kesiswaan 4.0: Pemimpin Kreatif, Penggerak Potensi, dan
Katalisator Karakter Siswa”, kegiatan ini menjadi ruang penguatan
kompetensi sekaligus refleksi bagi para pengelola kesiswaan madrasah di Jawa
Timur.
Dalam
pengarahan pembukaan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa
Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I, memberikan penekanan khusus
tentang makna kepemimpinan kreatif.
“Pemimpin
kreatif adalah pemimpin pada level thoriqoh. Pemimpin yang berpikir tentang
manfaat, tanggung jawab, dan kebajikan.”
Menurutnya,
ketika seorang pemimpin telah menjadikan manfaat, tanggung jawab, dan kebajikan
sebagai dasar berpikir, maka kepemimpinan akan bergerak ke tahap berikutnya,
yakni mampu menentukan program apa yang seharusnya diterapkan di lembaganya.
Pesan
tersebut menjadi pengingat bahwa program kesiswaan seharusnya tidak berhenti
pada rutinitas administratif. Setiap kegiatan harus memiliki arah, memberikan
manfaat, dan menjawab kebutuhan nyata peserta didik.
Menangani Siswa dengan Pendekatan Qolbu
Salah satu
pesan penting dalam pengelolaan kesiswaan adalah bagaimana menghadapi siswa
yang sedang mengalami persoalan.
Dalam
konteks tersebut, pendekatan qolbu menjadi penting. Penanganan siswa
bermasalah diarahkan melalui pola yang humanis dan familier, sehingga
siswa tidak hanya diposisikan sebagai pihak yang harus diberi sanksi, tetapi
juga sebagai pribadi yang perlu dipahami dan dibimbing.
Pendekatan
humanis menuntut Waka Kesiswaan dan guru untuk melihat kondisi siswa secara
utuh. Setiap perilaku memiliki konteks dan membutuhkan respons yang tepat.
Dengan
komunikasi yang dekat, penuh perhatian, dan tetap berpegang pada prinsip
pendidikan, pembinaan diharapkan dapat membantu siswa menyadari kesalahan,
memperbaiki diri, dan kembali berkembang secara positif.
Tiga Hari Memperkuat Kompetensi Kesiswaan
Selama tiga
hari pelaksanaan FGD, peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan
langsung dengan tantangan pengelolaan peserta didik di madrasah.
Pada hari
pertama, peserta mendapatkan Pengarahan Kebijakan Teknis Madrasah Jatim
dari Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, Dr. Sugiyo, M.Pd.
Selanjutnya,
Dr. Arini Indah Nihayaty, M.Si, Kepala Tim Kesiswaan Kanwil Jatim,
menyampaikan materi Manajemen Data Kesiswaan: Optimalisasi Pengelolaan Data
Digital yang Akuntabel.
Materi
berikutnya bertajuk “Memimpin dengan Cinta”, yang mengangkat peran Waka
Kesiswaan sebagai arsitek ekosistem madrasah yang aman, berkarakter, dan
berdampak. Materi ini disampaikan oleh H. Agus Yulianto, S.Pd., M.Pd.
Hari kedua
diawali dengan outbound dan leadership team building untuk membangun
kerja sama, karakter, dan kepemimpinan.
Peserta
kemudian mendapatkan materi tentang Pendekatan Disiplin Positif dalam
Merespon Kekerasan dan Eksploitasi Seksual Online pada Anak (OCSEA) yang
disampaikan oleh Dita Amali, S.Sos., M.Psi., Direktur PLATO Foundation.
Pada malam
harinya, peserta mengikuti materi Peran Waka Kesiswaan sebagai Fasilitator
Psychological First Aid (PFA) dalam Penanganan Masalah Mental Siswa bersama
Dr. Ilham Nur Alfian, M.Psi., Psikolog Universitas Airlangga.
Sementara
itu, pada hari ketiga, penguatan diarahkan pada kebijakan kesiswaan nasional
dan regulasi kesiswaan madrasah terkini dari pusat yang disampaikan oleh H.
Solla Taufiq, S.H.I., Kasubdit Kesiswaan Kementerian Agama RI.
Kegiatan
ditutup dengan presentasi kelompok mengenai Rencana Tindak Lanjut (RTL),
evaluasi program, dan penyusunan rencana aksi.
Dari Batu untuk Madrasah
FGD ini
menjadi momentum untuk membawa perspektif baru dalam pengelolaan kesiswaan.
Waka Kesiswaan tidak lagi hanya dipandang sebagai pengelola kegiatan siswa,
tetapi sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem
pendidikan yang aman, inklusif, berkarakter, dan berpihak pada tumbuh kembang
peserta didik.
Semangat Waka
Kesiswaan 4.0 pada akhirnya bukan sekadar tentang penggunaan teknologi atau
digitalisasi pengelolaan data. Lebih dari itu, 4.0 juga berbicara tentang cara
berpikir, cara memimpin, cara memahami siswa, dan cara menghadirkan program
yang benar-benar memberikan manfaat.
Dari Batu,
semangat itu dibawa kembali ke madrasah masing-masing: memimpin dengan
kreativitas, menggerakkan potensi dengan cinta, dan membentuk karakter siswa
dengan pendekatan qolbu.
Kutipan Utama





.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




