google-site-verification: googlec37f5abc404fa346.html MIN 1 PASURUAN

Sepi Itu Datang

 Sangat berat untuk menghadapi kehilangan, terutama saat orang yang paling kita cintai pergi untuk selamanya. Kesepian yang mengikuti kepergiannya bisa terasa begitu dalam, seperti lubang kosong yang takkan pernah terisi. Kisah ini adalah tentang seorang wanita bernama Ibu Siti, yang harus menemukan kembali jalan hidupnya setelah ditinggal pergi oleh suaminya.

Suara azan Subuh berkumandang, membangunkan Ibu Siti dari tidurnya yang tak nyenyak. Sudah enam bulan sejak suaminya, Bapak Budi, meninggal dunia. Tempat tidur di sebelahnya terasa dingin dan kosong. Setiap pagi, pemandangan itu terasa seperti tusukan baru di hatinya.

Dulu, pagi hari di rumah mereka selalu ramai. Bapak Budi akan membangunkan Ibu Siti dengan lembut, lalu mereka akan salat Subuh bersama, disusul dengan secangkir teh hangat dan obrolan ringan tentang rencana hari itu. Kini, semua kenangan itu hanya menjadi bisikan pahit yang menggaung di dinding rumah. Ibu Siti merasa seperti bagian dari dirinya juga ikut mati.

Anak-anaknya sudah dewasa dan sibuk dengan keluarga masing-masing. Mereka sering menelepon dan menjenguk, namun Ibu Siti tahu, mereka juga punya hidup sendiri. Ia tidak ingin menjadi beban. Kesepian itu perlahan mulai menggerogoti. Ia jadi sering melamun, malas keluar rumah, dan nafsu makannya menurun drastis.

Suatu sore, anak sulungnya, Rina, datang menjenguk. Ia melihat ibunya yang terlihat begitu kurus dan tak bersemangat. "Ibu, jangan terus-terusan begini. Bapak pasti sedih melihat Ibu seperti ini," kata Rina dengan mata berkaca-kaca.

"Ibu tahu, Nak. Tapi rasanya... Ibu tidak tahu bagaimana caranya untuk bahagia lagi," jawab Ibu Siti lirih.

Rina memeluk ibunya erat. "Kebahagiaan bukan sesuatu yang kita tunggu, Bu. Itu sesuatu yang kita ciptakan. Coba lakukan hal-hal kecil, pelan-pelan."

Ucapan Rina terus terngiang di benak Ibu Siti. Ia mulai memikirkan kembali hidupnya. Ia sadar, ia tidak bisa terus-menerus terkurung dalam duka. Keesokan harinya, ia mencoba melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan: merawat taman di halaman belakang.

Awalnya terasa berat. Namun, saat ia mulai menyentuh tanah, memangkas ranting-ranting kering, dan menyiram bunga mawar kesayangan Bapak Budi, ia merasakan sedikit ketenangan. Sambil bekerja, ia berbicara pada bunga-bunga itu seolah-olah mereka adalah teman barunya. "Budi suka sekali mawar ini," bisiknya pada salah satu bunga yang mekar.

Seiring berjalannya waktu, Ibu Siti mulai menemukan kembali semangatnya melalui hal-hal kecil. Ia bergabung dengan pengajian di masjid, bertemu dengan tetangga-tetangga yang sudah lama tidak ia sapa, dan mulai memasak kembali makanan favorit Bapak Budi. Setiap kali ia berbagi masakan itu dengan tetangganya, senyum tipis terukir di wajahnya.

Ia menyadari, mengatasi kesepian bukan berarti melupakan, melainkan belajar hidup berdampingan dengan kenangan. Ia tidak bisa menghapus Bapak Budi dari hidupnya, dan ia tidak perlu melakukannya. Kenangan itu adalah bagian dari dirinya, dan cinta itu akan selalu ada.

Suatu malam, Ibu Siti duduk di teras, menatap langit bertabur bintang. Di sebelahnya, secangkir teh hangat mengepul. Ia tersenyum. Senyum yang tulus, bukan paksaan. Ia masih merasa kehilangan, tapi rasa sakit itu tidak lagi terasa kosong. Ia menyadari, meski Bapak Budi tidak ada lagi di sisinya, ia telah menemukan caranya untuk mengisi kembali hidupnya. Bukan dengan kehadiran fisik, melainkan dengan cinta, kenangan, dan keberanian untuk terus melangkah maju.

Kepergian Bapak Budi mengajarkannya bahwa hidup terus berjalan, dan ia punya pilihan: apakah akan terus terhenti dalam duka, atau melanjutkan perjalanan dengan membawa serta cinta yang pernah ada. Ia memilih yang kedua. Dan di malam yang hening itu, ia tahu, ia tidak lagi sendirian. Ia punya kenangan, ia punya diri sendiri, dan ia punya hari esok yang menanti untuk diisi.

Beberapa Tips untuk Mengatasi Kesepian Setelah Kehilangan

  1. Izinkan diri Anda Merasa Sedih: Jangan menekan perasaan duka. Menangis, berbicara tentang almarhum, atau menulis di buku harian bisa sangat membantu.
  2. Temukan Hobi atau Aktivitas Baru: Mencari kegiatan yang Anda sukai, seperti berkebun, melukis, atau belajar hal baru, dapat mengalihkan pikiran dan memberikan tujuan baru.
  3. Jalin Kembali Hubungan Sosial: Jangan mengisolasi diri. Hubungi teman lama, bergabung dengan komunitas, atau aktif di kegiatan sosial.
  4. Terima Bantuan: Jangan ragu untuk menerima uluran tangan dari keluarga atau teman. Berbagi cerita atau bahkan sekadar duduk bersama bisa mengurangi beban di hati.
  5. Cari Bantuan Profesional: Jika perasaan kesepian dan duka terasa begitu berat dan sulit dikelola, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari psikolog atau konselor.

Gotong Royong di Madrasah: Kunci Membangun Karakter Mulia di Era Digital

 

Gotong royong, sebuah tradisi luhur yang telah mengakar kuat dalam budaya bangsa kita, kini menghadapi tantangan besar. Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, semangat kebersamaan ini perlahan-lahan mulai memudar. Fenomena ini terasa begitu nyata di lingkungan pendidikan, termasuk di madrasah. Padahal, gotong royong adalah landasan penting untuk membentuk karakter siswa yang peduli, bertanggung jawab, dan memiliki rasa kebersamaan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan memudarnya semangat gotong royong di madrasah. Pertama, penggunaan gawai yang tak terkendali. Akses tanpa batas ke dunia digital sering kali membuat siswa asyik dengan dunianya sendiri dan kurang berinteraksi secara fisik dengan teman-temannya. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bersosialisasi atau berkegiatan bersama justru habis dihabiskan untuk bermain gim atau berselancar di media sosial.

Kedua, sikap permisif orang tua yang berlebihan. Beberapa orang tua enggan jika anak mereka diajak berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti atau kegiatan sosial lainnya di madrasah. Mereka khawatir anak akan kelelahan, kotor, atau bahkan terluka. Padahal, melalui kegiatan gotong royong, anak akan belajar tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan pentingnya berkontribusi untuk kepentingan bersama. Sikap ini secara tidak langsung mengirimkan pesan kepada anak bahwa mereka tidak perlu terlibat dalam kegiatan sosial di luar zona nyaman mereka.

Strategi Menumbuhkan Semangat Gotong Royong di Madrasah

Untuk mengembalikan dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong di madrasah, diperlukan sinergi dari berbagai pihak: sekolah, guru, orang tua, dan juga siswa. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan:

1. Mengintegrasikan Gotong Royong dalam Kurikulum

Gotong royong bisa dimasukkan ke dalam berbagai mata pelajaran. Misalnya, dalam pelajaran agama, siswa dapat belajar tentang pentingnya tolong-menolong dalam Islam. Dalam pelajaran IPA, mereka dapat diajak membersihkan lingkungan sekolah sebagai praktik nyata dari menjaga kebersihan. Dengan begitu, gotong royong bukan hanya menjadi kegiatan insidental, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran.

2. Mengadakan Kegiatan Rutin Berbasis Gotong Royong

Madrasah dapat mengadakan kegiatan gotong royong secara rutin, seperti Jumat Bersih atau Sabtu Sehat. Kegiatan ini bisa melibatkan seluruh warga madrasah, mulai dari guru, siswa, hingga staf. Contohnya, membersihkan ruang kelas bersama, merawat taman sekolah, atau mengecat pagar madrasah. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya membuat lingkungan madrasah lebih bersih dan nyaman, tetapi juga memperkuat rasa kekeluargaan di antara siswa.

3. Mendorong Peran Aktif Orang Tua

Pihak madrasah perlu menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua. Sosialisasikan pentingnya gotong royong bagi pembentukan karakter anak. Ajak orang tua untuk berpartisipasi dalam kegiatan madrasah, seperti kerja bakti atau bazar amal. Ketika orang tua menunjukkan dukungan mereka, anak-anak akan merasa lebih termotivasi untuk ikut serta.

4. Memberikan Apresiasi dan Teladan

Guru dan kepala madrasah harus menjadi teladan utama dalam bergotong royong. Tunjukkan bahwa mereka juga ikut aktif dalam setiap kegiatan. Selain itu, berikan apresiasi kepada siswa yang menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi. Apresiasi ini tidak harus berupa materi, bisa juga berupa pujian atau penghargaan kecil yang memotivasi siswa lain untuk ikut berpartisipasi.

Menumbuhkan kembali semangat gotong royong di madrasah adalah sebuah investasi jangka panjang. Gotong royong tidak hanya sekadar membersihkan lingkungan atau membantu teman, tetapi juga merupakan cara untuk melatih empati, solidaritas, dan rasa tanggung jawab sosial. Dengan semangat gotong royong yang kuat, madrasah akan berhasil mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang mulia dan siap menjadi agen perubahan di masyarakat.

MIN 1 Pasuruan Menggelar Istighosah Jumat Legi, Perkuat Silaturahmi dan Doa Bersama

Pasuruan, 22 Agustus 2025 - Keluarga besar MIN 1 Pasuruan mengadakan acara istighosah rutin setiap Jumat Legi yang bertempat di mushollah dan  halaman sekolah. Acara ini merupakan wujud komitmen madrasah dalam memperkuat spiritualitas dan kebersamaan, yang dihadiri oleh seluruh guru dan staf, serta mendapatkan kehormatan dengan kehadiran Bapak Abdul Mu'id selaku Penjamin Mutu Madrasah.

Istighosah kali ini berlangsung khidmat dan tertib, dengan susunan acara yang telah disiapkan secara matang. Acara dimulai dengan pelaksanaan Sholat Dhuha berjamaah sebanyak 4 rakaat dengan dua salam, yang dipimpin langsung oleh Ustaz Khmaim Ma'ruf. Suasana pagi yang cerah menambah kekhusyukan para jemaah dalam menunaikan ibadah.

Setelah Sholat Dhuha, acara dilanjutkan dengan inti kegiatan, yaitu istighosah yang dipimpin oleh Ustadz Munir. Dengan lantang dan penuh penghayatan, beliau memimpin para murid,  guru dan staf untuk memanjatkan puji-pujian dan permohonan kepada Allah SWT. Lantunan zikir dan doa menggema, menciptakan getaran spiritual yang mendalam di seluruh area madrasah.

Puncak acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Abdul Mu'id. Dalam doanya, beliau memohon keberkahan, kemudahan, dan kesuksesan bagi seluruh civitas akademika MIN 1 Pasuruan. Kehadiran beliau tidak hanya sebagai penjamin mutu, tetapi juga sebagai figur yang turut mendoakan kemajuan madrasah.

Kesuksesan acara ini tidak lepas dari peran penting tim yang bertugas. Ustaz Farid Rahmad bertindak sebagai pengarah acara, memastikan setiap sesi berjalan sesuai rencana. Sementara itu, Ustaz Zamroni berperan sebagai pengawas ketertiban, menjaga kelancaran dan kekhidmatan seluruh rangkaian kegiatan. Turut hadir Ust. Abu Bakar, Ust. Jinan dan yang lain sebagai pendamping peserta didik.

Acara istighosah ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang mampu terus mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kualitas spiritual, serta membawa keberkahan bagi seluruh keluarga besar MIN 1 Pasuruan.

Ekskul Melukis MIN 1 Pasuruan, Wadah Kreativitas yang Unik


PASURUAN - Kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) melukis di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan tengah menjadi primadona. Ekskul ini menjadi wadah bagi para siswa untuk menyalurkan bakat seni mereka. Dibimbing oleh seorang seniman kenamaan, Bapak Sukamto, ekskul melukis di sekolah ini tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mengedepankan keunikan setiap anak.

Membina Tanpa Menghilangkan Ciri Khas Individu

Pendekatan Bapak Sukamto dalam membina para siswa sangat istimewa. Beliau tidak menuntut anak-anak untuk melukis dengan gaya yang seragam. Sebaliknya, beliau justru mendorong mereka untuk mengeksplorasi imajinasi dan karakter masing-masing. "Saya tidak ingin anak-anak hanya meniru, saya ingin mereka berani menunjukkan siapa diri mereka lewat karya," ujar Bapak Sukamto.

Alhasil, setiap lukisan yang dihasilkan oleh siswa MIN 1 Pasuruan memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Ada yang menyukai gaya realis, ada yang lebih ekspresif dengan warna-warna cerah, dan ada pula yang gemar melukis dunia fantasi. Bapak Sukamto berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan dan memberikan saran, namun tetap memberikan kebebasan berekspresi sepenuhnya. Ibu Suhartini sebagai koordinator ekskul juga merasa puas dengan berkembangnya anak-anak.

Dukungan Penuh Kepala Sekolah

Kepala MIN 1 Pasuruan, Bapak Abdul Qodir, mengungkapkan dukungannya yang luar biasa terhadap kegiatan ini. Beliau meyakini bahwa seni, khususnya melukis, dapat mengasah kecerdasan emosional dan kreativitas siswa. "Kami sangat mendukung ekskul melukis ini karena ini adalah cara yang luar biasa bagi anak-anak untuk mengembangkan diri. Seni bukan hanya tentang melukis, tetapi juga tentang membentuk karakter dan rasa percaya diri," tutur Abdul Qodir.

Dengan bimbingan yang tepat dan dukungan penuh dari pihak sekolah, ekskul melukis di MIN 1 Pasuruan diharapkan dapat terus melahirkan seniman-seniman cilik yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki karakter dan identitas yang kuat dalam setiap karyanya.

Semarak Kemerdekaan di MIN 1 Pasuruan, Lomba Unik Tanamkan Nilai Luhur


Pada hari Rabu, 20 Agustus 2025, suasana meriah menyelimuti MIN 1 Pasuruan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dipimpin oleh Ibu Eka Yuliana selaku Ketua Panitia Hari Besar Nasional (PHBN), serangkaian lomba unik dan penuh makna diadakan untuk menyemarakkan acara tersebut.

Salah satu lomba yang menarik perhatian adalah lomba pindah tepung. Menurut Ibu Eka, lomba ini bukan sekadar permainan, melainkan sebuah filosofi mendalam. "Lomba ini mengajarkan kita bahwa amanah yang diberikan harus sampai dengan utuh, tidak boleh ada yang kurang sedikit pun," jelasnya. Setiap peserta harus berhati-hati agar tepung yang dipindahkan tidak tumpah, mencerminkan komitmen dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.

Selain itu, ada pula lomba memindah jarik selendang. Lomba ini mengandung pesan bahwa beban hidup yang terasa melilit seharusnya dihadapi dengan santai dan dianggap sebagai bagian dari sebuah permainan. "Dunia ini hanyalah sebuah permainan. Beban yang ada harus dihadapi dengan ringan, bukan dengan penderitaan," tutur Ibu Eka, mengingatkan peserta agar tidak terlalu terbebani oleh masalah sesuai dalam al Quran :


ٱعْÙ„َÙ…ُÙˆٓا۟ Ø£َÙ†َّÙ…َا ٱلْØ­َÙŠَÙˆٰØ©ُ ٱلدُّÙ†ْÙŠَا Ù„َعِبٌ ÙˆَÙ„َÙ‡ْÙˆٌ

Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan

(Qs. Al Hadid 20)

Lomba lainnya yang tak kalah seru adalah memindahkan bola di atas kepala, yang melambangkan bahwa amanah harus senantiasa dijunjung tinggi. Peserta harus menjaga keseimbangan agar bola tidak jatuh, sebuah metafora untuk menjaga kepercayaan dan amanah yang telah diberikan.

Terakhir, ada lomba memindahkan karet yang menyiratkan pesan bahwa tidak semua tugas itu mudah. "Lomba ini mengajarkan kita untuk berhati-hati dan teliti. Ada kalanya tugas yang terlihat sederhana justru membutuhkan ketelitian ekstra," pungkas Ibu Eka, menggarisbawahi pentingnya kehati-hatian dalam setiap tindakan.

Berbagai lomba yang diadakan oleh PHBN MIN 1 Pasuruan ini tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur dan filosofi kehidupan yang mendalam kepada seluruh peserta dan hadirin.


MIN 1 Pasuruan Gelar Lomba Unik dengan Filosofi Mendalam, Ajak Siswa Belajar Karakter

 

Pasuruan, 19 Agustus 2025 - Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan hari ini menggelar serangkaian perlombaan yang tidak hanya menguji ketangkasan fisik, tetapi juga mengandung filosofi mendalam. Lomba yang diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 ini meliputi lomba membawa kelereng, memindah pulau, dan memindah sarung.

Dalam sambutannya, Kepala MIN 1 Pasuruan, Bapak Abdul Qodir, menyambut baik inisiatif lomba ini. "Kegiatan ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi bagaimana kita bisa menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini melalui cara yang menyenangkan," ujar beliau.

Lomba tersebut dikemas dengan narasi filosofis yang disampaikan langsung oleh Bapak Jinan, salah satu guru di MIN 1 Pasuruan. Beliau menjelaskan makna di balik setiap lomba yang diadakan:

  1. Lomba Membawa Kelereng: Lomba ini melambangkan pentingnya fokus dan ketekunan. Menurut Pak Jinan, membawa kelereng hingga garis akhir tanpa jatuh, meskipun di sekelilingnya banyak sorakan, mengajarkan siswa untuk tidak banyak bicara dan tetap fokus pada tujuan mereka dalam mewujudkan cita-cita.
  2. Lomba Memindah Pulau: Lomba ini dimaknai sebagai pelajaran tentang manajemen modal awal. Memindahkan "pulau" atau alas pijakan dari satu titik ke titik lain tanpa meninggalkan pulau sebelumnya mengajarkan agar modal atau bekal yang dimiliki tidak habis di tengah jalan.
  3. Lomba Memindah Sarung: Lomba terakhir ini menekankan pentingnya jaringan pertemanan. Dengan bekerja sama memindahkan sarung secara estafet, siswa diajak memahami bahwa kesuksesan sering kali membutuhkan bantuan dan kolaborasi dari orang-orang terdekat.

Lomba berjalan meriah dengan sorak sorai antusias dari para peserta. Masing-masing siswa berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak hanya untuk menjadi pemenang, tetapi juga untuk menerapkan nilai-nilai luhur yang disampaikan oleh guru-guru mereka. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tradisi tahunan yang terus menginspirasi siswa MIN 1 Pasuruan untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat.

Tujuh Guru MIN 1 Pasuruan Raih Satyalancana di Hari Kemerdekaan

Pasuruan, 17 Agustus 2025 - Dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, tujuh guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan mendapatkan penghargaan Satyalancana atas dedikasi dan pengabdiannya di dunia pendidikan. Penghargaan ini menjadi wujud apresiasi negara terhadap jasa para pendidik yang telah mencerdaskan anak bangsa.

Upacara penyerahan penghargaan digelar di halaman Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pasuruan. Dihadiri oleh kepala madrasah, para guru, dan staf, acara berlangsung khidmat dan penuh rasa bangga.

Tujuh guru MIN 1 Pasuruan yang menerima penghargaan Satyalancana adalah:

 * Abah Muid

 * Bapak Abu Bakar

 * Bapak Fathurahman

 * Ibu Tutik Saida

 * Ibu Vidia Efi Yanti

 * Ibu Nurcholisotin Nafsiyah

 * Ibu Sri Wahyuti

Kepala MIN 1 Pasuruan, Bapak Abdul Qodir, menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian ini. "Alhamdulillah, barokallah, selamat kepada bapak dan ibu guru yang telah menerima penghargaan. Ini adalah bukti nyata kerja keras dan pengabdian tanpa henti yang telah mereka berikan," ujarnya.

Penghargaan Satyalancana adalah tanda kehormatan yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia kepada warga negara yang telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kejujuran, disiplin, serta telah bekerja secara terus-menerus selama periode tertentu. Penghargaan yang diterima oleh ketujuh guru ini diberikan sesuai dengan masa pengabdian mereka.

Semoga penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi guru lainnya untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik dalam mendidik generasi penerus bangsa.An

Upacara Bendera HUT RI ke-80 di MIN 1 Pasuruan Berlangsung Khidmat


Pasuruan – Suasana pagi yang cerah pada Minggu, 17 Agustus 2025, menjadi saksi pelaksanaan Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 di MIN 1 Pasuruan. Upacara ini berlangsung penuh khidmat dan diikuti oleh seluruh guru, tenaga kependidikan, serta peserta didik dengan semangat kebangsaan yang tinggi.

Bertindak sebagai pembina upacara adalah Kepala MIN 1 Pasuruan, **Bapak Abdul Qodir**. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang arti kemerdekaan dan pentingnya menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut kebebasan bangsa.

“Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Oleh karena itu, tugas kita sebagai generasi penerus adalah mengisi kemerdekaan dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, dan menjaga persatuan bangsa,” tutur beliau dengan penuh semangat.

Seluruh peserta upacara menyimak dengan khidmat setiap pesan yang disampaikan. Suasana hening penuh makna terasa ketika Sang Merah Putih dikibarkan, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama dengan penuh penghayatan.

Upacara peringatan HUT RI ke-80 di MIN 1 Pasuruan ini tidak hanya menjadi ajang mengenang perjuangan pahlawan, tetapi juga momentum menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda. Dengan semangat nasionalisme yang berkobar, diharapkan para siswa mampu meneruskan perjuangan melalui karya, prestasi, dan akhlak mulia.An.

PERSAMI MIN 1 PASURUAN Dihiasi Api Unggun Penuh Makna

 


PASURUAN - Malam perkemahan Sabtu-Minggu (PERSAMI) yang diadakan di halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan pada Sabtu, 16 Agustus 2025, berlangsung meriah dan penuh hikmat. Acara yang paling dinantikan, yaitu penyalaan api unggun, menjadi puncak kegiatan yang membawa pesan mendalam bagi para peserta.

Penyalaan api unggun secara simbolis dilakukan oleh Bapak Khamim Ma'ruf. Dalam sambutannya, beliau memberikan motivasi yang membakar semangat para peserta. "Perjuangan itu memerlukan semangat," pesan beliau. "Bahkan, ketika semangat itu tidak bisa kita nyalakan dari diri sendiri, terkadang kita butuh orang lain untuk membantu menyalakannya."

Pernyataan ini disambut tepuk tangan meriah dari seluruh siswa, guru pendamping, dan panitia yang hadir. Pesan Bapak Khamim Ma'ruf menjadi pengingat bahwa dalam perjalanan meraih cita-cita, kolaborasi dan dukungan dari orang-orang sekitar sangatlah penting. Api unggun yang menyala terang bukan hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga simbol dari semangat juang yang harus terus berkobar.

Acara dilanjutkan dengan berbagai kegiatan yang menambah kehangatan suasana malam itu. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebersamaan, kemandirian, dan semangat pantang menyerah bagi seluruh peserta PERSAMI MIN 1 Pasuruan. An.


PERSAMI - MIN 1 Pasuruan

 KUMPULAN VIDEO
















MIN 1 Pasuruan Gelar PERSAMI Meriah, Rayakan Hari Pramuka 64 dan HUT RI ke-80

Pasuruan - Memperingati Hari Lahir Pramuka, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan menggelar Perkemahan Sabtu-Minggu (PERSAMI) yang berlangsung meriah pada tanggal 16-17 Agustus 2025. Kegiatan ini dipusatkan di halaman MIN 1 Pasuruan dan diikuti oleh seluruh anggota pramuka dengan antusias.                    

Acara PERSAMI ini dipimpin langsung oleh Kak Hamim Ma'ruf sebagai ketua panitia, yang didukung oleh jajaran pembina dan guru-guru hebat. Para pembina dibagi tugas sesuai dengan posisinya, yaitu:

Kak Farid bertanggung jawab pada bagian tenda putri.

Kak Munir dan Kak Musthofa bertugas mengawasi tenda putra.

Kak Ning Marginingsih berperan sebagai pengarah anggota untuk memastikan kegiatan berjalan lancar.

Kak Munir juga diberi amanah mengurus bagian peribadatan.

Kak Wiwit mengurus konsumsi seluruh peserta, dibantu oleh timnya.

Beberapa guru yang lain bertugas sesuai SK

Membuat drakbar


Berbaris








Selain itu, beberapa guru lain juga turut serta dengan menempati pos-pos yang berbeda, menguji keterampilan dan kekompakan para peserta. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperingati Hari Lahir Pramuka, tetapi juga mempererat tali persaudaraan serta menumbuhkan jiwa mandiri dan kepemimpinan pada siswa.

                             

Perkemahan ini diisi dengan berbagai kegiatan menarik, mulai dari pendirian tenda, jelajah alam, permainan edukatif, hingga api unggun di malam hari. Semangat kebersamaan dan kegembiraan terpancar dari wajah para peserta, menunjukkan keberhasilan acara PERSAMI dalam membentuk karakter siswa yang disiplin dan bertanggung jawab.