google-site-verification: googlec37f5abc404fa346.html MIN 1 PASURUAN: PPL Ku

PPL Ku

Fatmawati, mahasiswi Pendidikan Profesi Guru dari IAI Nahdlatul Ulama Bangil, mengawali hari pertamanya di MIN 1 Pasuruan dengan perasaan campur aduk. Ada kegembiraan sekaligus sedikit gugup menyelimuti hatinya. Ini adalah momen penting baginya, menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang akan menjadi bekal berharga dalam perjalanan menjadi seorang guru.

Begitu tiba di MIN 1 Pasuruan, Fatmawati disambut hangat oleh Kepala MIN 1 Pasuruan, bapak Abdul Qodir, yang dengan ramah memperkenalkan dirinya dan mengajak Fatmawati berkeliling sekolah. Suasana sekolah begitu akrab, dengan guru-guru yang menyapa penuh senyum dan anak-anak yang ceria bermain di halaman. Fatmawati langsung merasa diterima seperti keluarga sendiri.

Hari-hari di MIN 1 Pasuruan segera menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Fatmawati ditempatkan di kelas yang akan ia ajar. Di awal pertemuan, dia sempat merasa canggung menghadapi murid-murid yang penuh energi dan rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, perlahan ia belajar membaca karakter mereka, mengenal kekuatan dan kelemahan masing-masing anak.

Salah satu murid yang menarik perhatian Fatmawati adalah Sella, anak yang pendiam namun cerdas. Fatmawati menyadari bahwa Sella kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya di depan kelas. Dengan pendekatan yang penuh kelembutan, Fatmawati mulai mengajak Sella berdiskusi secara pribadi setelah pelajaran usai. Dia memberi dorongan dan pujian kecil yang membuat Sella  perlahan membuka diri. Melihat perubahan Sella  yang mulai berani berbicara di kelas, Fatmawati merasa sangat bahagia dan bangga.

Selain interaksi dengan murid, Fatmawati juga merasakan kehangatan dari para guru di MIN 1 Pasuruan. Mereka bukan hanya rekan kerja, tapi sudah seperti saudara. Setiap akhir pekan, guru-guru sering berkumpul untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung. Fatmawati pun diberi kesempatan untuk ikut serta dalam pertemuan tersebut. Di sana, ia belajar banyak tentang semangat kebersamaan dan bagaimana sebuah komunitas pendidik bisa saling menguatkan demi masa depan anak-anak didiknya.

Suatu hari, saat MIN 1 Pasuruan mengadakan acara gotong royong membersihkan lingkungan sekolah, Fatmawati ikut bergabung bersama murid dan guru. Mereka bekerja dengan penuh semangat, saling membantu dan bercanda tawa. Momen itu bukan hanya membersihkan sekolah, tapi juga mempererat ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin. Fatmawati merasa bahwa di tempat ini, setiap orang benar-benar peduli dan saling menopang.

Memasuki minggu-minggu terakhir PPL, Fatmawati semakin yakin bahwa pilihan menjadi guru adalah panggilan hati yang tak bisa ditolak. Dia tidak hanya mengajar, tapi juga belajar banyak tentang arti kesabaran, keikhlasan, dan kasih sayang. MIN 1 Pasuruan bukan hanya tempat praktik mengajar, tapi rumah kedua yang penuh cinta dan kehangatan.

Pada hari terakhir PPL, sekolah mengadakan acara perpisahan sederhana. Fatmawati diberikan kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, dia mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan pengalaman berharga yang telah diberikan. Fatmawati juga berjanji akan terus mengabdi sebagai guru yang tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga menebar kasih sayang dan membangun karakter murid-muridnya.

Saat meninggalkan MIN 1 Pasuruan, Fatmawati membawa pulang bukan hanya ilmu mengajar, tetapi juga pelajaran hidup tentang kekeluargaan dan kehangatan yang sesungguhnya. Pengalaman PPL di sana telah menguatkan tekadnya untuk menjadi guru yang tulus dan berdedikasi. Baginya, MIN 1 Pasuruan adalah tempat di mana hatinya tumbuh dan impian menjadi pendidik sejati mulai terukir.

Cerita Fatmawati adalah kisah hangat tentang perjalanan seorang mahasiswi dari IAI Nahdlatul Ulama Bangil yang menemukan makna sejati dari sebuah pengabdian. Sebuah perjalanan penuh cinta, kekeluargaan, dan harapan yang menginspirasi siapa saja yang mengenalnya.

No comments: