google-site-verification: googlec37f5abc404fa346.html MIN 1 PASURUAN: Pagi yang Keruh

Pagi yang Keruh

 


Mentari belum sepenuhnya muncul, tapi Jamin sudah berdiri di depan pintu rumah Makruf. Pintu bercat hijau itu tampak kontras dengan dinding rumah yang mulai mengelupas. Dengan ragu, Jamin mengetuk pelan.

Tok... tok... tok...

Terdengar suara langkah kaki dari dalam, lalu pintu terbuka. Makruf berdiri di ambang pintu, wajahnya masih menyimpan kantuk.

Makruf: (Dengan suara serak) "Jamin? Ya ampun, pagi benar. Ada apa?"

Jamin: (Menunduk) "Maaf, Pak Makruf, ganggu pagi-pagi. Anu... saya mau numpang tanya, barangkali ada sisa nasi semalam?"

Makruf: (Menguap) "Nasi sisa? Wah, maaf, Jamin. Semalam itu, Snowball makannya lahap sekali. Sampai habis tak bersisa."

Jamin: (Menggaruk kepala) "Oh, gitu ya, Pak. Saya kira aja, siapa tahu ada lebih. Sudah dua hari ini belum dapat rezeki, Pak. Perut sudah demo dari semalam."

Makruf: (Melihat Jamin dengan tatapan datar) "Aduh, Jamin, saya juga lagi prihatin ini. Harga pakan kucing naik terus. Snowball itu makannya harus yang berkualitas, biar bulunya tidak rontok."

Jamin: (Dengan nada lirih) "Iya, Pak. Saya ngerti kok. Ya sudah, kalau gitu saya permisi dulu ya, Pak. Siapa tahu di warung ada yang mau kasih ngutang."

Makruf: (Sedikit merasa bersalah) "Iya, Jamin. Maaf ya, saya belum bisa bantu. Coba saja cari di tempat lain. Semangat ya!"

Makruf menutup pintu perlahan. Jamin hanya bisa menghela napas dan berjalan menjauh.

Siang yang Terik

Jamin sedang beristirahat di bawah pohon rindang setelah seharian membantu mengangkat barang di pasar. Peluh membasahi wajahnya, tapi ia enggan membeli minum. Uangnya hanya cukup untuk sebungkus nasi nanti malam.

Tiba-tiba, ia melihat Makruf berjalan santai sambil membawa Snowball di gendongannya.

Jamin: (Menyapa dengan sopan) "Siang, Pak Makruf. Snowball sehat?"

Makruf: (Tersenyum bangga) "Siang, Jamin. Snowball ini sehat wal afiat. Tadi habis saya belikan snack khusus di toko hewan. Dia itu kalau tidak dikasih camilan, suka rewel."

Jamin: (Mencoba bercanda) "Wah, enak ya jadi Snowball. Makanannya terjamin, camilannya mewah."

Makruf: (Tertawa kecil) "Ya begitulah, Jamin. Snowball ini sudah seperti anak sendiri bagi saya. Saya rela berkorban demi dia."

Jamin: (Dengan nada sedikit sinis) "Berarti, kalau ada rezeki lebih, Bapak lebih milih beliin Snowball makanan daripada nolongin tetangga yang kelaparan?"

Makruf: (Terkejut dengan pertanyaan Jamin) "Eh... bukan begitu maksud saya, Jamin. Tapi, kan... Snowball itu tanggung jawab saya. Dia tidak bisa mencari makan sendiri."

Jamin: (Menatap Makruf dengan tatapan kecewa) "Iya, Pak. Saya paham. Manusia memang lebih pandai mencari alasan daripada mencari solusi."

Jamin bangkit dari duduknya dan berjalan pergi, meninggalkan Makruf yang terdiam dengan Snowball di gendongannya.


No comments: