google-site-verification: googlec37f5abc404fa346.html MIN 1 PASURUAN

Guru dan Mahasiswi IAINU Bangil Ikut Doa Bersama untuk Kedamaian Indonesia di MIN 1 Pasuruan

 


Pasuruan - Sejumlah mahasiswi dari Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Bangil turut serta dalam acara doa bersama yang diselenggarakan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan pada hari ini. Acara istighosah ini diadakan sebagai wujud kepedulian terhadap kedamaian dan kerukunan bangsa Indonesia.

Kegiatan ini dipimpin olehUst. Jinan, Ustaz Khamim, yang memandu jalannya istighosah dengan khusyuk. Doa juga dipanjatkan oleh Ustaz Fathurrahman, menambah kekhidmatan acara. Kepala Madrasah (Kamad) MIN 1 Pasuruan, Bapak Abdul Qodir, memberikan pengarahan yang menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Partisipasi mahasiswi IAINU Bangil ini menunjukkan sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan madrasah ibtidaiyah  dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berperan aktif dalam menjaga kedamaian dan kerukunan di Indonesia.

Observasi: Kepala MIN 1 Pasuruan Memperhatikan Persiapan Siswa Sebelum Masuk Kelas

 


Pada hari ini, saya mengamati kegiatan Kepala MIN 1 Pasuruan yang sedang memperhatikan secara langsung persiapan siswa sebelum mereka memasuki kelas. Kegiatan ini berlangsung di pagi hari, saat para siswa mulai berdatangan ke lingkungan sekolah. Kepala sekolah tampak sangat antusias dan teliti dalam mengamati berbagai aspek yang berkaitan dengan kesiapan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran.

Salah satu hal yang menjadi fokus perhatian Kepala MIN 1 Pasuruan adalah kedisiplinan siswa dalam memasuki kelas. Beliau memastikan bahwa siswa datang tepat waktu dan tidak ada yang terlambat. Kepala sekolah juga memperhatikan bagaimana siswa menjaga ketertiban dan kebersihan di sekitar kelas sebelum pelajaran dimulai. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat peduli terhadap suasana belajar yang kondusif dan nyaman bagi semua siswa.

Selain itu, Kepala MIN 1 Pasuruan juga memperhatikan kesiapan mental dan fisik siswa. Beliau mengamati apakah para siswa sudah siap secara psikologis untuk menerima pelajaran hari itu, misalnya dengan melihat ekspresi wajah mereka dan interaksi antar siswa. Kepala sekolah juga memastikan bahwa siswa sudah membawa perlengkapan belajar yang lengkap seperti buku, alat tulis, dan seragam yang rapi. Semua ini dilakukan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

Dalam pengamatannya, Kepala MIN 1 Pasuruan tidak hanya berdiri di satu tempat saja. Beliau berjalan mengelilingi halaman sekolah, sambil sesekali memberikan motivasi kepada para siswa. Pesan-pesan yang disampaikan berkisar pada pentingnya semangat belajar, menjaga kedisiplinan, dan menghargai waktu. Hal ini sangat memotivasi siswa untuk lebih bersemangat dan fokus dalam mengikuti pelajaran.

Kepala sekolah juga berinteraksi dengan beberapa guru yang sedang bersiap-siap mengajar. Beliau menanyakan persiapan yang sudah dilakukan para guru dan memberikan arahan agar suasana kelas tetap kondusif. Komunikasi antara Kepala MIN 1 Pasuruan dengan guru-guru menunjukkan sinergi yang baik dalam menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas.

Observasi ini juga menunjukkan bahwa Kepala MIN 1 Pasuruan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan dan kesejahteraan siswa. Dengan memperhatikan secara langsung kesiapan siswa sebelum masuk kelas, beliau dapat mengetahui berbagai kendala yang mungkin dihadapi siswa, baik dari segi fisik maupun psikologis. Hal ini memungkinkan Kepala sekolah untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mendukung proses pembelajaran.

Secara keseluruhan, kegiatan Kepala MIN 1 Pasuruan yang memperhatikan persiapan siswa sebelum masuk kelas memberikan gambaran tentang kepemimpinan yang proaktif dan peduli terhadap pendidikan. Sikap beliau yang teliti dan penuh perhatian menjadi contoh yang baik bagi seluruh warga sekolah. Kegiatan ini bukan hanya sekedar rutinitas, namun merupakan upaya nyata untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal dan mendukung keberhasilan siswa.

Dengan demikian, peran Kepala MIN 1 Pasuruan sangat penting dalam menjaga kualitas pendidikan di sekolah ini. Keterlibatan langsung beliau dalam memperhatikan persiapan siswa sebelum masuk kelas menjadi salah satu faktor kunci dalam menciptakan suasana belajar yang efektif, menyenangkan, dan produktif bagi seluruh siswa.

MILO Mengadakan Senam Sehat dan Pembagian MILO Gratis di MIN 1 Pasuruan

 




Pasuruan, 27 Agustus 2025 – Dalam rangka mendukung gaya hidup sehat dan meningkatkan semangat belajar siswa, MILO mengadakan kegiatan senam sehat dan pembagian MILO gratis di MIN 1 Pasuruan pada hari ini. Kegiatan ini diterima dengan antusias oleh seluruh warga madrasah.

Acara senam sehat yang dipandu oleh instruktur profesional ini diikuti oleh siswa, guru, serta staf madrasah. Selain berolahraga bersama, MILO juga membagikan minuman sehat secara gratis untuk menunjang energi dan kebugaran peserta.

Kegiatan ini secara resmi diterima oleh Bapak Abdul Qodir, Kepala Madrasah MIN 1 Pasuruan, dan Ibu Novi, perwakilan guru. Bapak Abdul Qodir menyampaikan apresiasi atas inisiatif MILO dalam mendorong pola hidup sehat di lingkungan sekolah. Sementara itu, Ibu Novi menambahkan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk membangun kebiasaan positif di kalangan siswa. Adapun dari MILO ibu Kartika sari  dan  bapak Wildan Robby kurniawan

Dengan adanya kegiatan senam sehat dan pembagian MILO gratis ini, diharapkan para siswa dapat semakin termotivasi untuk menjaga kesehatan tubuh dan meningkatkan prestasi belajar mereka.An,

Perlunya Pendampingan Guru dalam Belajar Beribadah pada Usia Sekolah Dasar

 

Pada usia sekolah dasar, anak-anak sedang dalam masa perkembangan yang sangat penting, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Pada tahap ini, mereka mulai mengenal nilai-nilai agama dan mulai belajar beribadah secara benar. Pendampingan guru dalam belajar beribadah sangat diperlukan agar anak-anak dapat memahami tata cara ibadah dengan baik, serta menanamkan kecintaan terhadap agama sejak dini.

Guru sebagai pendamping memiliki peran penting dalam memberikan contoh yang baik, membimbing secara langsung, dan menjelaskan makna ibadah sehingga anak tidak hanya sekadar menjalankan rutinitas, tetapi juga memahami dan merasakan keutamaan ibadah tersebut. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak akan lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai agama dan mengembangkan karakter yang baik sebagai bekal kehidupan.

Selain itu, pembelajaran beribadah yang diawasi oleh guru dapat mencegah kesalahan dalam pelaksanaan ibadah dan membantu anak membangun kebiasaan baik yang akan terbawa hingga dewasa. Pendampingan ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dalam beribadah, karena mereka merasa didukung dan diperhatikan selama proses belajar.

Dalil Hadis tentang Manfaat Mengajarkan Ilmu Agama

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا (رواه مسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk (amal baik), maka ia mendapatkan pahala sama seperti pahalanya orang yang mengikutinya. Tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melakukannya. Barang siapa yang mengajak pada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa setimbang dengan dosa orang yang mengikutinya. Tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang yang melakukannya.” (HR Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa besar pahala dan manfaat dari mengajarkan ilmu agama kepada orang lain, termasuk anak-anak. Guru yang mendampingi anak dalam belajar beribadah tidak hanya membantu mereka memahami agama, tetapi juga mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT karena telah menuntun seseorang ke jalan kebaikan.

Teori Pendidikan

Pada masa Sekolah Dasar, anak-anak berada dalam tahap perkembangan kognitif dan emosional yang sangat krusial. Teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Jean Piaget menjelaskan bahwa anak usia SD biasanya berada pada tahap konkret operasional, di mana mereka mulai mampu berpikir logis tentang peristiwa konkret, namun masih memerlukan bimbingan untuk memahami konsep abstrak. Oleh karena itu, pendampingan belajar menjadi sangat penting untuk membantu anak memahami materi pelajaran dengan lebih baik dan mengatasi kesulitan yang mungkin muncul.

Selain aspek kognitif, teori perkembangan sosial menurut Lev Vygotsky juga menegaskan pentingnya interaksi sosial dalam proses belajar. Vygotsky memperkenalkan konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), yaitu jarak antara kemampuan anak saat ini dengan potensi kemampuan yang bisa dicapai dengan bantuan orang lain. Pendampingan belajar dari orang tua, guru, atau pendamping lainnya berperan sebagai “scaffolding” yang memfasilitasi anak untuk mencapai potensi maksimalnya. Dengan adanya pendampingan, anak dapat mendapatkan dukungan, motivasi, dan arahan yang tepat sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.

Selain itu, dalam konteks psikologi pendidikan, pendampingan belajar juga membantu anak untuk membangun rasa percaya diri dan mengembangkan sikap positif terhadap belajar. Anak yang merasa didukung cenderung lebih termotivasi dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan belajar. Hal ini sangat penting untuk membentuk kebiasaan belajar yang baik sejak dini dan mempersiapkan anak menghadapi tantangan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.

Secara praktis, pendampingan belajar bagi anak usia SD bisa dilakukan melalui berbagai cara, seperti memberikan waktu khusus untuk belajar bersama, menjelaskan materi dengan bahasa yang mudah dimengerti, memberikan contoh konkret, serta memberikan pujian dan dorongan secara konsisten. Hal ini tidak hanya membantu anak dalam pencapaian akademik, tetapi juga mempererat hubungan emosional antara anak dan pendamping, sehingga anak merasa lebih nyaman dan termotivasi dalam belajar.

Kesimpulannya, pendampingan belajar bagi anak usia SD sangatlah penting karena sesuai dengan teori-teori pendidikan dan perkembangan, anak memerlukan bimbingan yang tepat untuk mengoptimalkan proses belajar mereka. Dengan pendampingan yang baik, anak akan mampu mengembangkan kemampuan kognitif dan sosialnya secara optimal, serta membangun sikap positif yang mendukung keberhasilan belajar di masa depan.


Zhafira Putri Arina: Sang Bintang Muda dari MIN 1 Pasuruan yang Meraih Juara 2 Kyorugi Cadet Putri di PON Putri Kapolri 6 Cup 2025

 


Pada tanggal 25-27 Juli 2025, GOR Jatidiri Semarang menjadi saksi perjuangan para atlet muda dalam cabang beladiri Taekwondo pada event Pekan Olah Raga Nasional Cadet Putri Kapolri 6 Cup. Salah satu momen yang paling membanggakan datang dari Zhafira Putri Arina kelas 6 D, seorang murid berprestasi dari MIN 1 Pasuruan. Zhafira berhasil meraih juara 2 pada kategori Kyorugi Cadet Putri, menunjukkan dedikasi dan kerja kerasnya dalam dunia olahraga beladiri.

Event ini diselenggarakan dalam rangka kegiatan Pembinaan Tradisi Peringatan Hari Bhayangkara, yang tidak hanya menjadi ajang kompetisi tetapi juga sarana pembinaan karakter dan semangat sportivitas bagi para peserta. Zhafira, murid MIN 1 Pasuruan, tampil dengan penuh semangat dan kemampuan teknik yang matang, membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk berprestasi di tingkat nasional.

Prestasi Zhafira ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi MIN 1 Pasuruan, menginspirasi teman-teman sebayanya untuk terus berlatih dan berjuang meraih mimpi. Dengan dukungan pelatih dan lingkungan sekolah yang kondusif, Zhafira mampu menunjukkan potensi terbaiknya di panggung nasional.

Semoga pencapaian ini menjadi langkah awal bagi Zhafira Putri Arina untuk terus mengukir prestasi lebih gemilang di masa depan, sekaligus menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya untuk berani berkompetisi dan mengasah kemampuan di berbagai bidang, terutama olahraga.

Selamat untuk Zhafira Putri Arina, sang juara muda murid  MIN 1 Pasuruan! Teruslah bersemangat dan raih cita-citamu setinggi langit!


Upacara Bendera di MIN 1 Pasuruan: Petugas 6D Berjalan Baik, Lancar dan Perkenalan Mahasiswa IAI NU Bangil

 


Pada hari Senin tanggal 25 Agustus 2025, MIN 1 Pasuruan menggelar upacara bendera rutin yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf sekolah. Upacara kali ini berlangsung dengan tertib dan lancar berkat peran aktif petugas upacara dari kelas 6D yang bertugas dengan penuh tanggung jawab dan disiplin. Sebagai pembina upacara, Ibu Nihla memberikan arahan yang sangat penting, terutama menekankan betapa pentingnya menjaga kebersihan di lingkungan sekolah.

Pelaksanaan upacara dimulai tepat pukul 07.00 WIB di lapangan sekolah. Petugas 6D telah hadir lebih awal untuk melakukan persiapan, termasuk pengecekan alat dan atribut upacara seperti bendera merah putih, pengeras suara, serta barisan siswa yang akan menjadi pasukan pengibar bendera. Kedisiplinan dan kerja sama yang baik dari petugas 6D sangat terlihat, mereka saling membantu memastikan setiap bagian upacara berjalan tanpa hambatan.

Ibu Nihla, sebagai pembina upacara, membuka kegiatan dengan memberikan sambutan yang tidak hanya membangkitkan semangat nasionalisme, tetapi juga menekankan nilai-nilai kebersihan sebagai salah satu aspek penting yang harus dijaga oleh seluruh warga sekolah. Beliau menyampaikan bahwa kebersihan lingkungan sekolah berpengaruh besar terhadap kesehatan dan kenyamanan belajar. Dengan lingkungan yang bersih, siswa dapat belajar dengan lebih fokus dan produktif.

Dalam arahannya, Ibu Nihla mengingatkan agar setiap siswa tidak hanya bertanggung jawab atas kebersihan diri sendiri, tetapi juga ikut menjaga kebersihan ruang kelas, halaman sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Ia mengajak seluruh siswa untuk terbiasa membuang sampah pada tempatnya dan aktif dalam kegiatan kerja bakti yang rutin dilakukan di sekolah. Pesan ini disambut dengan antusias oleh seluruh peserta upacara yang menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga kebersihan.

Selain itu, petugas 6D juga menunjukkan disiplin dan ketelitian dalam menjalankan tugasnya. Proses pengibaran bendera berlangsung dengan khidmat dan sempurna, tanpa ada kesalahan teknis. Mereka berjalan dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, menunjukkan bahwa latihan yang dilakukan sebelumnya membuahkan hasil yang maksimal. Suasana upacara menjadi sangat khidmat dan penuh rasa hormat terhadap simbol negara.

Setelah pengibaran bendera selesai, upacara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan pengumuman penting dari kepala sekolah. Kemudian, Ibu Nihla menutup kegiatan dengan memberikan motivasi kepada siswa agar terus meningkatkan kedisiplinan dan rasa cinta tanah air, serta tetap menjaga kebersihan sebagai bagian dari sikap hidup sehat dan bertanggung jawab.

Perkenalan Mahasiswa PPL dai IAI NU Bangil

https://www.iainu-bangil.ac.id/

Acarab tersebut jua ada perkenalan mahasiswa PPL dai IAI NU Bangil kepeda seluruh siswa. Secara keseluruhan, upacara bendera di MIN 1 Pasuruan pada hari ini berjalan dengan sangat baik dan lancar. Peran petugas 6D sebagai pelaksana upacara sangat menentukan kesuksesan kegiatan ini. Kepemimpinan dan arahan dari Ibu Nihla sebagai pembina upacara juga memberikan nilai tambah yang membuat pesan moral tentang kebersihan dapat tersampaikan dengan baik kepada seluruh siswa.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran tentang pentingnya nasionalisme dan kedisiplinan, tetapi juga sebagai momen untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Diharapkan kebiasaan baik ini dapat terus dipertahankan dan menjadi budaya positif yang mendukung terciptanya sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman untuk belajar.

Demikian jurnal mengenai pelaksanaan upacara bendera di MIN 1 Pasuruan dengan petugas dari kelas 6D yang berjalan baik dan lancar serta pembinaan dari Ibu Nihla yang menekankan pentingnya kebersihan. Semoga upacara-upacara berikutnya juga dapat berlangsung dengan sukses dan memberikan manfaat yang besar bagi seluruh warga sekolah.AN



PPL Ku

Fatmawati, mahasiswi Pendidikan Profesi Guru dari IAI Nahdlatul Ulama Bangil, mengawali hari pertamanya di MIN 1 Pasuruan dengan perasaan campur aduk. Ada kegembiraan sekaligus sedikit gugup menyelimuti hatinya. Ini adalah momen penting baginya, menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang akan menjadi bekal berharga dalam perjalanan menjadi seorang guru.

Begitu tiba di MIN 1 Pasuruan, Fatmawati disambut hangat oleh Kepala MIN 1 Pasuruan, bapak Abdul Qodir, yang dengan ramah memperkenalkan dirinya dan mengajak Fatmawati berkeliling sekolah. Suasana sekolah begitu akrab, dengan guru-guru yang menyapa penuh senyum dan anak-anak yang ceria bermain di halaman. Fatmawati langsung merasa diterima seperti keluarga sendiri.

Hari-hari di MIN 1 Pasuruan segera menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Fatmawati ditempatkan di kelas yang akan ia ajar. Di awal pertemuan, dia sempat merasa canggung menghadapi murid-murid yang penuh energi dan rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, perlahan ia belajar membaca karakter mereka, mengenal kekuatan dan kelemahan masing-masing anak.

Salah satu murid yang menarik perhatian Fatmawati adalah Sella, anak yang pendiam namun cerdas. Fatmawati menyadari bahwa Sella kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya di depan kelas. Dengan pendekatan yang penuh kelembutan, Fatmawati mulai mengajak Sella berdiskusi secara pribadi setelah pelajaran usai. Dia memberi dorongan dan pujian kecil yang membuat Sella  perlahan membuka diri. Melihat perubahan Sella  yang mulai berani berbicara di kelas, Fatmawati merasa sangat bahagia dan bangga.

Selain interaksi dengan murid, Fatmawati juga merasakan kehangatan dari para guru di MIN 1 Pasuruan. Mereka bukan hanya rekan kerja, tapi sudah seperti saudara. Setiap akhir pekan, guru-guru sering berkumpul untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung. Fatmawati pun diberi kesempatan untuk ikut serta dalam pertemuan tersebut. Di sana, ia belajar banyak tentang semangat kebersamaan dan bagaimana sebuah komunitas pendidik bisa saling menguatkan demi masa depan anak-anak didiknya.

Suatu hari, saat MIN 1 Pasuruan mengadakan acara gotong royong membersihkan lingkungan sekolah, Fatmawati ikut bergabung bersama murid dan guru. Mereka bekerja dengan penuh semangat, saling membantu dan bercanda tawa. Momen itu bukan hanya membersihkan sekolah, tapi juga mempererat ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin. Fatmawati merasa bahwa di tempat ini, setiap orang benar-benar peduli dan saling menopang.

Memasuki minggu-minggu terakhir PPL, Fatmawati semakin yakin bahwa pilihan menjadi guru adalah panggilan hati yang tak bisa ditolak. Dia tidak hanya mengajar, tapi juga belajar banyak tentang arti kesabaran, keikhlasan, dan kasih sayang. MIN 1 Pasuruan bukan hanya tempat praktik mengajar, tapi rumah kedua yang penuh cinta dan kehangatan.

Pada hari terakhir PPL, sekolah mengadakan acara perpisahan sederhana. Fatmawati diberikan kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, dia mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan pengalaman berharga yang telah diberikan. Fatmawati juga berjanji akan terus mengabdi sebagai guru yang tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga menebar kasih sayang dan membangun karakter murid-muridnya.

Saat meninggalkan MIN 1 Pasuruan, Fatmawati membawa pulang bukan hanya ilmu mengajar, tetapi juga pelajaran hidup tentang kekeluargaan dan kehangatan yang sesungguhnya. Pengalaman PPL di sana telah menguatkan tekadnya untuk menjadi guru yang tulus dan berdedikasi. Baginya, MIN 1 Pasuruan adalah tempat di mana hatinya tumbuh dan impian menjadi pendidik sejati mulai terukir.

Cerita Fatmawati adalah kisah hangat tentang perjalanan seorang mahasiswi dari IAI Nahdlatul Ulama Bangil yang menemukan makna sejati dari sebuah pengabdian. Sebuah perjalanan penuh cinta, kekeluargaan, dan harapan yang menginspirasi siapa saja yang mengenalnya.

Serah Terima Mahasiswa PPL dari IAINU Bangil di MIN 1 PASURUAN


Pada hari Sabtu, 23 Agustus 2025, pukul 13.10 WIB, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan mengadakan acara serah terima mahasiswa dan mahasiswi dari Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Bangil. Acara ini diselenggarakan di aula MIN 1 Pasuruan, menandai dimulainya kegiatan praktikum mahasiswa IAINU di madrasah tersebut.

Pelaksanaan Acara

Acara serah terima ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Pihak IAINU Bangil diwakili oleh Dr. Abdul Muklis, yang secara simbolis menyerahkan 15 mahasiswa dan 10 mahasiswi kepada MIN 1 Pasuruan. Dr. Muklis menyampaikan harapannya agar para mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka peroleh di bangku kuliah.

Sementara itu, pihak MIN 1 Pasuruan menyambut baik kedatangan para mahasiswa. Kepala Madrasah (Kamad), Bapak Abdul Qodir, M.Pd., menerima secara langsung penyerahan tersebut. Dalam sambutannya, Bapak Abdul Qodir berpesan kepada para mahasiswa agar dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan menjalin kerja sama yang baik dengan para guru dan staf pengajar di MIN 1 Pasuruan. Beliau juga menekankan pentingnya disiplin dan profesionalisme selama menjalankan program praktikum.

Tujuan dan Harapan

Program praktikum ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa IAINU Bangil dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di lingkungan madrasah. Melalui program ini, diharapkan para mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi pedagogik dan profesional mereka, sehingga siap menjadi pendidik yang berkualitas di masa depan. Kerjasama antara IAINU Bangil dan MIN 1 Pasuruan ini diharapkan dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat positif bagi kedua belah pihak.


MIN 1 PASURUAN Mengadakan Pertemuan dengan Wali Murid Kelas 1

 


PASURUAN – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan mengadakan pertemuan penting dengan seluruh wali murid kelas 1 A, B, C, D, E, dan F pada hari Sabtu, 23 Agustus 2025. Acara yang berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 09.00 WIB ini diadakan sebagai sarana silaturahmi sekaligus pemaparan program-program madrasah.

Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Ketua Komite Madrasah, Ustaz Khaironi Achmad; Kepala Madrasah (Kamad), Bapak Abdul Qodir; para Wali Kelas; serta perwakilan dari Penjamin Mutu Madrasah.

Dalam sambutannya, Bapak Abdul Qodir, selaku Kepala Madrasah, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran dan antusiasme para wali murid. Beliau juga menekankan pentingnya sinergi antara madrasah dan orang tua dalam mendidik siswa.

"Kami sangat optimis bahwa dengan dukungan penuh dari para wali murid, akan ada perkembangan yang jauh lebih baik bagi anak-anak kita. Kolaborasi yang kuat antara madrasah dan keluarga adalah kunci utama untuk mencapai mutu pendidikan yang berkualitas," ujar Bapak Kamad dengan penuh semangat.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para wali murid diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi, saran, dan pertanyaan terkait proses belajar mengajar. Pertemuan ini berjalan lancar dan penuh kekeluargaan, menciptakan suasana yang kondusif untuk membangun komunikasi yang positif.

Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan terjalin hubungan yang lebih erat dan saling mendukung antara pihak madrasah dan wali murid demi terciptanya lingkungan belajar yang kondusif dan optimal bagi seluruh siswa MIN 1 Pasuruan.


Prestasi Gemilang MIN 1 Pasuruan di Acara Kemenag Kabupaten Pasuruan

PASURUAN - Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam acara Pembinaan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pasuruan. Dalam serangkaian perlombaan yang digelar, kontingen MIN 1 Pasuruan berhasil meraih dua gelar juara sekaligus.

Tim MIN 1 Pasuruan berhasil meraih Juara 2 dalam lomba memindahkan sarung secara estafet. Kekompakan dan kecepatan tim menjadi kunci keberhasilan mereka. Tidak hanya itu, tim juga berhasil membawa pulang gelar Juara 3 dalam lomba membawa balon berpasangan. Prestasi ini menunjukkan semangat sportivitas dan kerjasama yang tinggi dari seluruh anggota tim.

Selain itu, pada acara yang sama, Ibu Yuli Sunartin, salah satu guru di MIN 1 Pasuruan, mendapat kepercayaan besar untuk memimpin jalannya acara. Beliau ditunjuk sebagai dirijen dalam acara pembinaan DWP Kemenag Pasuruan, sebuah amanah yang membuktikan kompetensi dan kepercayaan yang diberikan oleh pihak Kemenag Kabupaten Pasuruan.

Kepala MIN 1 Pasuruan menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih. "Prestasi ini adalah hasil kerja keras, latihan, dan kekompakan dari seluruh tim. Semoga pencapaian ini bisa menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus berprestasi di berbagai bidang," ujarnya.

Mawar Yang Memar


أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut Ayat 2)

Hanya fiksi belaka .....jauh di samudra kehidupan banyak buih yang hilang dipinggiran, mengapa kau tak terima buih itu, bukankan itu juga akan muncul lagi. 

Bab 1: Titik Awal Retak

Faza adalah mozaik yang terbuat dari ketaatan dan keteguhan. Pagi-pagi buta, ketika embun masih menempel di jendela, ia sudah menggelar sajadah. Gerakan rukuk dan sujudnya bukan sekadar rutinitas, melainkan bisikan hati yang mencari damai. Di kantor, ia adalah Faza si disiplin, seorang arsitek yang sketsanya selalu presisi, perhitungannya matang, dan setiap detailnya sempurna. Ia membangun gedung-gedung kokoh, namun tak menyadari fondasi dirinya sendiri mulai rapuh.

Keretakan itu bernama Arga, pria yang ia cintai dengan segenap jiwa dan raga. Enam tahun mereka bersama, membangun impian, menata masa depan. Namun, satu sore, telepon dari Arga mengubah segalanya. Bukan janji manis, melainkan pengakuan pahit. Ia mencintai wanita lain. Jantung Faza serasa ditimpa beton. Dunia yang ia bangun dengan cermat, runtuh dalam sekejap.

Malam itu, Faza menangis. Bukan tangisan histeris yang memekakkan telinga, melainkan isakan lirih yang membasahi bantal. Ia tak mengamuk, tak menyalahkan Tuhan, apalagi Arga. Ia hanya diam, membiarkan sakit itu merayap di setiap inci tubuhnya. Setiap air mata yang jatuh terasa seperti kepingan kaca yang menggores ulu hati. Ia membiarkan hatinya memar, lukanya menganga, tanpa mau mencari penawar. Ia percaya, kesakitan adalah bagian dari takdir, dan ia harus menerimanya.

Bab 2: Kupu-Kupu yang Kehilangan Sayapnya

Hari-hari berlalu tanpa warna. Faza tetap pergi ke kantor, tetap menjalankan salat lima waktu, tapi ia tak lagi merasakan kehangatan. Ia bagai kupu-kupu yang sayapnya patah, terus berusaha terbang meski hanya berputar-putar di tempat yang sama. Proyek-proyek besar di kantornya selesai tepat waktu, tapi ia tak merasakan kepuasan. Ia hanya mesin yang bekerja, bukan lagi manusia yang berkarya.

"Faza, kamu baik-baik saja?" tanya Laras, sahabatnya, suatu sore.

Faza hanya tersenyum tipis. "Baik, kok. Kenapa?"

"Kamu beda. Kurus banget. Matamu juga sayu."

Faza mengelak, "Mungkin karena banyak lembur."

Namun, ia tak bisa mengelak dari dirinya sendiri. Setiap kali bercermin, ia melihat sosok asing. Matanya cekung, pipinya tirus, dan senyumnya hilang. Ia bahkan mulai melupakan rasanya tertawa lepas. Hatinya telah menjadi gurun yang tandus, dan tubuhnya ikut mengering.

Suatu malam, saat ia sedang berwudu, tangannya tak sengaja menyentuh payudaranya. Ada benjolan kecil. Ia mencoba mengabaikannya. "Paling cuma lemak," pikirnya. Namun, benjolan itu semakin membesar. Rasa nyeri mulai datang, awalnya samar, lalu semakin sering dan tajam. Ini bukan nyeri biasa, ini seperti hati yang memar, kini merayap ke seluruh tubuh.

Bab 3: Doa yang Tersamar Nyeri

Faza akhirnya memberanikan diri ke dokter. Wajah sang dokter, yang tadinya ramah, berubah serius setelah melihat hasil USG dan mamografi. Diagnosis itu terasa seperti pukulan godam. Kanker payudara, stadium II.

Faza tak menangis. Ia hanya diam, tatapan matanya kosong. Air matanya sudah kering, sudah habis terkuras oleh sakit hati. Ia teringat kata-kata Laras, "Sakit hati itu seperti racun, Za. Kalau dibiarkan, lama-lama merusak." Dulu ia hanya menganggap itu nasihat biasa, kini ia merasakan kebenarannya. Luka batin yang ia abaikan, kini menjelma menjadi penyakit yang mengancam nyawanya.

"Ini ada kaitannya dengan stres berat yang kamu alami," jelas dokter. "Sel kanker ini seperti tumbuh dari tanah yang subur, dan stres berkepanjangan adalah pupuknya."

Faza kembali ke rumah. Ia membuka Al-Qur'an, tapi kali ini bukan untuk mencari ketenangan. Ia mencari jawaban. Mengapa? Apa yang salah? Apakah ini hukuman atas kelemahannya? Ia menangis, bukan karena takut mati, tapi karena merasa gagal. Ia merasa gagal menjaga hati dan tubuhnya, dua amanah terbesar dari Tuhan.

Bab 4: Melepaskan yang Tak Pernah Kembali

Kemoterapi dimulai. Rambut Faza rontok, badannya semakin kurus, dan ia sering mual. Di setiap sesi, Laras selalu menemaninya. Faza tak pernah mengeluh. Ia tetap salat di kursi roda, tetap membaca Al-Qur'an di sela-sela rasa sakit. Di sinilah ia menemukan kekuatan yang baru. Bukan kekuatan untuk melawan penyakitnya, melainkan kekuatan untuk berdamai.

Suatu malam, ia teringat Arga. Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan. Bukan pesan kebencian, melainkan pesan maaf. Maaf karena ia pernah terlalu mencintai, maaf karena ia membiarkan dirinya terluka. Ia juga memaafkan Arga. Ia melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul. Setelah pesan itu terkirim, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Air mata kembali mengalir, tapi kali ini bukan air mata sakit, melainkan air mata pelepasan. Ia menangis karena akhirnya ia bisa memaafkan, dan dengan memaafkan, ia membebaskan dirinya sendiri.

Bab 5: Kebun yang Kembali Mekar

Proses penyembuhan Faza tak mudah. Ada hari-hari di mana ia merasa ingin menyerah, tapi ia selalu teringat bahwa ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk sembuh. Ia belajar menanam bunga di halaman belakang rumahnya. Setiap kali ia menyiram bunga-bunga itu, ia merasa sedang menyiram kembali jiwanya. Ia merawat dirinya dengan kasih sayang yang selama ini ia berikan pada orang lain.

Suatu sore, seorang wanita datang ke rumahnya. Itu adalah ibu Arga. Ibu itu meminta maaf atas nama anaknya. Faza hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Mungkin ini cara Allah menyadarkan saya. Bahwa hati juga butuh dirawat, seperti halnya tubuh."

Sembilan bulan kemudian, dokter menyatakan Faza bersih dari sel kanker. Ia sembuh. Faza berdiri di depan cermin, tersenyum. Rambutnya mulai tumbuh, pipinya kembali berisi, dan matanya kembali berbinar. Ia masih Faza yang sama, tapi kini dengan versi yang lebih kuat. Ia belajar bahwa luka di hati bisa lebih berbahaya dari luka di tubuh. Dan bahwa satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan memaafkan, bukan hanya orang lain, tapi juga diri sendiri.