أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Artinya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut Ayat 2)
Hanya fiksi belaka .....jauh di samudra kehidupan banyak buih yang hilang dipinggiran, mengapa kau tak terima buih itu, bukankan itu juga akan muncul lagi.
Bab 1: Titik Awal Retak
Faza adalah mozaik yang terbuat dari ketaatan dan keteguhan. Pagi-pagi buta, ketika embun masih menempel di jendela, ia sudah menggelar sajadah. Gerakan rukuk dan sujudnya bukan sekadar rutinitas, melainkan bisikan hati yang mencari damai. Di kantor, ia adalah Faza si disiplin, seorang arsitek yang sketsanya selalu presisi, perhitungannya matang, dan setiap detailnya sempurna. Ia membangun gedung-gedung kokoh, namun tak menyadari fondasi dirinya sendiri mulai rapuh.
Keretakan itu bernama Arga, pria yang ia cintai dengan segenap jiwa dan raga. Enam tahun mereka bersama, membangun impian, menata masa depan. Namun, satu sore, telepon dari Arga mengubah segalanya. Bukan janji manis, melainkan pengakuan pahit. Ia mencintai wanita lain. Jantung Faza serasa ditimpa beton. Dunia yang ia bangun dengan cermat, runtuh dalam sekejap.
Malam itu, Faza menangis. Bukan tangisan histeris yang memekakkan telinga, melainkan isakan lirih yang membasahi bantal. Ia tak mengamuk, tak menyalahkan Tuhan, apalagi Arga. Ia hanya diam, membiarkan sakit itu merayap di setiap inci tubuhnya. Setiap air mata yang jatuh terasa seperti kepingan kaca yang menggores ulu hati. Ia membiarkan hatinya memar, lukanya menganga, tanpa mau mencari penawar. Ia percaya, kesakitan adalah bagian dari takdir, dan ia harus menerimanya.
Bab 2: Kupu-Kupu yang Kehilangan Sayapnya
Hari-hari berlalu tanpa warna. Faza tetap pergi ke kantor, tetap menjalankan salat lima waktu, tapi ia tak lagi merasakan kehangatan. Ia bagai kupu-kupu yang sayapnya patah, terus berusaha terbang meski hanya berputar-putar di tempat yang sama. Proyek-proyek besar di kantornya selesai tepat waktu, tapi ia tak merasakan kepuasan. Ia hanya mesin yang bekerja, bukan lagi manusia yang berkarya.
"Faza, kamu baik-baik saja?" tanya Laras, sahabatnya, suatu sore.
Faza hanya tersenyum tipis. "Baik, kok. Kenapa?"
"Kamu beda. Kurus banget. Matamu juga sayu."
Faza mengelak, "Mungkin karena banyak lembur."
Namun, ia tak bisa mengelak dari dirinya sendiri. Setiap kali bercermin, ia melihat sosok asing. Matanya cekung, pipinya tirus, dan senyumnya hilang. Ia bahkan mulai melupakan rasanya tertawa lepas. Hatinya telah menjadi gurun yang tandus, dan tubuhnya ikut mengering.
Suatu malam, saat ia sedang berwudu, tangannya tak sengaja menyentuh payudaranya. Ada benjolan kecil. Ia mencoba mengabaikannya. "Paling cuma lemak," pikirnya. Namun, benjolan itu semakin membesar. Rasa nyeri mulai datang, awalnya samar, lalu semakin sering dan tajam. Ini bukan nyeri biasa, ini seperti hati yang memar, kini merayap ke seluruh tubuh.
Bab 3: Doa yang Tersamar Nyeri
Faza akhirnya memberanikan diri ke dokter. Wajah sang dokter, yang tadinya ramah, berubah serius setelah melihat hasil USG dan mamografi. Diagnosis itu terasa seperti pukulan godam. Kanker payudara, stadium II.
Faza tak menangis. Ia hanya diam, tatapan matanya kosong. Air matanya sudah kering, sudah habis terkuras oleh sakit hati. Ia teringat kata-kata Laras, "Sakit hati itu seperti racun, Za. Kalau dibiarkan, lama-lama merusak." Dulu ia hanya menganggap itu nasihat biasa, kini ia merasakan kebenarannya. Luka batin yang ia abaikan, kini menjelma menjadi penyakit yang mengancam nyawanya.
"Ini ada kaitannya dengan stres berat yang kamu alami," jelas dokter. "Sel kanker ini seperti tumbuh dari tanah yang subur, dan stres berkepanjangan adalah pupuknya."
Faza kembali ke rumah. Ia membuka Al-Qur'an, tapi kali ini bukan untuk mencari ketenangan. Ia mencari jawaban. Mengapa? Apa yang salah? Apakah ini hukuman atas kelemahannya? Ia menangis, bukan karena takut mati, tapi karena merasa gagal. Ia merasa gagal menjaga hati dan tubuhnya, dua amanah terbesar dari Tuhan.
Bab 4: Melepaskan yang Tak Pernah Kembali
Kemoterapi dimulai. Rambut Faza rontok, badannya semakin kurus, dan ia sering mual. Di setiap sesi, Laras selalu menemaninya. Faza tak pernah mengeluh. Ia tetap salat di kursi roda, tetap membaca Al-Qur'an di sela-sela rasa sakit. Di sinilah ia menemukan kekuatan yang baru. Bukan kekuatan untuk melawan penyakitnya, melainkan kekuatan untuk berdamai.
Suatu malam, ia teringat Arga. Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan. Bukan pesan kebencian, melainkan pesan maaf. Maaf karena ia pernah terlalu mencintai, maaf karena ia membiarkan dirinya terluka. Ia juga memaafkan Arga. Ia melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul. Setelah pesan itu terkirim, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Air mata kembali mengalir, tapi kali ini bukan air mata sakit, melainkan air mata pelepasan. Ia menangis karena akhirnya ia bisa memaafkan, dan dengan memaafkan, ia membebaskan dirinya sendiri.
Bab 5: Kebun yang Kembali Mekar
Proses penyembuhan Faza tak mudah. Ada hari-hari di mana ia merasa ingin menyerah, tapi ia selalu teringat bahwa ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk sembuh. Ia belajar menanam bunga di halaman belakang rumahnya. Setiap kali ia menyiram bunga-bunga itu, ia merasa sedang menyiram kembali jiwanya. Ia merawat dirinya dengan kasih sayang yang selama ini ia berikan pada orang lain.
Suatu sore, seorang wanita datang ke rumahnya. Itu adalah ibu Arga. Ibu itu meminta maaf atas nama anaknya. Faza hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Mungkin ini cara Allah menyadarkan saya. Bahwa hati juga butuh dirawat, seperti halnya tubuh."
Sembilan bulan kemudian, dokter menyatakan Faza bersih dari sel kanker. Ia sembuh. Faza berdiri di depan cermin, tersenyum. Rambutnya mulai tumbuh, pipinya kembali berisi, dan matanya kembali berbinar. Ia masih Faza yang sama, tapi kini dengan versi yang lebih kuat. Ia belajar bahwa luka di hati bisa lebih berbahaya dari luka di tubuh. Dan bahwa satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan memaafkan, bukan hanya orang lain, tapi juga diri sendiri.