google-site-verification: googlec37f5abc404fa346.html MIN 1 PASURUAN

LAPORAN PRAKTIK BAIK PEMBELAJARAN

 


LAPORAN PRAKTIK BAIK PEMBELAJARAN

“Mengukur Panjang Benda dengan Pendekatan Konkret dan Bermain: Membangun Antusiasme Belajar Matematika di Kelas 1A”

🔹 IDENTITAS PRAKTIK BAIK

Komponen

Keterangan

Nama Guru

Labibah Maftuhah

Kelas / Fase

1A / Fase A

Mata Pelajaran

Matematika

Tanggal Pelaksanaan

7 April 2026

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat mengukur panjang benda menggunakan alat ukur tidak baku dan baku (cm) dengan tepat

📖 1. LATAR BELAKANG MASALAH

Siswa kelas 1 SD berada pada tahap berpikir konkret. Konsep pengukuran panjang sering kali sulit dipahami jika hanya disampaikan secara verbal atau melalui buku teks. Berdasarkan observasi awal, sebagian siswa menunjukkan penurunan fokus ketika pembelajaran bersifat satu arah dan minim manipulasi alat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang menghadirkan pengalaman langsung, bersifat kontekstual, dan menyenangkan agar konsep matematika tidak lagi dianggap abstrak, melainkan bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

🎯 2. TUJUAN PEMBELAJARAN

  • Peserta didik dapat membandingkan panjang benda menggunakan alat ukur tidak baku (jengkal, tangan, tali).
  • Peserta didik dapat mengukur panjang benda menggunakan penggaris (satuan cm) dengan penempatan titik nol yang tepat.
  • Peserta didik aktif, kolaboratif, dan menunjukkan sikap senang serta antusias selama proses pembelajaran.

🛠️ 3. STRATEGI & MEDIA PEMBELAJARAN

Aspek

Deskripsi

Pendekatan

Play-based learning, CPA (Concrete-Pictorial-Abstract), diferensiasi proses

Model

Pembelajaran berbasis proyek mini & pos kegiatan (station learning)

Media/Alat

Penggaris 30 cm, tali rafia, kertas warna, benda konkret kelas (pensil, buku, penghapus, karet), lembar kerja bergambar, sticker apresiasi

Manajemen Kelas

Kelompok heterogen (3–4 anak), rotasi pos, penguatan positif verbal & nonverbal

📝 4. LANGKAH PELAKSANAAN (7 April 2026)

a. Pendahuluan (10 menit)

  • Menyanyikan lagu “Ayo Mengukur” dengan gerakan tangan.
  • Apersepsi: “Kalau mau tahu panjang meja, pakai apa ya?”
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran dan aturan main.

b. Kegiatan Inti (40 menit)

  1. Demonstrasi Interaktif: Guru memperagakan cara mengukur dengan jengkal dan penggaris. Siswa diajak menebak hasil sebelum diukur.
  2. Eksplorasi Berkelompok (Pos Belajar):
    • Pos 1: Mengukur benda dengan alat tidak baku.
    • Pos 2: Mengukur benda dengan penggaris (fokus pada titik 0).
    • Pos 3: Permainan “Tebak & Buktikan” (estimasi → ukur → bandingkan).
  3. Pencatatan & Komunikasi: Setiap kelompok mengisi lembar kerja sederhana dengan gambar + angka. Guru berkeliling membimbing, memberi penguatan, dan mendokumentasikan proses.

c. Penutup (10 menit)

  • Refleksi bersama: “Apa yang paling seru tadi?” “Bagian mana yang masih sulit?”
  • Guru memberikan apresiasi berupa sticker “Pengukur Cilik”.
  • Tindak lanjut: Mengukur 2 benda di rumah bersama orang tua.

📊 5. HASIL & DAMPAK PEMBELAJARAN

Indikator

Bukti Dampak

Keterlibatan (Giat)

100% siswa aktif di pos belajar; berani bertanya, mencoba, dan memperbaiki hasil pengukuran secara mandiri.

Sikap (Senang)

Ekspresi wajah ceria, tawa natural, antusiasme tinggi saat game “Tebak & Buktikan”, tidak ada gejala bosan atau resisten.

Pencapaian TP

±92% siswa mampu menempatkan titik nol penggaris dengan tepat dan membaca skala cm dengan benar.

Keterampilan Proses

Terlatihnya kerja sama, komunikasi lisan sederhana, dan kemampuan estimasi vs fakta pengukuran.

💡 Catatan Guru: Pembelajaran berbasis manipulasi objek nyata dan permainan ternyata secara signifikan menurunkan kecemasan terhadap matematika dan meningkatkan intrinsic motivation siswa kelas 1.

🔍 6. REFLEKSI & TINDAK LANJUT

Kekuatan:

  • Pendekatan konkret dan rotasi pos membuat pembelajaran dinamis.
  • Diferensiasi proses terakomodir secara alami (siswa yang cepat selesai diberi tantangan estimasi lebih kompleks, siswa yang butuh pendampingan mendapat bimbingan langsung).

Tantangan:

  • Beberapa siswa masih keliru membaca skala antara angka (misal: 12 cm dibaca 13 cm).
  • Keterbatasan penggaris standar membuat antrean alat ukur saat rotasi.

Tindak Lanjut:

  • Remedial singkat: latihan membaca garis skala menggunakan number line di lantai kelas.
  • Pengayaan: membuat “Pita Pengukur” sederhana dari kertas karton untuk dibawa pulang.
  • Kolaborasi dengan wali kelas & orang tua: proyek mini “Ukur Sudut Belajarku” sebagai tugas terintegrasi.

🌟 7. PENUTUP

Pembelajaran mengukur panjang benda pada tanggal 7 April 2026 di Kelas 1A menunjukkan bahwa ketika matematika dikemas melalui pengalaman langsung, permainan edukatif, dan lingkungan yang aman untuk mencoba, siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga giat berpartisipasi dan belajar dengan senang hati. Praktik ini akan terus dikembangkan dan diadaptasi untuk topik matematika fase A lainnya.

Mengetahui,
Guru Kelas 1A

 
Labibah Maftuhah
NIP. ................................

 

Tingkatkan Pelayanan Madrasah, Ketua KKMI Kec. Beji Gelar Koordinasi Kegiatan Kemadrasahan

PASURUAN, Selasa (7/4/2026) – Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan dan mutu pendidikan madrasah, Ketua Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Beji yang juga menjabat sebagai Kepala MIN 1 Pasuruan, menggelar rapat koordinasi kegiatan kemadrasahan tingkat KKMI Kecamatan Beji, Selasa (7/4/2026).

Rapat yang dihadiri oleh para kepala madrasah ibtidaiyah negeri dan swasta se-Kecamatan Beji ini membahas sejumlah agenda strategis untuk memperkuat sinergi antar madrasah dalam rangka peningkatan kompetensi peserta didik dan tenaga pendidik.

Tiga Agenda Utama KKMI Kecamatan Beji

Dalam kesempatan tersebut, Ketua KKMI Kecamatan Beji memaparkan tiga agenda prioritas yang akan segera dilaksanakan:

1. Persiapan Wisuda Tahfidz MI Se-Kabupaten Pasuruan

KKMI Kecamatan Beji turut mempersiapkan partisipasi madrasah-madrasah di wilayahnya dalam acara Wisuda Tahfidz MI Se-Kabupaten Pasuruan yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 18 April 2026 di Pendopo Kabupaten Pasuruan.

"Kami mendorong seluruh MI di Kecamatan Beji untuk mempersiapkan peserta wisuda tahfidz secara optimal. Ini merupakan momentum penting untuk mengapresiasi hafalan Al-Qur'an anak-anak kita dan memotivasi generasi Qur'ani," ujar Ketua KKMI dalam sambutannya.

Persiapan meliputi verifikasi data peserta, latihan tata upacara, hingga koordinasi teknis dengan panitia tingkat kabupaten.

2. Pembinaan Pengawasan TKA Bersama Kankemenag

Agenda kedua adalah persiapan Pembinaan Pengawasan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diselenggarakan oleh KKMI Kabupaten Pasuruan bekerja sama dengan Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Pasuruan.

Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan pelaksanaan TKA berjalan secara objektif, transparan, dan akuntabel. KKMI Kecamatan Beji akan mengoordinasikan sosialisasi teknis, simulasi, serta pendampingan bagi operator dan pengawas madrasah di tingkat kecamatan.

3. Perencanaan Workshop KBC bagi Guru dan Kepala Madrasah

Agenda ketiga adalah perencanaan Workshop KBC (Kurikulum dan Budaya Kelas) bagi guru dan kepala madrasah se-KKMI Kecamatan Beji yang akan difasilitasi oleh Pengawas Madrasah.

Workshop ini dirancang untuk memperkuat pemahaman pendidik terhadap implementasi kurikulum terkini, strategi pembelajaran aktif, serta penguatan budaya positif di lingkungan madrasah. "Investasi terbesar dalam pendidikan adalah peningkatan kompetensi guru. Melalui workshop ini, kami harap kualitas pembelajaran di kelas semakin meningkat," tambah beliau.

Komitmen Bersama untuk Madrasah Lebih Baik

Rapat koordinasi ini ditutup dengan komitmen bersama seluruh peserta untuk menyukseskan setiap agenda KKMI. Para kepala madrasah menyambut positif langkah strategis ini dan menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi demi terwujudnya madrasah yang unggul, berakhlak, dan berdaya saing.

Dengan sinergi yang kuat antara KKMI Kecamatan, Kankemenag, dan seluruh madrasah, diharapkan pelayanan pendidikan madrasah di Kecamatan Beji semakin berkualitas dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital.

3S: Gerbang Awal Kedekatan Batin, Landasan Kokoh Penguatan Karakter Peserta Didik

 

Di tengah deru transformasi pendidikan yang semakin berorientasi pada teknologi, standar kompetensi, dan hasil terukur, sering kali kita lupa bahwa hakikat pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Justru di ruang-ruang paling sederhana seperti gerbang sekolah, koridor, atau depan kelas, tersembunyi kekuatan yang mampu mengubah wajah pembelajaran. Kekuatan itu bernama 3S: Senyum, Sapa, dan Salam. Bukan sekadar rutinitas atau seremoni administratif, 3S sesungguhnya merupakan gerbang awal yang membuka jalan menuju kedekatan batin antara pendidik dan peserta didik. Dari kedekatan inilah, karakter unggul perlahan tumbuh dan mengakar kuat dalam diri generasi penerus bangsa.

Hakikat 3S sebagai Bahasa Universal Kasih Sayang

Senyum bukan sekadar lekukan bibir, melainkan sinyal penerimaan tanpa syarat. Sapa bukan hanya ucapan basa-basi, tetapi pengakuan atas keberadaan dan harga diri seorang anak. Salam pun bukan formalitas budaya atau agama semata, melainkan ikatan moral yang menyatukan dalam rasa hormat dan kebersamaan. Ketika ketiganya dilakukan secara tulus, 3S menjadi bahasa universal yang melampaui batas usia, status, dan latar belakang.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, interaksi positif seperti ini menciptakan rasa aman psikologis (psychological safety). Otak manusia baru dapat belajar optimal dan hati baru terbuka terhadap nilai-nilai kebaikan ketika ia merasa diterima, dilihat, dan dihargai. 3S, dengan kesederhanaannya, secara ilmiah dan praktis menjadi katalis bagi terciptanya iklim sekolah yang kondusif bagi tumbuh kembang holistik peserta didik.

Membangun Kedekatan Batin Melalui Konsistensi dan Keikhlasan

Kedekatan batin tidak lahir dari instruksi, melainkan dari ketulusan yang diulang setiap hari. Saat guru menyapa siswa dengan menyebut namanya, menatap mata, dan menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, pesan yang tersampaikan jelas: “Kamu penting. Kamu dilihat. Kamu dihargai.” Respons emosional siswa terhadap perlakuan ini sering kali menjadi titik balik. Siswa yang merasa dipahami cenderung lebih terbuka, berani bertanya, mau mengakui kesalahan, dan siap menerima arahan konstruktif. Sebaliknya, siswa yang diabaikan atau diperlakukan secara mekanis cenderung menutup diri, defensif, atau bahkan menunjukkan perilaku resisten.

Di sinilah 3S berperan sebagai jembatan emosional yang menghubungkan dunia rasional dan afektif peserta didik. Ia mengubah relasi guru-siswa dari yang bersifat transaksional menjadi relasional, menciptakan ruang aman di mana peserta didik berani menjadi diri sendiri, berekspresi, dan tumbuh tanpa takut dihakimi.

Dari Kedekatan Batin Menuju Penguatan Karakter

Karakter tidak diajarkan melalui ceramah satu arah, melainkan ditularkan melalui keteladanan, pembiasaan, dan pengalaman berulang. Kedekatan batin yang terbangun lewat 3S menjadi tanah subur bagi penanaman nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK): religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Contoh nyata: siswa yang terbiasa disapa dengan hormat akan belajar menghargai orang lain. Siswa yang menerima senyum tulus akan mengembangkan empati dan kepercayaan diri. Siswa yang merespons salam dengan penuh kesadaran akan menginternalisasi nilai kesantunan, tanggung jawab sosial, dan etika komunikasi. Dengan kata lain, 3S adalah mikro-praktik yang membawa dampak makro. Ketika karakter kuat telah mengakar, peserta didik tidak hanya siap menghadapi ujian akademik, tetapi juga ujian kehidupan yang sesungguhnya: bagaimana bersikap di tengah perbedaan, bagaimana tetap jujur saat diawasi, dan bagaimana berkontribusi positif bagi masyarakat.

Penutup

Tiga kata sederhana—Senyum, Sapa, Salam—mungkin terkesan remeh di permukaan, tetapi dampaknya menyentuh inti dari proses pendidikan. Ia adalah gerbang awal yang membuka pintu hati, jembatan yang menghubungkan pendidik dan peserta didik dalam ikatan batin yang tulus, serta fondasi kokoh tempat karakter unggul ditumbuhkembangkan.

Di era yang semakin kompleks dan penuh distraksi ini, justru kesederhanaan 3S menjadi penawar yang paling efektif. Mari kita jadikan 3S bukan lagi sekadar gerakan seremonial atau kewajiban administratif, melainkan napas harian pendidikan. Karena di balik setiap senyum yang tulus, setiap sapa yang hangat, dan setiap salam yang khidmat, tersimpan potensi besar untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur secara batin, tangguh secara mental, dan berkarakter mulia. Pendidikan sejati dimulai dari hati, dan 3S adalah kunci pertama yang membukanya.

Giat Sambut Pagi

 

1. Pengantar & Konteks

Sambutan salam pagi bukan sekadar prosedural administratif, melainkan intervensi edukatif berbasis rutinitas yang berfungsi sebagai transitional ritual (ritual peralihan) dari lingkungan rumah ke lingkungan sekolah. Dalam praktik di Indonesia, kegiatan ini sering diintegrasikan dengan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), literasi pagi, atau kegiatan pembiasaan nilai.

2. Dampak Positif terhadap Pendidikan

Dimensi

Dampak

Mekanisme Kerja

Psikologis & Emosional

Menurunkan kecemasan pagi, meningkatkan rasa aman & regulasi emosi

Interaksi wajah-ke-wajah, kontak mata, dan sapaan personal memicu respons oksitosin dan menurunkan kortisol, menciptakan psychological safety sebelum pembelajaran dimulai.

Sosial & Relasional

Memperkuat ikatan guru-siswa, membangun budaya inklusif & saling menghargai

Rutinitas ini memutus hierarki kaku, menormalisasi komunikasi positif, dan memberi sinyal bahwa setiap siswa "dilihat" dan dihargai keberadaannya.

Pembentukan Karakter

Internalisasi nilai sopan santun, disiplin, religiusitas, & empati

Pembiasaan konsisten menjadi moral habituation. Jika disertai pesan nilai singkat (mis. kutipan, refleksi harian), memperkuat dimensi Akhlak & Gotong Royong dalam Profil Pelajar Pancasila.

Kesiapan Kognitif & Akademik

Meningkatkan fokus, partisipasi kelas, & retensi memori

Transisi emosional yang stabil memungkinkan working memory lebih optimal. Siswa yang merasa dihargai cenderung lebih berani bertanya dan terlibat dalam pembelajaran aktif.

Iklim Sekolah (School Climate)

Menurunkan insiden perundungan, meningkatkan kehadiran & sense of belonging

Budaya sapa pagi yang konsisten menciptakan norma sosial positif. Penelitian menunjukkan korelasi kuat antara iklim sekolah yang hangat dengan penurunan dropout dan peningkatan engagement.


️ 3. Tantangan & Risiko Implementasi

  1. Formalisme Tanpa Makna: Jika hanya bersifat seremonial, mekanis, atau dipaksakan tanpa kehadiran emosional guru, rutinitas ini kehilangan dampak edukatif.
  2. Beban Waktu & Logistik: Di sekolah dengan jumlah siswa besar, sambutan pagi bisa menjadi tidak merata atau mengganggu persiapan mengajar jika tidak terkelola baik.
  3. Kurang Diferensiasi: Siswa dengan kecemasan sosial, trauma, atau kebutuhan khusus mungkin merasa tidak nyaman dengan kontak fisik/sapaan langsung tanpa pendekatan yang adaptif.
  4. Tidak Terintegrasi dengan Pembelajaran: Jika berdiri sendiri tanpa tindak lanjut di kelas atau tanpa refleksi, dampaknya bersifat sementara (short-term affect).

4. Strategi Optimalisasi

Area

Rekomendasi Praktis

Desain Aktivitas

Variasikan format: sapaan verbal, senam ringan 3 menit, literasi mikro (baca 1 paragraf/refleksi), atau check-in emosi sederhana (mis. mood meter).

Pelatihan Guru

Latih guru dalam positive communication, teknik active listening, dan pengenalan tanda-tanda distres emosional siswa.

Integrasi Kurikulum

Kaitkan dengan projek P5, jurnal refleksi mingguan, atau diskusi kelas tentang nilai yang disuarakan saat sapa pagi.

Fleksibilitas & Inklusivitas

Beri opsi sapaan non-fisik (lambaian, senyum, kartu nama) bagi siswa yang kurang nyaman dengan kontak langsung. Libatkan siswa sebagai peer greeter secara bergilir.

Evaluasi Berkala

Gunakan survei iklim sekolah sederhana, observasi partisipasi, dan catatan guru BK untuk mengukur dampak jangka panjang.

5. Kesimpulan

Sambutan salam pagi berpotensi menjadi strategi rendah biaya namun berdampak tinggi (high-impact, low-cost intervention) apabila:

  • Dirancang dengan intentionalitas pedagogis, bukan sekadar rutinitas administratif.
  • Dilaksanakan secara konsisten, autentik, dan responsif terhadap kondisi emosional siswa.
  • Terintegrasi dengan ekosistem karakter & pembelajaran di dalam kelas.

Dalam konteks pendidikan Indonesia yang semakin menekankan well-being, profil Pelajar Pancasila, dan pembelajaran holistik, sapa salam pagi bukan lagi "tambahan", melainkan fondasi mikro-kultur sekolah yang mendukung keberhasilan akademik dan perkembangan karakter jangka panjang.

Syawal _ Halal Bihalal Keluarga Besar KKMI & IGRA Beji di Graha PCNU Bangil

 

BEJI– Suasana penuh kekeluargaan menyelimuti Gedung Graha PCNU Bangil pada Kamis, 2 April 2026 (13 Syawal 1447 H). Ratusan pendidik yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) dan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kecamatan Beji berkumpul untuk merayakan momentum Idulfitri dalam acara Halalbihalal yang berlangsung khidmat sekaligus meriah.


​Acara ini dihadiri oleh deretan tokoh penting, di antaranya:

  • Bapak H. Bustanul Arifin. S.Pd.I., M.Pd. (Kasi Pendma Kemenag Kab. Pasuruan)
  • KH. Taufik Jalil, MM. (Wakil Ketua PWNU Jawa Timur)
  • Drs. Eddy Supriyanto MM. (Ketua PCNU Bangil)
  • Ketua KKMI dan IGRA
  • Jajaran Pengurus PCNU Bangil
  • Pengawas MI dan IGRA Kecamatan Beji
  • ​Seluruh Kepala Madrasah dan Bapak/Ibu Guru se-Kecamatan Beji.

​Ketua KKMI Beji sekaligus Kepala MIN 1 Pasuruan, Bapak Abdul Qodir, S.Pd.I., M.Pd., yang juga mengemban amanah sebagai Pimpinan NU Kecamatan Prigen, tampak sangat antusias. Beliau menyatakan rasa bangganya atas suksesnya acara ini meski jadwal kegiatan sangat padat.

​"Kebersamaan ini adalah energi kita. Di tengah kesibukan sekolah, termasuk adanya Simulasi Olimpiade Mapel Agama di MIN 1 Pasuruan dan Beji hari ini, kita tetap mampu menjaga silaturahim dengan solid," ujar beliau dengan wajah berseri.

​Dalam sambutannya, para pimpinan menekankan pentingnya peran guru madrasah. Selain sebagai ajang maaf-memaafkan, acara ini menjadi pengingat bagi para guru MI dan IGRA untuk tetap kokoh dan istiqomah dalam membimbing moral serta ilmu pengetahuan murid-murid di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan.

Kejutan Budaya: Tari Rodat Syi’iran

​Kemeriahan acara memuncak saat panggung diisi oleh penampilan seni yang unik. Empat siswi bertalenta dari MIN 1 Pasuruan—Bilqis (6B), Faza (6B), Zeina (5B), dan Eva (5B)—memukau hadirin dengan tarian baru berjudul "Rodat Syi’iran".

​Gerakan yang enerjik berpadu dengan nuansa religius hasil bimbingan pembina mereka sukses memanen tepuk tangan meriah dari seluruh undangan yang hadir. Tarian ini menjadi simbol bahwa kreativitas siswa madrasah terus berkembang seiring zaman.


Penutup yang Khidmat

​Acara ditutup dengan sesi ta’dim (penghormatan) dan ramah tamah. Para guru dan tokoh masyarakat tampak berbaur menikmati hidangan sambil bercengkrama hangat, memperkuat tali persaudaraan yang selama ini telah terjalin kuat di Kecamatan Beji.

Selesai acara Halalbihalal melanjutkan silaturahim ke ketua paguyuban MIN 1 Pasuruan ibu Hj. Kamsiati 

​Semoga semangat Halalbihalal ini membawa berkah bagi kemajuan pendidikan madrasah di Kabupaten Pasuruan, khususnya MIN 1 Pasuruan. Fz











MIN 1 Pasuruan Gelar Pembinaan Intensif dan Simulasi OLIMPABA Jatim 2026




BERITA MADRASAH

Pasuruan, 2 April 2026 – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan menggelar kegiatan pembinaan intensif sekaligus simulasi Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab (OLIMPABA) Tingkat Provinsi Jawa Timur, bertempat di aula madrasah, Kamis (2/4/2026). Kegiatan ini merupakan persiapan akhir menjelang babak penyisihan OLIMPABA.

.

Fokus Persiapan Menuju Babak Penyisihan

Kegiatan yang diikuti oleh 5 siswa   MIN 1 Pasuruan ini difokuskan pada penguatan materi kompetensi, teknik menjawab soal, serta simulasi ujian berbasis komputer untuk membiasakan peserta dengan sistem pelaksanaan olimpiade. Pembinaan materi mencakup tiga bidang lomba: Olimpiade PAI, Bahasa Arab, dan Kaligrafi, sesuai dengan kategori yang diperlombakan di tingkat provinsi

"Kami ingin memastikan siswa tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki mental juara dan kesiapan teknis saat menghadapi kompetisi sesungguhnya," ujar Kepala MIN 1 Pasuruan dalam sambutannya.

Materi Pembinaan Komprehensif

Tim pembina yang terdiri dari guru-guru berprestasi MIN 1 Pasuruan menyampaikan materi-materi strategis, antara lain:

  • PAI: Fiqih, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Al-Qur'an Hadis
  • Bahasa Arab: Qawaid, Muhadatsah, Kitabah, dan Qira'ah
  • Simulasi CBT: Latihan soal dengan timer

Dengan bekal tersebut, madrasah optimis dapat mengirimkan wakil terbaiknya ke babak final OLIMPABA Jatim yang dijadwalkan pada 11 April 2026

Harapan ke Depan

MIN 1 Pasuruan menargetkan minimal 3 siswa lolos ke babak final dan meraih juara di tingkat provinsi. "Ini bukan sekadar lomba, tapi bagian dari ikhtiar kami mencetak generasi Qur'ani yang kompetitif secara akademik," tutup Kapala  MIN 1 Pasuruan.

LAPORAN KEGIATAN PENGUATAN KARAKTER DAN AKADEMIK PASCA RAMADAN 1447 H

 

Dokumentasi : Pak Nanang

LAPORAN KEGIATAN PENGUATAN KARAKTER DAN AKADEMIK PASCA RAMADAN 1447 H

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Bulan Ramadan 1447 H telah berlalu dengan berbagai kegiatan ibadah yang intensif dilaksanakan oleh warga madrasah. Momentum Ramadan seharusnya tidak berhenti seiring berakhirnya bulan suci, melainkan menjadi titik awal untuk memperkuat (penguatan) nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan prestasi akademik.

MIN 1 Pasuruan memandang perlu adanya program strategis pasca Ramadan untuk menjaga ghirah (semangat) keagamaan siswa, mengevaluasi program Ramadan, serta meningkatkan mutu pembelajaran menuju akhir tahun ajaran. Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban dan dokumentasi atas pelaksanaan program penguatan tersebut.

B. Dasar Pelaksanaan

  1. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  2. Program Kerja MIN 1 Pasuruan Tahun Pelajaran 2025/2026.
  3. Hasil Rapat Dewan Guru dan Komite Madrasah tanggal [Tanggal] Syawal 1447 H.

C. Tujuan

  1. Memelihara kebiasaan ibadah siswa (Shalat Dhuha, Dzuhur berjamaah, Tadarus) pasca Ramadan.
  2. Meningkatkan kedisiplinan kehadiran siswa dan guru setelah libur Idul Fitri.
  3. Melakukan evaluasi terhadap program Pesantren Kilat/Tadarus selama Ramadan.
  4. Mempererat silaturahmi antara madrasah, orang tua, dan komite (Halal Bihalal).

II. PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Waktu dan Tempat

  • Waktu: 30 Maret 2026
  • Tempat: Lingkungan MIN 1 Pasuruan (Kelas, Musholla Madrasah)

B. Peserta

  1. Seluruh Siswa Kelas I – VI: [Jumlah] Siswa
  2. Dewan Guru dan Tenaga Kependidikan: [Jumlah] Orang
  3. Perwakilan Orang Tua/Komite Madrasah

C. Bentuk Kegiatan Penguatan

  1. Halal Bihalal & Silaturahmi Keluarga Besar MIN 1 Pasuruan
    • Kegiatan saling memaafkan antara kepala madrasah, guru, siswa, dan orang tua.
    • Penyampaian visi misi penguatan madrasah semester genap.
  2. Evaluasi Program Ramadan (Monev)
    • Review buku monitoring ibadah siswa selama Ramadan.
    • Pemberian apresiasi (reward) bagi siswa dengan capaian ibadah terbaik selama Ramadan.
  3. Gerakan "Madrasah Bercahaya" (Pasca Ramadan)
    • Wajib Shalat Dhuha dan Dzuhur Berjamaah di Musholla Madrasah.
  4. Penguatan Akademik (Recovery Learning)
    • Pengayaan materi bagi siswa yang tertinggal selama bulan puasa.

III. HASIL YANG DICAPAI

Berdasarkan monitoring dan evaluasi selama periode pasca Ramadan, diperoleh hasil sebagai berikut:

No

Indikator Penguatan

Target

Realisasi

Keterangan

1

Kehadiran Siswa

95%

98%

[Stabil/Meningkat]

2

Pelaksanaan Shalat Berjamaah

100%

100%

[Sangat Baik]

3

Pengumpulan Buku Monitoring Ramadan

100%

90%

[Selesai]

4

Partisipasi Infaq/Sedekah

Aktif

100%

[Meningkat]

5

Suasana Belajar Mengajar

Kondusif

Kondusif

[Baik]

IV. EVALUASI DAN KENDALA

A. Keberhasilan

  1. Antusiasme siswa dalam mengikuti shalat berjamaah sangat tinggi dibandingkan sebelum Ramadan.
  2. Terjalinnya komunikasi yang lebih baik antara wali murid dan wali kelas saat acara Halal Bihalal.
  3. Lingkungan madrasah terasa lebih religius dengan budaya salam, sapa, dan doa sebelum belajar.

B. Kendala/Hambatan

  1. Beberapa siswa masih terlihat masih izin karena kurang sehat badan datau kepentingan lain.
  2. Keterbatasan tempat di musholla untuk shalat berjamaah bagi kelas bawah secara bersamaan.
  3. Masih ada siswa yang belum melengkapi buku monitoring ibadah Ramadan.

C. Solusi yang Diberikan

  1. Pembelajaran minggu pertama difokuskan pada ice breaking dan penguatan motivasi.
  2. Penjadwalan ulang giliran shalat berjamaah antar kelas.
  3. Diberikan tenggang waktu pengumpulan buku monitoring dengan bimbingan guru PAI.

V. RENCANA TINDAK LANJUT (RTL)

Untuk memastikan program penguatan ini berkelanjutan, maka ditetapkan langkah berikut:

  1. Monitoring Berkala: Tim Kurikulum dan Kesiswaan akan melakukan cek rutin ibadah siswa setiap bulan.
  2. Sinergi Orang Tua: Mengajak orang tua untuk memantau ibadah anak di rumah melalui grup WhatsApp kelas.

VI. PENUTUP

Demikian laporan penguatan MIN 1 Pasuruan pasca Ramadan 1447 H ini disusun. Semoga momentum kemenangan Idul Fitri dapat menjadi landasan kuat untuk mencetak generasi yang Berakhlak Mulia, Cerdas, dan Kompetitif. Kami menyadari laporan ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.

Foto Penunjang : Dok. P. Nanang




PELUNCURAN DAN PENATAAN KANTIN LITERASI

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA PASURUAN

MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) 1

PASURUAN

LAPORAN KEGIATAN

PELUNCURAN DAN PENATAAN KANTIN LITERASI

TIM LITERASI MIN 1 PASURUAN


I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Minat baca peserta didik merupakan fondasi utama dalam keberhasilan pembelajaran. Untuk menumbuhkan budaya baca yang menyenangkan dan tidak terpaku hanya di dalam kelas, Tim Literasi MIN 1 Pasuruan berinisiatif memanfaatkan waktu istirahat di area kantin sebagai momen emas untuk literasi. Program "Kantin Literasi" dirancang untuk mengubah persepsi bahwa kantin hanya tempat makan, melainkan juga tempat "memakan" ilmu melalui bacaan ringan.


1.2 Tujuan

1. Meningkatkan minat baca siswa melalui pendekatan yang santai dan menyenangkan.

2. Memanfaatkan waktu istirahat secara produktif.

3. Menciptakan lingkungan madrasah yang kaya teks dan informasi.


II. PELAKSANAAN KEGIATAN


Hari/Tanggal: Jumat, 27 Maret 2026

Waktu: 07.00 – 12.00 WIB

Tempat:Area Kantin dan Lingkungan Sekitarnya, MIN 1 Pasuruan

Penyelenggara:Tim Literasi MIN 1 Pasuruan

Peserta:Seluruh warga madrasah (Siswa, Guru, dan Tenaga Kependidikan)


III. URAIAN FUNGSI KANTIN LITERASI


Kantin Literasi yang telah didirikan pada tanggal 27 Maret 2026 ini memiliki fungsi strategis yang diuraikan sebagai berikut:


1.  Pojok Baca Santai (Reading Corner)

    Uraian: Menyediakan rak buku mini, majalah dinding, dan koran anak di area tunggu antrian atau meja makan kantin.

    Manfaat: Siswa dapat membaca komik edukasi, cerpen, atau fakta unik sambil menunggu makanan atau setelah makan, sehingga waktu istirahat tidak terbuang percuma.

2.  Pameran Karya Siswa (Student Work Gallery)

    Uraian: Dinding kantin difungsikan sebagai galeri untuk memajang puisi, gambar, cerpen, atau hasil proyek siswa terbaik.

    Manfaat: Memberikan apresiasi kepada siswa berbakat dan memotivasi siswa lain untuk berkarya agar karyanya juga dipajang.

3.  Pusat Informasi Madrasah (Information Hub)

    Uraian: Papan pengumuman digital atau manual yang berisi jadwal kegiatan, prestasi terbaru, dan agenda madrasah.

    Manfaat: Memastikan seluruh siswa mendapatkan informasi terkini secara visual dan mudah diakses di tempat berkumpulnya siswa.

4.  Ruang Interaksi Sosial Positif (Social Interaction Space)

    Uraian: Area diskusi kecil di mana siswa dapat membahas buku yang baru saja mereka baca dengan teman sebayanya.

    Manfaat: Melatih kemampuan berkomunikasi, berdiskusi, dan bertukar pikiran dalam suasana non-formal.

5.  Pendidikan Karakter (Character Building)

    Uraian Penempelan slogan-slogan literasi, kata mutiara, dan adab makan sesuai tuntunan agama di sekitar area kantin.

    Manfaat: Menginternalisasi nilai-nilai karakter dan keislaman secara tidak langsung (hidden curriculum) setiap kali siswa berkunjung ke kantin.

IV. SAMBUTAN DAN RESPON KEPALA MADRASAH


Bapak Kepala Madrasah MIN 1 Pasuruan, Abdul Qodir, S.Pd.I, M.Pd mebdukung penuh kegiatan peresmian dan penataan Kantin Literasi ini. Beliau menyambut baik dan memberikan dukungan penuh terhadap inovasi yang digagas oleh Tim Literasi.

Dalam arahannya, Bapak Abdul Qodir menyatakan:

"Saya sangat mengapresiasi inisiatif Tim Literasi MIN 1 Pasuruan. Kantin Literasi ini bukan sekadar hiasan, melainkan strategi cerdas untuk membudayakan literasi tanpa membebani siswa. Saya berharap fasilitas ini dirawat dengan baik dan benar-benar dimanfaatkan oleh siswa untuk menambah wawasan. Madrasah harus menjadi rumah yang nyaman bagi tumbuhnya intelektual dan akhlak mulia."

Dukungan kepala madrasah ini ditandai dengan pemotongan pita peresmian dan kunjungan keliling untuk meninjau bahan bacaan yang tersedia.

V. PENUTUP

Demikian laporan kegiatan peluncuran Kantin Literasi ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban Tim Literasi MIN 1 Pasuruan. Besar harapan kami agar program ini dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu literasi madrasah.


Pasuruan, 27 Maret 2026


Ketua Tim Literasi

Perkuat Kinerja Pasca Idul Fitri 1447 H, ASN MIN 1 Pasuruan Gelar Silaturahmi

 

Laporan : Silaturrahmi KLIK untuk mengunduh versi word

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Idul Fitri 1447 H merupakan moment suci yang menjadi tonggak pembaharuan spiritual bagi umat Islam. Setelah melewati bulan Ramadhan penuh ibadah, momentum ini diharapkan dapat membangkitkan semangat kerja yang lebih tinggi. Di lingkungan MIN 1 Pasuruan, pasca libur Idul Fitri seringkali menjadi tantangan untuk mengembalikan fokus dan konsentrasi kerja ASN (Aparatur Sipil Negara). Diperlukan sebuah wadah untuk menyatukan visi dan mempererat hubungan kekeluargaan yang sempat renggang akibat jarak fisik selama masa libur. Oleh karena itu, susunan guru MIN 1 Pasuruan menginisiasi kegiatan silaturahmi sebagai upaya penguatan kinerja.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam laporan ini adalah:

  1. Bagaimana pelaksanaan kegiatan silaturahmi ASN MIN 1 Pasuruan pada tanggal 25 -26 Maret 2025?
  2. Bagaimana dampak kegiatan silaturahmi terhadap penguatan kinerja pasca Idul Fitri?

1.3 Tujuan Penulisan Penulisan laporan ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan jalannya kegiatan silaturahmi kepada Pengawas, Kepala Madrasah, dan Guru.
  2. Menjelaskan manfaat kegiatan dalam membangun kembali semangat kerja dan soliditas tim.

1.4 Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan laporan ini adalah:

  1. Sebagai dokumen pertanggungjawaban kegiatan.
  2. Sebagai bahan evaluasi untuk kegiatan serupa di tahun berikutnya.
  3. Sebagai bukti konkret upaya peningkatan kinerja ASN di MIN 1 Pasuruan.

BAB II. LANDASAN TEORI / TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Silaturahmi dalam Islam Silaturahmi berasal dari kata shillah (hubungan) dan rahim (rahmat/keluarga). Secara istilah, silaturahmi adalah usaha menghubungkan kasih sayang antar sesama. Dalam konteks kelembagaan, silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan kekerabatan, tetapi juga hubungan kerja (work relationship).

2.2 Kinerja ASN Pasca Libur Menurut Manajemen Sumber Daya Manusia, efektivitas kerja karyawan pasca libur panjang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Teori Group Cohesiveness menyatakan bahwa semakin kuat ikatan emosional antar anggota kelompok, semakin tinggi pula produktivitas kelompok tersebut. Silaturahmi menjadi media untuk meningkatkan kohesivitas tersebut.

BAB III. METODE PENELITIAN / PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat Kegiatan silaturahmi dilaksanakan pada:

  • Hari : Selasa- Rabu
  • Tanggal : 25-26 Maret 2025
  • Tempat : MIN 1 Pasuruan / Rumah Pengawas / Rumah Kamad dan guru

3.2 Peserta Peserta yang hadir dalam kegiatan ini meliputi:

  1. Pengawas Madrasah Kecamatan Beji.
  2. Kepala MIN 1 Pasuruan.
  3. Seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (ASN dan P3K MIN 1 Pasuruan.

3.3 Langkah Kerja / Prosedur Prosedur pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut:

  1. Pembentukan panitia kecil oleh susunan guru.
  2. Penjadwalan dan koordinasi waktu dengan pihak Pengawas dan Kepala Madrasah.
  3. Persiapan konsumsi dan transportasi.
  4. Pelaksanaan silaturahmi secara langsung.
  5. Penutupan dan doa bersama.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Kegiatan berjalan dengan lancar dan khidmat. Data hasil kegiatan sebagai berikut:

  • Jumlah Peserta Hadir : 45 Orang
  • Suasana : Hangat, akrab, dan penuh kekeluargaan.
  • Output : Terjalinnya komunikasi yang lebih baik antara atasan dan bawahan, serta sirnanya gap komunikasi pasca libur.

4.2 Pembahasan Kegiatan silaturahmi ini terbukti efektif sebagai "penyegaran" mental dan sosial bagi ASN MIN 1 Pasuruan. Pembahasan meliputi:

  1. Penguatan Relasi: Diskusi informal yang terjadi selama acara berhasil mencairkan suasana kaku pasca libur. Hal ini sesuai dengan teori kohesivitas kelompok yang disebutkan di Bab II.
  2. Sinkronisasi Kerja: Momentum ini digunakan Kepala Madrasah dan Pengawas untuk memberikan arahan ringan terkait target semester genap, sehingga guru tidak lagi "kehilangan momentum" saat masuk kerja.
  3. Dampak Psikologis: Rasa saling memaafkan yang menjadi esensi Idul Fitri berhasil diaktualisasikan, sehingga beban kerja emosional berkurang dan siap untuk bekerja dengan hati yang bersih.

BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan Kegiatan "Perkuat Kinerja Pasca Idul Fitri 1447 H" yang dilaksanakan pada 25 -26 Maret 2025 telah berhasil mencapai target. Silaturahmi ke Pengawas, Kepala Madrasah, dan sesama guru terbukti mampu membangun kembali energi positif dan soliditas tim kerja MIN 1 Pasuruan.

5.2 Saran Adapun saran untuk kegiatan mendatang adalah:

  1. Waktu pelaksanaan diusahakan lebih pagi agar tidak mengganggu jam mengajar jika dilakukan di hari kerja.
  2. Perlu adanya agenda sharing session yang lebih terstruktur agar masukan dari guru dapat terdokumentasi dengan baik.

C. BAGIAN AKHIR (ENDING)

DAFTAR PUSTAKA

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2019 tentang Penilaian Kinerja PNS.
  2. Modul Pembinaan Kementerian Agama tentang Etos Kerja ASN.

LAMPIRAN

  1. Dokumentasi Foto Kegiatan (Foto bersama Pengawas, Kepala Madrasah, dan Guru).