Oleh : Khotimah, S.Pd.I
Pernahkah terbayang apa yang terjadi di dalam hati seorang anak ketika berdiri di depan gerbang sekolah? Tangannya menggenggam tali tas erat-erat. Matanya mungkin masih mencari wajah yang familiar. Langkahnya tertahan beberapa detik sebelum akhirnya bergerak masuk. Bagi orang dewasa, gerbang mungkin hanya sebuah pintu. Dibuka setiap pagi, dilalui setiap hari, ditutup ketika sekolah usai. Namun bagi seorang anak, gerbang bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ia adalah perbatasan. Perbatasan antara rumah yang nyaman dan dunia sekolah yang penuh dengan hal-hal yang belum tentu bisa ia tebak.
Di rumah, ia tahu siapa yang akan menyambutnya.
Di sekolah, ia akan bertemu teman-teman, pelajaran, aturan, tugas, dan berbagai
pengalaman baru. Maka, melewati gerbang sekolah sesungguhnya bukan sekadar
perpindahan tempat. Bagi sebagian anak, itu adalah perpindahan suasana hati.
Dan di titik itulah, sambutan pagi menjadi begitu berarti.
Sebab anak-anak tidak pernah datang ke
sekolah dengan hati yang benar-benar kosong. Mereka membawa sesuatu dari rumah.
Ada yang membawa kegembiraan karena pagi itu dipeluk ibunya. Ada yang masih
membawa kantuk. Ada yang datang dengan cerita tentang sarapan. Ada yang begitu
bersemangat karena akan bertemu sahabatnya. Tetapi mungkin ada pula yang
membawa sesuatu yang tidak terlihat: kesedihan, kekhawatiran, rasa takut,
kekecewaan, atau sekadar hati yang sedang tidak baik-baik saja. Mereka semua
melewati gerbang yang sama, namun dengan cerita yang berbeda.
Maka ketika seorang Guru berdiri di sana,
tersenyum dan berkata, “Assalamu'alaikum. Selamat Pagi,” sesungguhnya yang
disambut bukan hanya tubuh kecil yang membawa tas. Ada hati yang sedang datang.
Sebuah Senyum yang Berkata, “Aku
Melihatmu.”
Senyum sering kali dianggap sebagai
sesuatu yang kecil. Hanya beberapa detik. Hanya sebuah gerakan sederhana di
wajah. Tetapi bagi seorang anak, senyum dari orang dewasa yang menyambutnya
dapat membawa pesan yang jauh lebih besar: “Aku melihatmu.” “Kamu penting.”
“Kamu diterima di sini.”
Bayangkan seorang anak datang dengan wajah
cemberut. Ia tidak menyapa. Tidak tersenyum. Langkahnya pun berat. Yang sering
kali muncul adalah keinginan untuk segera memperbaiki keadaan. “Kenapa
cemberut?” “Ayo senyum!” “Sudah sekolah kok masih murung?” Padahal mungkin,
anak itu tidak sedang membutuhkan nasihat. Ia hanya sedang membutuhkan waktu.
Maka mungkin, daripada memaksanya mengubah
perasaan, sebuah senyum bisa diberikan terlebih dahulu. Sebuah sapaan. Sebuah
tatapan hangat. Lalu biarkan ia masuk. Berikan ruang untuk menjadi dirinya
sendiri sebelum perlahan kembali baik-baik saja.
Sebab tidak setiap kesedihan seorang anak
harus segera dihilangkan. Terkadang, yang paling dibutuhkan hanyalah seseorang
yang membuatnya tahu bahwa ia tidak harus menghadapi kesedihannya sendirian.
Ketika Senyum Menjadi Sedekah
Islam memiliki cara yang begitu indah
dalam mengajarkan kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Tabassumuka fī wajhi akhīka laka ṣadaqah.
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.”
(HR. Tirmidzi)
Senyum. Tidak mahal. Tidak membutuhkan
waktu lama. Tidak membutuhkan kemampuan khusus. Namun ternyata bernilai
sedekah.
Maka ketika seorang Guru tersenyum
menyambut anak-anak setiap pagi, dari luar mungkin tampak seperti rutinitas
sederhana. Padahal bisa jadi, ia sedang menanam kebaikan yang tidak sederhana.
Satu senyum untuk satu anak. Satu salam untuk satu hati. Satu sapaan untuk satu
langkah kecil yang sedang dimulai.
Jika puluhan bahkan ratusan anak melewati
gerbang setiap pagi, puluhan bahkan ratusan pula senyum dan salam bertebaran di
sana. Barangkali, gerbang sekolah bukan hanya tempat anak-anak memasuki ruang
belajar. Barangkali, gerbang itu juga menjadi tempat sedekah-sedekah kecil
bertebaran setiap pagi.
Salam yang Bukan Sekadar Sapaan
Ada satu kata yang begitu akrab di
telinga: Assalamu'alaikum. Karena terlalu sering mengucapkannya, terkadang maknanya
menjadi terasa biasa. Padahal salam bukan sekadar sapaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Afsyus-salāma bainakum.
“Sebarkanlah salam di antara kalian.”
(HR. Muslim)
Salam membawa doa keselamatan. Maka ketika
seorang Guru mengucapkan, “Assalamu'alaikum, Nak,” sesungguhnya ia sedang
mengatakan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar “selamat pagi”.
Seolah ada doa yang sedang dititipkan: “Semoga Allah menjagamu hari ini. Semoga
langkahmu dipenuhi keselamatan. Semoga hatimu tenang dalam menuntut ilmu.”
Sebuah doa yang mungkin hanya berlangsung
beberapa detik. Namun siapa tahu, doa itu menjadi bekal yang menemani langkah
seorang anak sepanjang hari.
Jika salam adalah doa, maka senyum adalah
wajah yang menyertai doa itu. Salam menghangatkan kata. Senyum menghangatkan
suasana. Keduanya sederhana, tetapi ketika diberikan dengan ketulusan, keduanya
mampu menciptakan ruang yang jauh lebih manusiawi bagi anak.
Ketika Anak Datang dengan Tangisan
Namun gerbang sekolah tidak selalu
menyambut wajah-wajah ceria. Ada hari ketika seorang anak datang sambil
menangis. Ada yang tidak mau melepaskan tangan ayah atau ibunya. Ada yang
menunduk. Ada yang marah. Ada yang diam sepanjang perjalanan menuju kelas.
Di sinilah menjadi seorang pendidik tidak
cukup hanya dengan menguasai materi pelajaran. Sebab yang datang ke hadapan
seorang ustadz atau ustadzah bukan sekadar peserta didik. Mereka adalah manusia
kecil dengan emosi yang sedang tumbuh.
Perasaan mereka seperti ombak. Kadang
tenang. Kadang naik turun. Kadang datang begitu besar hingga mereka sendiri
tidak tahu bagaimana cara mengendalikannya.
Dan tugas seorang pendidik bukan selalu
menghentikan ombak itu. Terkadang, tugasnya hanya menjadi dermaga. Tempat
seorang anak berhenti sejenak. Tempat ia merasa aman. Tempat ia boleh menangis
tanpa segera disalahkan. Tempat ia boleh diam tanpa dipaksa bercerita.
Mungkin cukup dengan mendekat. Menatap
matanya. Lalu berkata pelan, “Assalamu'alaikum. Selamat pagi, Nak. Bu Cuz di
sini.” Tidak panjang. Tidak menggurui. Tetapi mungkin cukup untuk membuat
seorang anak berpikir, “Aku aman.”
Tak Pernah Ada yang Tahu Apa yang
Dibawa Anak dari Rumah
Tak pernah ada yang benar-benar tahu apa
yang dibawa seorang anak ketika melewati gerbang sekolah. Mungkin pagi tadi ia
dimarahi. Mungkin semalam ia sulit tidur. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya
takut. Mungkin ia sedang merasa tidak cukup baik. Mungkin ia sedang merindukan
seseorang. Atau mungkin tidak terjadi apa-apa. Ia hanya sedang lelah.
Yang tampak hanyalah langkah kecil yang
memasuki gerbang. Namun di balik langkah itu, ada dunia kecil yang tidak selalu
bisa terbaca.
Karena itu, sambutan menjadi penting.
Bukan untuk menyelesaikan semua masalah yang dibawa dari rumah. Bukan pula
untuk memaksa anak segera bahagia. Tetapi untuk memberikan sebuah pesan
sederhana: “Apa pun yang sedang kamu rasakan, kamu tetap diterima di sini.”
Gerbang Pertama Pendidikan
Sering kali pendidikan dianggap dimulai
ketika Guru masuk kelas, membuka buku, lalu menyampaikan materi. Padahal mungkin
pendidikan telah dimulai jauh sebelumnya. Di gerbang.
Ketika seorang Bapak Guru menyapa seorang
anak. Ketika seorang Ibu Guru tersenyum kepada murid yang datang dengan wajah
murung. Ketika seorang pendidik memilih menyambut daripada menghakimi.
Di sanalah anak belajar tentang adab.
Tentang keramahan. Tentang menghargai orang lain. Tentang bagaimana
memperlakukan seseorang yang sedang tidak baik-baik saja.
Sebab anak-anak tidak hanya belajar dari
apa yang dikatakan. Mereka juga belajar dari apa yang mereka rasakan ketika
berada bersama orang dewasa di sekitarnya.
Sebelum anak diminta menjadi pribadi yang
ramah, biarkan ia terlebih dahulu merasakan keramahan. Sebelum diajarkan
tentang kasih sayang, biarkan kasih sayang itu terlebih dahulu hadir dalam kesehariannya.
Sebelum berbicara tentang akhlak, biarkan akhlak itu hidup di hadapannya.
Sebab Tak Pernah Ada yang Tahu...
Tak pernah ada yang tahu, mungkin suatu
hari nanti anak-anak itu akan lupa sebagian besar pelajaran yang pernah
disampaikan. Mereka mungkin lupa halaman berapa yang pernah dibaca. Lupa soal
apa yang pernah dikerjakan. Lupa berapa nilai yang pernah didapatkan.
Tetapi boleh jadi mereka akan mengingat
sesuatu yang jauh lebih sederhana. Wajah seorang Pak Guru yang selalu tersenyum
ketika mereka datang. Suara seorang Bu Guru yang selalu berkata,
“Assalamu'alaikum, selamat pagi.” Tatapan hangat yang membuat mereka merasa
diterima.
Dan mungkin, bertahun-tahun kemudian,
ketika mereka telah tumbuh dewasa, ketika mereka telah memiliki kehidupan dan
dunia mereka sendiri, kenangan itu masih tinggal di suatu sudut hati. Kenangan
tentang sebuah sekolah. Tentang gerbang. Tentang salam. Tentang senyum. Tentang
seseorang yang dahulu membuat mereka merasa, “Aku diterima di sini.”
Maka esok pagi, ketika gerbang kembali
dibuka, jangan anggap itu sebagai rutinitas biasa. Jangan hanya membuka
gerbang. Bukalah juga pintu hati. Sambut setiap anak dengan wajah yang cerah.
Tatap matanya. Ucapkan salam. Sebut namanya jika mampu.
Dan jika hari itu ia datang dengan hati yang
tidak baik-baik saja, jangan buru-buru memintanya untuk menjadi baik.
Barangkali cukup dengan mengatakan, “Selamat pagi, Nak. Kamu sudah datang.
Alhamdulillah.”
Karena terkadang, yang dibutuhkan seorang
anak bukan seseorang yang langsung memperbaiki dunianya. Ia hanya membutuhkan
seseorang yang berkata, “Aku melihatmu. Aku menerimamu. Aku ada di sini.”
Dan mungkin itulah makna terdalam dari
sebuah gerbang yang menyambut. Bukan sekadar pintu yang dibuka untuk
tubuh-tubuh kecil yang datang mencari ilmu. Tetapi sebuah pintu yang dibuka
untuk hati-hati kecil yang sedang belajar percaya kepada dunia.
Semoga setiap pagi menjadi awal yang baik.
Semoga setiap salam menjadi doa. Setiap senyum menjadi sedekah. Setiap tatapan
menjadi rasa aman. Dan setiap langkah kecil yang melewati gerbang menjadi
bagian dari perjalanan panjang menuju tumbuhnya generasi yang Berprestasi dan
Berakhlakul Karimah.
No comments:
Post a Comment